MESKI belum dapat dipastikan dari mana asal-usulnya, pohon sagu pernah menjadi bahan makanan utama di kawasan timur Indonesia, terutama di Papua dan kepulauan Maluku. Boleh jadi dulunya sagu juga menjadi bahan makanan orang-orang Nusantara sebelum datangnya padi, jagung, singkong dan palawija lainnya.
Kata “sego” atau “sega” dalam bahasa Jawa maupun “sangu” dalam bahasa Sunda tampaknya setarikan lidah dari kata “sagu” yang kemudian dipakai untuk menamai “nasi” yang berasal dari tanaman padi. Perlu dicatat bahwa selain sagu, dulunya umbi-umbian adalah makanan pokok orang-orang Melanesia.
Di antara orang Barat yang mula-mula mengenal sagu adalah Marco Polo dan Alfred R. Wallace. Ketika melawat ke Nusantara pada akhir abad ke-13, Pak Marco Polo ini sempat mencatat beberapa makanan dan kue berbahan sagu sedangkan Pak Wallace membawa olahan sagu sebagai bekal menjelajahi kepulauan Maluku dan Papua, termasuk ketika melakukan perjalanan laut dari kepulauan Raja Ampat menuju Kalimuri, Seram, tahun 1860.
Wah, wah, wah. Pak Wallace ini ternyata sudah gentayangan di Raja Ampat bahkan lebih 160 tahun silam, jauh sebelum turis domestik maupun mancanegara di era Republik. Pak Wallace mencatat bahwa selain burung cendrawasih dan kulit penyu, sagu juga dijadikan upeti warga setempat kepada kesultanan Tidore. Sagu pernah dijadikan investasi sosial sekaligus wahana ikatan politik pula.
Selain itu sangat masuk akal jika dikatakan bahwa era bahari Nusantara di abad-abad silam hanya mungkin terjadi karena persediaan makanan yang sesuai dengan budaya tersebut. Para pelaut Bugis dan Mandar misalnya, hanya bisa menjelajahi samudra hingga ke Madagaskar sana karena punya bekal makanan yang tahan lama dan cocok dengan kebutuhan selama perjalanan. Sementara orang-orang Papua dan Maluku, hanya dapat wira-wiri lalu lalang dari pulau ke pulau karena sagu dan umbi-umbian.
(Bagus juga jika makan pagi atau makan siang gratis untuk anak-anak setempat menggunakan bahan sagu dan umbi-umbian yang rendah gula itu, tentu untuk mengikis “beras oriented, diabetik”).
Tentu, salah satu masakan yang sangat populer di Papua, Maluku dan beberapa daerah di Sulawesi adalah “papeda”, yakni bubur sagu yang disantap dengan ikan laut beserta kuah kuningnya yang nyus nyus itu. Dalam bahasa Inanwatan atau bahasa Papua, “papeda” juga disebut “dao”. Selain itu ada pula “sagu bagea”, “sagu baruwa”, “sagu sinale” dan “leraping”.
Di kawasan danau Sentani, Balai Arkeologi Papua pernah menemukan tembikar dan perkakas batu untuk mengolah sagu yang merujuk pada zaman prasejarah. Papeda dulunya dimasak dengan alat gerabah sementara tradisi pembuatan gerabah di Papua sudah dikenal sejak 3.000 tahun silam.
Sementara dalam buku ”The Cyclopædia of India and of Eastern and Southern Asia” karya Edward Balfour (1885) terdapat uraian proses pengolahan aneka makanan berbahan sagu maupun makanan tahan lama lainnya termasuk kue yang mirip biskuit, salah satunya roti sagu kelapa yang disukai orang-orang Eropa pada masa itu.
Tentu, selain papeda, juga ada “sopi”, yakni minuman tradisional yang masyhur di kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara Timur (Flores, pulau Timor dan sekitarnya). Boleh jadi nama “sopi” berasal dari kata Belanda kuno “zoopje” yang berarti "minuman ringan".
Selain dari bahasa Belanda, terkait urusan makanan, di Maluku tampaknya banyak serapan kosa kata dari bahasa Portugis seperti patatas (kentang) dari kata “patatas”, batata (ubi) dari kata “batatas”, salero (garam) dari kata “salero” dan bubengka (kue bingka, lalu menjadi kue bika) dari kata “bibenka”.
Kembali ke sagu, pernah ada cerita menarik. Syahdan pada tanggal 19 Juli 1962 pasukan Republik mendarat di kampung Umerah di pulau Gebe dalam misi merebut Irian Barat (Papua) atas perintah Bung Karno. Pasukan itu kemudian bergerak ke pulau Waigeo melalui pulau Yu.
Setelah sampai di Waigeo terjadi baku tembak dengan pasukan Belanda. Pasukan Republik terperangkap di pulau itu sebulan lebih karena pihak Belanda melakukan patroli ketat dengan kapal perang mereka.
Ketatnya patroli Belanda tersebut menyebabkan menipisnya pasokan logistik sehingga tak ada cara lain bagi tentara Republik kecuali mengganyang sagu, termasuk menyantap ulatnya yang bergizi tinggi itu sebagai makanan sementara pada saat yang sama persediaan makanan pasukan Belanda justru kian menipis.
Ya, sagu turut menjadi faktor penting hingga tentara Republik dapat bertahan terhadap kepungan Belanda. Dan sebagaimana diketahui pada akhirnya Irian Jaya atau Papua barat kemudian menjadi bagian NKRI.
Tapi, saat ini sudah jarang pohon sagu di kampung halaman saya. Yang masih banyak adalah di Kepulauan Aru, tempat istri dan anak saya mencari ikan. [T]
Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026. Mereka larut dalam Rekasadana Tari Legong yang d...
"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."
KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaba...
SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak lagi berdiri di belaka...
Tuhan Beri Aku Waktu
Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku merindumu tak terbatas waktuselagi napas ini bergelayut...
“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.”
PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika permukaan. Kemegahan ko...
PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab moral dan sosialnya dalam m...
SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan fil...
“Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?"
KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade lalu, karya eksplorasi busana yang ia tampilkan di...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING INTERCULTURAL AWA...
BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma solar, dan tubuh-tubuh kekar dengan peluh bergulir...