SAYA sengaja membubuhkan kata “enak” dalam judul tulisan sederhana ini. Selain, tentu saja, supaya Anda tertarik membaca dan syukur-syukur setelah itu tergerak untuk mencobanya, juga karena itu kesan kejujuran saya—sebenarnya ini soal selera dan setiap orang memiliki preferensi rasa yang berbeda—setelah menyantap seporsi ayam bakar taliwang di Taliwang Bersaudara.
Bisa saja menurut saya enak—bahkan enak sekali—tapi belum tentu bagi lidah Anda. Tetapi bagaimana bisa Anda mengatakan ayam bakar taliwang rumah makan Taliwang Bersaudara enak atau tidak kalau Anda belum mencicipinya? Untuk itulah saya sarankan Anda mencobanya terlebih dahulu.
Sebelum saya membicarakan soal rasa, suasana tempat, dan bagaimana kita dilayani, saya beritahu lokasi rumah makannya terlebih dahulu. Taliwang Bersaudara dibangun di pinggir Jl. Baturiti Bedugul, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, tepatnya di sebelah barat restoran Nasi Tempong Indra. Jika Anda dari arah Singaraja menuju Denpasar, Taliwang Bersaudara terketak setelah jalan shotcut Bedugul. Saat sampai di titik itu, coba pelankan kendaraan Anda—dan tengoklah kanan-kiri jalan—supaya tidak terlewat.
Plang Taliwang Bersaudara yang terpampang di pinggir Jl. Baturiti Bedugul, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Taliwang Bersaudara baru saja dibuka sekira lima bulan yang lalu. Tapi resep ayam bakarnya sudah diwariskan turun-temurun. “Dari nenek,” ucap Dicky Danuarta, owner Taliwang Bersaudara kepada saya. Keluarga Dicky memang asli Lombok, tempat ayam bakar taliwang dilahirkan. Pada masa Orde Baru, keluarga Dicky hijrah ke Bedugul juga karena ayam taliwang. Jadi, bisa dibilang, keluarga ini memiliki ikatan yang kuat dengan ayam bakar taliwang. Itu adalah kisah manis di balik sebuah restoran.
Restoran Taliwang Bersaudara memiliki suasana Sembalun yang sejuk dan menyenangkan, dan saya akan senang jika itu menjadi bagian dari lingkungan saya. Sebagaimana diketahui banyak orang, udara di Bedugul semacam mengandung sesuatu yang lain memang—yang kadang membuat Anda menggigil, tapi tak jarang pula membuat Anda merasa nyaman dan ketagihan ingin merasaknnya kembali.
Dengan konsep rumah joglo yang terbuka, membuat Taliwang Bersaudara kaya akan sirkulasi udara, tidak pengap, dan Anda dapat melihat geliat sekitar dengan leluasa. Ini pilihan yang tepat, menurut saya, sebab berada di Bedugul. Kalau saja Taliwang Bersaudara berdiri di pinggir jalan besar di Surabaya atau di Denpasar—yang berdebu dan ramai, bising—saya akan berpikir berulang kali untuk mengunjunginya.
Restoran ini setidaknya memiliki tiga perpaduan yang kentara. Bentuk bangunannya diadopsi dari Jawa (joglo), menunya dari Lombok, dan dibangun di Bedugul, Bali—yang memiliki suasana mirip-mirip seperti Sembalun di Lombok Timur. Ini penting saya tekankan karena Anda akan merasakan sensasi menyantap ayam bakar taliwang di tempat asalnya sendiri: Nusa Tenggara Barat.
Nah, pesanan saya sudah dihidangkan. Mari menikmatinya. Ya, pelayanan di rumah makan Taliwang Bersaudara memang cepat, sat-set, tak pakai lama. Saya jamin Anda tidak akan protes soal ini.
Lihatlah. Di depan saya sudah terhidang seekor ayam bakar taliwang lengkap dengan pelecing kangkung dan beberuk terong—ayam bakar taliwang disajikan dengan dua jenis sambal: pelecing kangkung dan beberuk (lebih mudahnya sebut saja pelecing terong bulat)—yang terlihat segar dan menggairahkan: keduanya menawan untuk dilihat dan disantap. Ukuran ayam yang saya pesan cukup untuk berdua (paket 1), tak kecil pun tak besar, tanggung, sedang saja.
Ayam bakar taliwang makan Taliwang Bersaudara, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Tapi juga ada paket family untuk 5 orang. Ayamnya lebih besar dan nasinya sebakul. Jika Anda datang ramai-ramai, saya sarankan pesan paket family saja—tentu dengan harga yang sedikit lebih mahal daripada paket yang lain. Dan jangan khawatir, jika Anda sendirian, dan takut tak bisa menghabiskan seekor utuh, Anda bisa memesan paket hemat—yang berisi sebuah paha, tempe, tahu, sambal, pelecing kangkung, dan sepotong nanas segar.
Setelah beberapa saat saya habiskan untuk mengaguminya, kini saya benar-benar mencicipinya. Saat itulah ooh dan aah berubah menjadi hemm. Dan abaikan saja peralatan makan. Ini adalah pekerjaan untuk jari tangan.
Dan, ya Tuhan, beberuk terong Taliwang Bersaudara jangan sekali-kali Anda lupakan. Jika diminta untuk memilih antara pelecing kangkung atau beberuk terongnya, tanpa berpikir panjang saya akan katakan: beberuk terong—bahkan saya bisa memakannya tanpa nasi. Pedas cabai, bawang merah, asam tomat dan perasan jeruk limau sangat cocok dengan terong bulat mentah yang segar. Sebuah menu santap siang yang mengesankan.
Hidangan ayam bakar taliwang ini bagaikan paduan serat dan protein berwarna menggairahkan yang berkelas, dan saya melahapnya seperti labrador yang memamahhabis kibble-nya. Sebagai orang yang tidak terlalu suka daging ayam (Anda bisa menanyakan hal ini kepada istri saya), saya membuat pengecualian untuk ayam bakar taliwang di rumah makan Taliwang Bersaudara ini.
Ciri khas ayam bakar taliwang adalah ayam kampung muda yang diramu dengan bumbu-bumbu tertentu sehingga memberi rasa gurih, pedas—cita rasa bumbu yang kuat. Begitu pula yang saya rasakan saat mengunyah dan menelan ayam bakar taliwang di rumah makan Taliwang Bersaudara.
beberuk terong dan pelecing kangkung rumah makan Taliwang Bersaudara, Bedugul | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Daging ayam di Taliwang Bersaudara tak alot seperti kebanyakan produk ayam bakar taliwang di tempat lain, dan tak gosong, kulitnya coklat karat dan matang. Membakar ayam seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa Anda lakukan dengan tangan Anda di rumah. Dibutuhkan pengalaman untuk memastikannya tidak mengeras saat dibakar.
“Ini melalui tiga proses. Pertama ayam dibakar dengan baluran bumbu [rahasia], lalu disimpan di mesin pendingin. Kalau ada orang pesan, ayam tadi digoreng sebentar kemudian dibakar dan dilumuri bumbu lagi, baru dihidangkan,” terang Dicky. Dicky mengatakan kepada saya, sebagaimana sudah saya sampaikan di atas, bahwa resep ayam bakar taliwangnya ia dapat dari neneknya—yang akan saya sebut resep keotentikan Lombok.
Sebagai penutup, cobalah singgah kalau Anda tidak percaya. Rasakanlah betapa capat pelayanannya. Sisirlah menu-menu menariknya. Dan Anda akan merasakan perasaan bahwa Anda sedang duduk di tiga tempat sekaligus: Jawa, Lombok, dan Bali.
Cobalah ayam bakar taliwangnya, semangkuk pelecing kangkung, dan beberuk terong yang lezat; nikmati makan siang Anda dengan suasana yang berbeda. Saat saya hendak kembali ke Singaraja, beberapa keluarga datang berduyun memasuki Taliwang Bersaudara. Artinya, Taliwang Bersaudara benar-benar layak untuk dikunjungi.
Sekadar informasi, selain ayam bakar taliwang, di Taliwang Bersaudara juga menyediakan hidangan lainnya seperti gurami goreng, bebek (bakar dan goreng) taliwang, sop iga sapi, dan beberapa menu lainnya.[T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...