Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
Uang adalah alat (benda, sesuatu) yang diciptakan manusia sebagai penukar atas nilai dari benda, sesuatu itu.
Manusia mengenal uang dimulai dari adanya hubungan manusia dengan manusia lainnya.
Manusia yang berjiwa-raga, dianugrahi tubuh dengan panca indrianya, pikiran yang disebut raja indria, dan rasa yang ditimbulkan dari perpaduan jiwa dan raga (raga yang dijiwai).
Karakter raga terbatas, karakter pikiran tak terbatas. Kebebasan pikiran membuat manusia kreatif, menciptakan berbagai hal untuk membantu membebaskan tubuhnya yang terbatas.
Manusia memerlukan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan hiburan.
Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya seorang manusia memerlukan bantuan manusia lainnya. Pertukaran kebutuhan antar manusia disebut barter, yang hanya bisa dilakukan berdasarkan kesepakatan. Barter barang dan jasa ini kemudian berkembang menjadi uang logam, kertas dan digital.
Dalam hubungan antar manusia, leluhur Bali juga berhubungan dengan suku dan bangsa lain, salah satunya Bangsa Cina, yang memperkenalkan uang kepeng yang disebut, uang/jinah "bolong" atau lubang.
Uang "bolong" biasanya terbuat dari campuran logam (olahan dari material alam yang padat) yang ditengah-tengahnya diberi lubang, sedangkan di sisi pinggirnya bertuliskan aksara yang mensimbolkan tanah, air, api dan udara. Bagian tengahnya yang berlubang, kemungkinan mensimbolkan akasa, pancer atau jiwa.
Selain uang "bolong' bertuliskan aksara cina yang mensimbolkan tanah, api, air dan udara, di Bali juga banyak ditemukan uang " bolong" bergambar bulan, bintang, kuda, tokoh-tokoh pewayangan seperti Semar/Tualen, Arjuna (cowok) dan Condong (cewek), jenis-jenis uang "bolong" ini diduga berasal dari masa Kediri akhir yang difungsikan sebagai jimat.
Pemanfaatan pis "bolong" sebagai jimat, yang diberi aji-ajian (pengetahuan spiritual) dengan tujuan untuk mendapatkan kebutuhan yang diinginkan, menjadi penanda mulai dipakainya uang/logam, barang sebagai penukar untuk hal yang bersifat rohani/spiritual.
Kebutuhan manusia dari jaman dahulu sampai sekarang sebenarnya sama saja, makan, minum, pakaian, rumah dan rekreasi/hiburan.
Yang berkembang dahsyat dan sulit diikuti oleh tubuh manusia biasa adalah kebutuhan akan hiburan/rekreasi, bagi manusia-manusia dengan berbagai latar belakang, sifat, dan pikirannya.
Seorang ilmuan yang lakunya dijiwai pikiran yang tak terbatas, menjadikan berbagai obyek dunia sebagai bahan penelitian untuk memdapatkan kepuasan sebagai hiburan/rekreasi.
Ketika seorang manusia mendapatkan pengetahuan tentang cara menciptakan api, dari sinilah mulai muncul berbagai kreativitas penciptaan yang tidak saja dipandang sebagai kebutuhan alamiah manusia dalam fungsinya sebagai hiburan/rekreasi, sebagai jauh, sangat jauh dan sampai jauh, pada kebutuhan yang lebih besar, lebih besar, dan lebih besar lagi untuk menjadikan alam, manusia, binatang, pohon dan semua yang berkait dengannya sebagai proyek rekreasi/hiburan.
Aku, I, adalah subyek, yang membutuhkan dan yang lain adalah obyek, yang kubutuhkan, untuk memenuhi semua keinginan-keinginanku. Disinilah awal mula Kecongkakan manusia dimulai.
Hentah sejak kapan uang "bolong" dipakai sebagai alat tukar di Bali, yang jelas sampai sekarang uang "bolong' lama, yang berusia lebih dari 100 tahun (sebagai benda purbakala) masih ada, tersimpan dan beredar di Bali.
Bahan uang "bolong'" itu tetap sama, hanya nilainya yang kadang berubah sesuai dengan kebutuhan, antara permintaan dan penawaran sebagai efek dari hukum dagang dalam hubungan antar manusia.
Tapi, yang paling mengherankan adalah perubahan makna "bolong" berlubang, kosong, akasa, jiwa, pancer, yang dengan sangat congkak dipermainkan oleh orang-orang pintar, yang dianggap dan menganggap dirinya pintar. Para intelektual, para brahmana, sang pemilik api/pikiran/kecerdasan banyak yang bermain-main, berekreasi, menghibur dirinya dalam permainan rohani/ spiritual dan menjadikan alam, mahluk lain sebagai obyek. Sehingga bisa dengan congkak dan penuh percaya diri meyakinkan umat, tentang nilai sebuah upacara, tirta, anugrah Bhatara dengan hitungan uang "bolong" yang dia dan kelompoknya tentukan. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....