Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
“JAZZ itu bukan sebatas aliran, tapi perlawanan dan kebebasan,” ujar seorang pria uzur sambil mengangguk pelan di Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2025.
Selama dua hari perhelatannya, Jumat–Sabtu, 1–2 Agustus 2025, festival ini tidak menawarkan nama-nama besar, tidak ada panggung megah dengan tata cahaya dramatis, tidak ada gimmick panggung yang berlebihan, yang ada hanya musik, percakapan improvisasi antar-musisi, dan penonton yang datang bukan untuk bersorak, tapi untuk mendengarkan. Di sinilah, di UVJF 2025, saya menemukan sesuatu yang mulai langka: festival jazz yang benar-benar jazz.
Jazz memang lahir bukan dari kemewahan. Ia tumbuh pada awal abad ke-20 di New Orleans, sebagai percampuran budaya Afrika, Eropa, dan budaya rakyat Amerika. Improvisasi spontan, ritme swing, serta dialog musikal yang bebas namun disiplin adalah ciri khasnya. Dari bebop yang rumit hingga fusion yang berani menggabungkan rock dan elektronik, jazz terus berevolusi. Tapi satu hal yang tetap sama adalah semangat kebebasan, eksperimen, dan komunikasi antar-musisi—itulah napas jazz yang sesungguhnya.


Para penikmat jazz dari berbagai negeri di UVJF 2025│Foto: tatkala.co/Dede
Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, banyak festival yang mengaku sebagai “festival jazz” justru kehilangan roh tersebut. Nama-nama populer yang bahkan tak bermain jazz dijadikan magnet utama. Musik jadi latar belakang, bukan pusat perhatian. Panggung dibangun besar, tata cahaya mencolok, dan di antara penonton, lebih banyak terlihat selfie dan sorakan daripada konsentrasi mendalam pada musik. Bukan berarti salah, festival memang butuh massa. Tapi pada titik tertentu, istilah ‘jazz’ seperti kehilangan makna, hanya menjadi label demi gengsi, agar terlihat acara berkelas.
Di tengah situasi seperti itu, UVJF memilih jalur berbeda. Sejak pertama kali dihelat pada 2013, festival ini memang tidak dirancang sebagai tontonan massal. Ia adalah ruang untuk mendengarkan, belajar, dan mengeksplorasi.
Tahun ini adalah kali ketiga UVJF dilaksanakan di Sthala, a Tribute Portfolio Hotel by Marriott di Mawang, Lodtunduh, Ubud. Kapasitas maksimal hanya sekitar 2.500 orang per hari, tapi angka itu jarang tercapai. Tak banyak penonton lokal, kebanyakan adalah wisatawan asing, duduk santai di kursi plastik atau lesehan di tikar, mereka benar-benar menyimak, bukan sekadar hadir.
UVJF juga tidak dikurasi untuk selera pasar. Kuratornya adalah musisi jazz dan sound engineer andal—Yuri Mahatma dan Anom Darsana—yang sejak awal menanamkan semangat bahwa festival ini adalah ruang musik jazz lintas benua. Musisi yang tampil bukan selebritas, melainkan penekun jazz: mereka yang mungkin asing di telinga awam, tapi membawa suara jujur dari negeri asalnya. Salah satunya, duo Jazz Steps dari Vietnam yang memadukan jazz modern dengan warna musik rakyat mereka.

Penampilan Galaksi Big Band di Giri Stage (2/8)│Foto: tatkala.co/Dede

Gustu Brahmanta (drum) saat berkolaborasi dengan Jazz Steps (1/8)│Foto: tatkala.co/Dede
Pilihan idealis semacam itu tentu punya konsekuensi. Perhelatan UVJF sedari edisi awal nyaris tak menguntungkan secara finansial. Festival ini bisa dikatakan ‘besar pasak daripada tiang’. Tapi dorongan untuk menciptakan ruang yang setia pada semangat jazz tak pernah surut. Mereka terus bertahan bukan hanya untuk perayaan tahunan, tapi untuk menjaga ekosistem: memberi ruang pada pegiat, mempertemukan pecinta, dan memperkenalkan jazz pada telinga-telinga baru—hingga musik ini tumbuh sebagai budaya yang hidup, dinamis, dan terus relevan.
Di era ketika hampir semua hal dipoles demi tampil megah dan viral, UVJF terasa seperti antitesis yang menyejukkan. Ia kecil tapi dalam, sederhana tapi bermakna. Jazz di sini bukan sekadar genre, tapi cara memperlakukan musik: sebagai dialog, eksplorasi, dan kejujuran yang tak bisa dikompromikan. Mungkin karena itulah UVJF terasa sangat jazz—bukan jazz yang riuh atau artifisial, tapi jazz yang tumbuh pelan-pelan, di antara keteduhan Ubud dan penonton yang mendengarkan dengan hati terbuka.

Para tim UVJF 2025 saat closing ceremony (2/8)│Foto: tatkala.co/Dede
Namun, sebagian orang turut mempertanyakan, sampai kapan idealisme tersebut bisa dipertahankan? Apakah UVJF akan terus menjadi festival dengan semangat benar-benar jazz? Ataukah pada akhirnya juga akan menyerah pada arus pasar dan menambah satu lagi festival dengan embel-embel jazz?
Perjalanan UVJF sampai pada perhelatan ke-12 ini tentu tidak mudah. Bukan soal teknis, bukan hanya soal biaya atau konsep acara. Tapi tentang bagaimana terus menjaga semangat, merawat ruang, menghidupkan musik, dan membuktikan bahwa jazz adalah musik untuk semua. Beberapa musisi jazz yang saya temui di UVJF berkata seragam: jazz akan terus bergerak, bertahan, dan berkembang, asal diberi ruang untuk tetap jujur.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...