JALAN Imam Bonjol, Singaraja, terutama di areal Masjid Jami, Senin, 4 Agustus 2025, tampak lebih ramai dari biasanya. Di trotoar, orang-orang duduk, berderet-deret. Lalu-lintas tampak agak macet.
Senin siang itu, jalan raya itu dilalui peserta lomba gerak jalan tingkat SD se-Kabupaten Buleleng. Dan, bagi orang Singaraja, gerak jalan masih termasuk tontonan primadona. Orang-orang keluar rumah, berderet di tepi jalan, ya, menonton peserta gerak jalan lewat di depan mereka
Tu, wa, ga, pat...
Ada yang menonton bersama anak dan istri, ada yang bergerombol bersama teman. Ada juga yang nonton bersama pacar, atau bersama teman lawan jenis sembari PDKT-an.
Eh, jangan lupa. Pedagang juga ambil kesempatan. Ketika orang ramai, pedagang akan memarkir dagangannya di tempat ramai. Pedagang itu menonton gerak jalan, juga sembari jualan.
Salah satu pedagang itu, Muhammad Akbar. Ia berdiri di samping gerobak dengan tulisan heroik, “Pejuang Rupiah Tak Kenal Tanggal Merah”.
Akbar menjajakan makanan khas Jawa Barat, seperti cimin (aci mini) telor dan maklor (makroni telor). Dan, di sela-sela lomba gerak jalan untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI, anak-anak juga merayakan dengan makan cimin. Enak.
***
Kita tinggalkan dulu Akbar. Mari menengok peserta gerak jalan. Mereka centil-centil tapi kuat. Yang perempuan manis-manis, yang lelaki liat-liat.
Lomba Gerak Jalan tingkat Sekolah Dasar (SD) jarak 8 KM di Singaraja diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng. Pesertanya 105 regu.
Acara itu digelar dalam rangka HUT ke-80 Republik Indonesia. Setiap regu berjumlah 17 orang dengan formasi 8 putra dan 8 putri, dan 1 orang untuk danton/pemimpin (boleh putra/putri).
Keramaian lomba gerak jalan SD di Singaraja, Buleleng | Foto: tatkala.co/Son
Walaupun 5 regu tidak datang—alias gugur sebelum langkah tegap maju-jalan, acara itu tetap tergelar dengan meriah dan kompetitif. Jalanan tetap dipenuhi derap langkah dan yel-yel semangat.
“Tidak hanya semangat anak-anak yang luar biasa tumpah di acara lomba gerak jalan ini, tetapi juga termasuk orang tua mereka, masyarakat bahkan pedagang juga ikut terlihat di pinggiran,” kata I Made Sumarga Jaya, koordinator lapangan lomba gerak jalan itu.
Perlombaan gerak jalan ini dilakukan rutin setiap tahunnya, setiap bulan Agustus. Bahkan, sudah seperti (semacam) tradisi. Perlombaan itu ditujukan untuk SD dengan jarak 8 KM, lalu 17 KM untuk putri (dewasa) dan 45 KM putra (dewasa).
Perlombaan itu berlangsung di GOR Bhuana Patra sebagai titik start-nya. Para peserta kemudian melewati Jalan Ngurah Rai, dan seterusnya hingga finish kemabli di depan GOR Buana Patra.
Seperti yang dikatakan I Made Sumarga Jaya, tidak hanya para peserta atawa siswa—anak sekolahan saja ikut merayakan kemerdekaan, tetapi pedagang nyambi jualan atau masyarakat sekadar menonton sambil juga jajan, juga ikut serta sebagai golongan yang merayakan.
Ibu-ibu menunggu peserta gerak jalan lewat di Jalan Imam Bonjol Singaraja | Foto: tatkala.co/Son
Kawasan Masjid Jami Singaraja di Jalan Imam Bonjol itu, adalah salah satu ruas yang dilalui para peserta lomba itu. Makanya, tempat itu juga ramai. Ramai penonton, ramai juga pedagang.
Eh, Muhammad Akbar, si pedagang cimin itu ke mana ya?
Oh, itu dia. Akbar, biasanya ia keliling berjualan ke mana saja, tak pernah menetap begitu lama di Jalan Imam Bonjol. Tapi saat lomba gerak jalan, ia menetap cukup lama di jalan itu. Karena banyak orang berkerumun di sana, ia datang sejak jam satu siang dan bertahan lama hingga sore.
Akbar berjualan cimin telor di tepi jalan sambil menunggu peserta gerak jalan lewat di Jalan Imam Bonjol Singaraja | Foto: tatkala.co/Son
Akbar adalah pedagang asal Tasikmalaya, dan 11 tahun sudah ada di Bali—menjadi orang Bali. Di sela menunggu para peserta lomba gerak jalan lewat, Akbar atau biasa disapa Pak Akbar itu, dengan gesit melayani anak-anak berbelanja.
"Hampir sama, sih, lebih ke biasa saja. Tetap, satu hari gak nentu. Mungkin karena baru satu kali digelar lombanya," kata Akbar. “Ya, sekitar 300-350 rebu perhari mah dapat aja. Itu pun masih belum keliatan untungnya.”
Tapi Akbar juga mengakui, bahwa di momen kemerdekaan ini, tidak sulit untuk mencari keramaian. Seperti hari ini dan besok, Selasa tanggal 5, itu masih ada lomba gerak jalan tingkat SMP. Dan Pak Akbar, siap melihat peluang memburu posisi yang lebih ramai. Merdeka. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...