Artikel ini adalah catatan kuratorial paneran seni rupa “Buda Kecapi: Seni dan Penjelajahan ke Dalam Diri” serangkaian Singaraja Literary Festival, 25-27 Juli 2025 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha Singaraja
SENI lukis abstrak memiliki potensi untuk menciptakan ruang persepsi tanpa representasi, sebagai ekspresi batiniah perupa maupun pemirsa. Ia menolak dikurung oleh bahasa dan melepaskan diri dari representasi citra. Seni abstrak juga memiliki aspek sebagai ruang penyembuhan (healing), bahkan spiritualitas. Pendekatan ini melampaui interpretasi logis yang sering membatasi ekspresi batin dan justru mendorong katarsis serta kontemplasi.
Dengan karakteristiknya sebagai seni yang menampakkan aspek nonrepresentasional, seni abstrak menempati posisi khas dalam art healing karena memungkinkan munculnya ekspresi emosi terdalam tanpa batasan citra.
Carl Gustav Jung(1964) dalam Man and His Symbols menyatakan bahwa ketika seseorang menyentuh alam bawah sadar, ia akan berurusan dengan bentuk-bentuk simbolik maupun abstrak yang “bukan produk rasional, melainkan realitas yang hidup, yang mengekspresikan dinamika jiwa.”¹
The Dragon In Your Heart (2025) karya Putu Fajar Arcana
Pandangan ini tercermin kuat dalam karya-karya Putu Fajar Arcana, terutama lukisan The Dragon in Your Heart, yang “secara ritmis ingin menangkap kelebat-kelebat naga yang hidup di dalam hati kita semuanya.”²
Naga, selain menjadi mahkluk mitologis dalam berbagai kebudayaan di dunia seperti dalam kebudayaan Tiongkok dan Bali, dalam karya Putu menjadi simbol arketipal dari kekuatan batin yang bersemayam di ruang psikis terdalam. Naga adalah simbol energi batiniah yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh rasio, namun terasa hadir dan aktif dalam diri manusia.
Seni abstrak berpotensi sebagai art healing seperti yang diungkapkan oleh Shaun McNiff (2004) , yang menyatakan bahwa “abstraksi mengundang citra dan sensasi penyembuhan untuk muncul.”³ Hal ini mengingatkan kita pada karya Putu Fajar Arcana berjudul Safe the Dragon, yang menampilkan abstraksi naga dengan gestur diagonal. Putu menyebutkan bahwa abstraksi naga ini bermanuver ke bumi sebagai pengingat akan perlunya menjaga keseimbangan batin di tengah arus kekuatan destruktif yang mengintai dari luar maupun dalam diri.⁴
Sedangkan dalam karya Dragon Fly, yang menghadirkan paduan warna hitam, putih, dan merah, hadir kekuatan simbolik dari mitos naga Tiongkok yang menggenggam bulan. Warna-warna tersebut dalam tradisi Bali adalah simbol Tri Datu, yang bermakna siklus kehidupan: Upti (penciptaan), Stiti (pemeliharaan), dan Pralina (peleburan).
Safe The Dragon (2025) karya Putu Fajar Arcana
Dragon Fly (2025) karya Putu Fajar Arcana
Melalui abstraksi warna dan gerak, memori kolektif itu disublimkan menjadi citra emosional yang membuka ruang penyembuhan baik kultural maupun personalbahwa segala yang terjadi di dunia ini digerakkan oleh tiga energi semesta yang tercermin dalam Tri Datu, representasi dari Tri Murti: Brahma, Wisnu, dan Siwa.
Rudolf Arnheim ( 1954) dalam Art and Visual Perception menegaskan bahwa unsur-unsur visual seperti warna dan ritme membangkitkan respons emosional mendalam.⁵ Karya Light in the Black Night menghadirkan kekuatan visual semacam ini. Teknik penuangan dan tiupan warna menciptakan impresi gerak yang seolah dihidupkan oleh napas. Berpadu dengan warna Tri Datu (merah, hitam, putih) di atas latar gelap dan gestur tuangan cat yang ekspresif, karya ini memberikan sensasi tersendiri tentang gerak, tentang daya yang menggetarkan di tengah kegelapan.
Berbicara tentang diri berarti berbicara tentang tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan. Maka berbicara tentang healing atau penyembuhan diri berarti membicarakan tentang keselarasan keduanya. Dalam khazanah Bali, harmoni ini terangkum dalam lontar Buda Kecapi, yang menekankan hubungan antara aksara, tubuh, dan alam semesta.
Light In The Black Night (2025) karya Putu Fajar Arcana
A Fish In Lotus (2025) karya Putu Fajar Arcana
A Fish In Lotus (2025) karya Putu Fajar Arcana
Aksara bukan hanya bentuk visual, tetapi juga energi suara dan kesadaran. Seperti dikatakan oleh Dewa Purwita, “Buda Kecapi menguraikan panjang lebar tentang berbagai aksara-aksara suci yang bersemayam di dalam organ-organ tubuh manusia, relasi antara tubuh manusia dengan alam semesta dalam teori mandala.”⁶
Dalam konteks estetika, suara adalah elemen dalam musik; sedangkan dalam seni rupa abstrak, Wassily Kandinsky (1911) tokoh seni lukis, menganggap warna dan bentuk memiliki muatan musikal dan spiritual. Ia menulis: “Color is the keyboard, the eyes are the harmonies, the soul is the piano with many strings.”⁷ Maka tiap elemen visual dan bagaimana proses perupa mengartikulasikannya menjadi bagian dari proses penyembuhan dan pembangkitan kesadaran tentang daya hidup dalam diri.
Karya Angel in Your Mind menjelma seperti partitur kesadaran yang terpecah-pecah. Panel-panel yang terpecah seolah mewakili bagian jiwa yang tercerai-berai karena konflik batin, trauma, atau kegamangan pikiran. Namun, di sanalah letak proses penyembuhan itu dimulai: saat seseorang bersedia menyusun kembali serpihannya dengan kejernihan dan kesadaran sebagai “malaikat penyelamat.” “Keterbukaan pikiran dan kejernihan dalam mengambil keputusan akan membebaskan dari keterpecahan.”⁸
Putu menempatkan karyanya ini bukan hanya sebagai karya individual, tetapi juga interaktif. Ia menawarkan pengalaman batin kepada audiens melalui aktivitas merangkai keping-keping puzzle karyanya, mengajak mereka untuk larut dalam aktivitas tersebut dan menyusun kembali kepingan kepingan jiwa masing-masing.
Circle Of Love (2025) karya Putu Fajar Arcana
A Wild Of Love (2025) karya Putu Fajar Arcana
Dalam karya A Fish in Lotus Flower dan Circle of Love, Arcana mengangkat simbol lotus sebagai padma kebijaksanaan dan cinta. “Keping-keping bunga dan daunnya membentuk lingkaran yang menyerupai mandala.”⁹ Dalam A Wild of Love, mawar menjadi simbol cinta yang “penuh duri, yang bisa melukai siapa saja yang lalai dan tergesa-gesa.”¹⁰ melalui karya ini seperti mengingatkan kita tentang kewaspadaan, mencintai dengan kehadiran, bukan dengan kelengahan dan pengabaian.
Melalui karya-karya yang dihadirkan Putu Fajar Arcana kita dapat melihat bagaimana seni lukis abstrak/abstraksi tidak kehilangan makna hanya karena karakteristiknya yang kian menjauh dari image-image representasional, dengan warna, komposisi, teknik , hingga simbol yang dihadirkan melalui abstraksi, justru memperluas cakrawala persepsi kita terhadap emosi, dan penyembuhan batiniah.
Putu Fajar Arcana mengabstraksi memori kolektif tentang mitologi, simbol, hingga ekspresi personal, menjadi irama visual yang menggetarkan secara batiniah, namun tetap puitis secara visual. Dalam konteks karya karya Putu Fajar Arcana, seni abstrak tidak cukup lagi diurai dari aspek formalnya, bukan pula berhenti pada analisis atas style dari sekian banyak style dalam karya abstrak , tetapi jalan menuju pengenalan diri, pengobatan luka, dan penguatan jiwa.[T]
Notes:
1. Carl G. Jung, Man and His Symbols, Dell Publishing, 1964, hlm. 105.
2. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk karya The Dragon in Your Heart, 2025.
3. Shaun McNiff, Art Heals: How Creativity Cures the Soul, Shambhala Publications, 2004, hlm. 87.
4. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk karya Safe the Dragon, 2025.
5. Rudolf Arnheim, Art and Visual Perception: A Psychology of the Creative Eye, University of California Press, 1954, hlm. 125–132.
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...