Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
MESKI belum dapat dipastikan dari mana asal-usulnya, pohon sagu pernah menjadi bahan makanan utama di kawasan timur Indonesia, terutama di Papua dan kepulauan Maluku. Boleh jadi dulunya sagu juga menjadi bahan makanan orang-orang Nusantara sebelum datangnya padi, jagung, singkong dan palawija lainnya.
Kata “sego” atau “sega” dalam bahasa Jawa maupun “sangu” dalam bahasa Sunda tampaknya setarikan lidah dari kata “sagu” yang kemudian dipakai untuk menamai “nasi” yang berasal dari tanaman padi. Perlu dicatat bahwa selain sagu, dulunya umbi-umbian adalah makanan pokok orang-orang Melanesia.
Di antara orang Barat yang mula-mula mengenal sagu adalah Marco Polo dan Alfred R. Wallace. Ketika melawat ke Nusantara pada akhir abad ke-13, Pak Marco Polo ini sempat mencatat beberapa makanan dan kue berbahan sagu sedangkan Pak Wallace membawa olahan sagu sebagai bekal menjelajahi kepulauan Maluku dan Papua, termasuk ketika melakukan perjalanan laut dari kepulauan Raja Ampat menuju Kalimuri, Seram, tahun 1860.
Wah, wah, wah. Pak Wallace ini ternyata sudah gentayangan di Raja Ampat bahkan lebih 160 tahun silam, jauh sebelum turis domestik maupun mancanegara di era Republik. Pak Wallace mencatat bahwa selain burung cendrawasih dan kulit penyu, sagu juga dijadikan upeti warga setempat kepada kesultanan Tidore. Sagu pernah dijadikan investasi sosial sekaligus wahana ikatan politik pula.
Selain itu sangat masuk akal jika dikatakan bahwa era bahari Nusantara di abad-abad silam hanya mungkin terjadi karena persediaan makanan yang sesuai dengan budaya tersebut. Para pelaut Bugis dan Mandar misalnya, hanya bisa menjelajahi samudra hingga ke Madagaskar sana karena punya bekal makanan yang tahan lama dan cocok dengan kebutuhan selama perjalanan. Sementara orang-orang Papua dan Maluku, hanya dapat wira-wiri lalu lalang dari pulau ke pulau karena sagu dan umbi-umbian.
(Bagus juga jika makan pagi atau makan siang gratis untuk anak-anak setempat menggunakan bahan sagu dan umbi-umbian yang rendah gula itu, tentu untuk mengikis “beras oriented, diabetik”).
Tentu, salah satu masakan yang sangat populer di Papua, Maluku dan beberapa daerah di Sulawesi adalah “papeda”, yakni bubur sagu yang disantap dengan ikan laut beserta kuah kuningnya yang nyus nyus itu. Dalam bahasa Inanwatan atau bahasa Papua, “papeda” juga disebut “dao”. Selain itu ada pula “sagu bagea”, “sagu baruwa”, “sagu sinale” dan “leraping”.
Di kawasan danau Sentani, Balai Arkeologi Papua pernah menemukan tembikar dan perkakas batu untuk mengolah sagu yang merujuk pada zaman prasejarah. Papeda dulunya dimasak dengan alat gerabah sementara tradisi pembuatan gerabah di Papua sudah dikenal sejak 3.000 tahun silam.
Sementara dalam buku ”The Cyclopædia of India and of Eastern and Southern Asia” karya Edward Balfour (1885) terdapat uraian proses pengolahan aneka makanan berbahan sagu maupun makanan tahan lama lainnya termasuk kue yang mirip biskuit, salah satunya roti sagu kelapa yang disukai orang-orang Eropa pada masa itu.
Tentu, selain papeda, juga ada “sopi”, yakni minuman tradisional yang masyhur di kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara Timur (Flores, pulau Timor dan sekitarnya). Boleh jadi nama “sopi” berasal dari kata Belanda kuno “zoopje” yang berarti "minuman ringan".
Selain dari bahasa Belanda, terkait urusan makanan, di Maluku tampaknya banyak serapan kosa kata dari bahasa Portugis seperti patatas (kentang) dari kata “patatas”, batata (ubi) dari kata “batatas”, salero (garam) dari kata “salero” dan bubengka (kue bingka, lalu menjadi kue bika) dari kata “bibenka”.
Kembali ke sagu, pernah ada cerita menarik. Syahdan pada tanggal 19 Juli 1962 pasukan Republik mendarat di kampung Umerah di pulau Gebe dalam misi merebut Irian Barat (Papua) atas perintah Bung Karno. Pasukan itu kemudian bergerak ke pulau Waigeo melalui pulau Yu.
Setelah sampai di Waigeo terjadi baku tembak dengan pasukan Belanda. Pasukan Republik terperangkap di pulau itu sebulan lebih karena pihak Belanda melakukan patroli ketat dengan kapal perang mereka.
Ketatnya patroli Belanda tersebut menyebabkan menipisnya pasokan logistik sehingga tak ada cara lain bagi tentara Republik kecuali mengganyang sagu, termasuk menyantap ulatnya yang bergizi tinggi itu sebagai makanan sementara pada saat yang sama persediaan makanan pasukan Belanda justru kian menipis.
Ya, sagu turut menjadi faktor penting hingga tentara Republik dapat bertahan terhadap kepungan Belanda. Dan sebagaimana diketahui pada akhirnya Irian Jaya atau Papua barat kemudian menjadi bagian NKRI.
Tapi, saat ini sudah jarang pohon sagu di kampung halaman saya. Yang masih banyak adalah di Kepulauan Aru, tempat istri dan anak saya mencari ikan. [T]
Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...