Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
INDONESIA adalah tempat pohon-pohon tumbuh menjadi hutan. Tempat burung ular monyet gajah harimau meliarkan hidupnya. Indonesia pula tempat hidup manusia banyak etnis dan kepercayaan, juga tempat terbentuknya adat istiadat dan kampung-kampung. Ada hutan adat ada desa adat.
Indonesia adalah sungai mengalir banyak ikan tawar berenang. Laut biru nelayan melaut mencari ikan berenang di kedalaman. Menjaring-memancing ikan-ikan. Ada terumbu karang yang indah di laut biru Indonesia. Orang dalam-luar bisa liburan itu bernama—snorkeling, atau sejenisnya sebagai gaya modern untuk menikmati alam.
Indonesia adalah sawah-sawah dan gunung-gunung. Tepi bukit. Kaki gunung. Tempat mendaki—menanam yang bagus. Gemah Ripah Loh Jinawi—adalah panggilan yang lain untuk Indonesia. Tapi tidak dengan lukisan I Nyoman ‘Polenk’ Rediasa berjudul Awas Sigap (2023), oil on canvas berukuran 145x200 cm, yang saya lihat, Jumat, 25 Juli 2025, yang dipemarkan di Ruang Pameran Paduraksa Undiksha Singaraja.
Pameran bertajuk “Buda Kecapi : Seni dan Penjelajahan Ke Dalam Diri” itu merupakan serangkaian acara Singaraja Literary Festival (SLF) 2025 dengan konteks yang sama, penyembuhan. Pameran itu dilakukan tiga seniman senior, seperti Ni Nyoman Sani, Putu Fajar Arcana, dan I Nyoman ‘Polenk’ Rediasa.

Lukisan "Sisa-sisa Pembangunan" karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Son
Pada ruang pameran, lukisan Polenk yang berjudul Awas Sigap itu ditempel di dinding dengan posisi lsedemikian rupa agar menyesuaikan dengan tinggi si pelihat, seperti sebuah kesengajaan untuk menentukan posisi untuk fokus, tentang definisi visual Indonesia yang chaos akhir-akhir ini.
Lukisan itu dibuat dengan canvas besar dan nyaris tingginya se-saya. Saya merasakan suasana perjalanan melalui pikiran tentang defisini Indonesia.
Menatap pohon tumbang terbakar dengan seekor burung garuda berdiri celingukan di tunggul kayu dengan lendir merah putih di kakinya, terkesan ada ekspresi kebingunan dengan sebuah tanda tanya besar. Apa yang membuat pepohonan hangus terbakar tumbang menjadi arang, menjadikan tanah botak-gersang?
Seketika definisi saya berubah tentang Indonesia. Di mata saya Indonesia adalah kumpulan arang pepohonan yang rebah habis terbakar. Tanah yang gersang. Sungai yang macet. Laut biru yang menggigil. Kampung-kampung yang terusik. Hutan adat yang terusik. Desa adat yang terusik. Yang menggaris merahkan Indonesia pada ranah sulit hidup yang tinggi, sebagai tempat monyet ular harimau—manusia bingung dan menangis.
Tentang ruang hidup yang semakin mengecil di darat, baik bagi hewan-hewan atau manusia, Indonesia tak gubahnya menjadi laut kesedihan yang lebih asin dari rasa laut yang sebenarnya.
Kemudian pada karya Polenk Rediasa yang kedua berjudul Sisa-sisa Pembangunan (2023), oil on canvas ukuran 100x120 cm itu, seperti petunjuk yang bisa mengantarkan si pengunjung untuk tahu, apa yang membuat tanah menjadi botak gersang. Untuk tahu bahwa semua itu adalah pembangunan.

Lukisan "Awas Sigap" karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Son
Polenk mengumpulkan patahan kayu yang sudah jadi arang dengan lelehan asap terkena hujan, yang mencair seperti nanah pada lukisan Sia-sia Pembangunan. Secara gamblang, di mana kondisi mengerikan itu di canvas, menggambarkan kondisi Kalimantan Timur pasca Ibu Kota Nusantara (IKN) berdiri megah.
Gedung seperti istana itu, dalam hal ini gedung IKN, dihadirkan Polenk, memudahkan pengunjung menebak-nebak tentang lukisannya tentang-seperti apa. Polenk melalui simbol IKN dan pohon terbakar menjadi arang itu, seakan menarik kembali peristiwa apa yang membuat pembangunan IKN bisa berdiri dan dipaksa diterima.
Mari kita tengok hasil penelitian Yayasan Aurigia Nusantara yang dimuat Mongabay.co.id. Di situ disebutkan bahwa kebakaran hutan dan lahan jadi leak Indonesia yang menakutkan. Ada 6,1 juta hektar lahan terbakar di Indonesia selama kurun waktu 2013-2023.
Sebanyak 55% terjadi di Kalimantan dan Sumatera. Kemudian meningkat 10 juta hektar jika dihitung kebakarang di areal yang sama. Titik kebakaran di lokasi baru saja sudah luasnya 3,7 hektar, dan ada 3,3 juta hektar lahan terbakar berulang kali, perkiraan dari dua sampai sebelas kali.
Dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuat catatan bahwa kebakaran disebabkan oleh musim yang buruk dari kemarau panjang atau fenomena El Nino. Sehingga harus dicegah bersama-sama. Harus hati-hati pada musim yang buruk. Atau…
Tapi kondisi kebakaran itu seperti sebuah sirine tentang pembukaan lahan yang serampangan oleh musim, yang dimanfaatkan sebagian pihak kreatif untuk ditanami tumbuhan baru—sebagai sumber ketahanan pangan, misalnya. Atau beton-beton.
Tapi, dari hasil apa Mega Proyek Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur itu terbangun megah berdiri, adalah hasil dari penebangan (deforestasi)—seperti imajinasi Polenk pada dua lukisannya tadi; ada pohon habis terbakar menjadi arang, ada tunggul pohon habis ditebang.
Hasil reportase fwi.or.id menunjukkan bahwa selama tiga tahun, yaitu dari 2018-2021, pembabatan hutan terjadi mencapai 18 ribu hektare di wilayah IKN, mencakup deforestasi sebanyak 14,01 ribu hektare di hutan produksi, 3,14 ribu hektare di Area Pegunungan Lain. Sisanya 807 hektare di Tahura, 9 hektare di hutan lindung, 15 hektare di area lainnya. Adalah kondisi yang mengerikan, dan secara terpaksa IKN mesti diterima. Dan Polenk melalui dua lukisannya itu mengajak semua orang bangkit. Mengajak semua orang mengambil lagi apa yang masih tersisa.
Tapi, tentu, dengan pembabatan hutan seluas itu, bisa dibayangkan ke mana masyarakat adat dan hewan-hewan di sekitarnya atau di dalam hutan itu melangsungkan hidup?
Dari burung garuda di lukisan Awas Sigap 145x200 cm itu sedikitnya menjawab: bingung. Bukan bangkit. [T]
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...