Uang adalah alat (benda, sesuatu) yang diciptakan manusia sebagai penukar atas nilai dari benda, sesuatu itu.
Manusia mengenal uang dimulai dari adanya hubungan manusia dengan manusia lainnya.
Manusia yang berjiwa-raga, dianugrahi tubuh dengan panca indrianya, pikiran yang disebut raja indria, dan rasa yang ditimbulkan dari perpaduan jiwa dan raga (raga yang dijiwai).
Karakter raga terbatas, karakter pikiran tak terbatas. Kebebasan pikiran membuat manusia kreatif, menciptakan berbagai hal untuk membantu membebaskan tubuhnya yang terbatas.
Manusia memerlukan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan hiburan.
Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya seorang manusia memerlukan bantuan manusia lainnya. Pertukaran kebutuhan antar manusia disebut barter, yang hanya bisa dilakukan berdasarkan kesepakatan. Barter barang dan jasa ini kemudian berkembang menjadi uang logam, kertas dan digital.
Dalam hubungan antar manusia, leluhur Bali juga berhubungan dengan suku dan bangsa lain, salah satunya Bangsa Cina, yang memperkenalkan uang kepeng yang disebut, uang/jinah "bolong" atau lubang.
Uang "bolong" biasanya terbuat dari campuran logam (olahan dari material alam yang padat) yang ditengah-tengahnya diberi lubang, sedangkan di sisi pinggirnya bertuliskan aksara yang mensimbolkan tanah, air, api dan udara. Bagian tengahnya yang berlubang, kemungkinan mensimbolkan akasa, pancer atau jiwa.
Selain uang "bolong' bertuliskan aksara cina yang mensimbolkan tanah, api, air dan udara, di Bali juga banyak ditemukan uang " bolong" bergambar bulan, bintang, kuda, tokoh-tokoh pewayangan seperti Semar/Tualen, Arjuna (cowok) dan Condong (cewek), jenis-jenis uang "bolong" ini diduga berasal dari masa Kediri akhir yang difungsikan sebagai jimat.
Kecongkakan Manusia
Pemanfaatan pis "bolong" sebagai jimat, yang diberi aji-ajian (pengetahuan spiritual) dengan tujuan untuk mendapatkan kebutuhan yang diinginkan, menjadi penanda mulai dipakainya uang/logam, barang sebagai penukar untuk hal yang bersifat rohani/spiritual.
Kebutuhan manusia dari jaman dahulu sampai sekarang sebenarnya sama saja, makan, minum, pakaian, rumah dan rekreasi/hiburan.
Yang berkembang dahsyat dan sulit diikuti oleh tubuh manusia biasa adalah kebutuhan akan hiburan/rekreasi, bagi manusia-manusia dengan berbagai latar belakang, sifat, dan pikirannya.
Seorang ilmuan yang lakunya dijiwai pikiran yang tak terbatas, menjadikan berbagai obyek dunia sebagai bahan penelitian untuk memdapatkan kepuasan sebagai hiburan/rekreasi.
Ketika seorang manusia mendapatkan pengetahuan tentang cara menciptakan api, dari sinilah mulai muncul berbagai kreativitas penciptaan yang tidak saja dipandang sebagai kebutuhan alamiah manusia dalam fungsinya sebagai hiburan/rekreasi, sebagai jauh, sangat jauh dan sampai jauh, pada kebutuhan yang lebih besar, lebih besar, dan lebih besar lagi untuk menjadikan alam, manusia, binatang, pohon dan semua yang berkait dengannya sebagai proyek rekreasi/hiburan.
Aku, I, adalah subyek, yang membutuhkan dan yang lain adalah obyek, yang kubutuhkan, untuk memenuhi semua keinginan-keinginanku. Disinilah awal mula Kecongkakan manusia dimulai.
Uang "Bolong" di Bali
Hentah sejak kapan uang "bolong" dipakai sebagai alat tukar di Bali, yang jelas sampai sekarang uang "bolong' lama, yang berusia lebih dari 100 tahun (sebagai benda purbakala) masih ada, tersimpan dan beredar di Bali.
Bahan uang "bolong'" itu tetap sama, hanya nilainya yang kadang berubah sesuai dengan kebutuhan, antara permintaan dan penawaran sebagai efek dari hukum dagang dalam hubungan antar manusia.
Tapi, yang paling mengherankan adalah perubahan makna "bolong" berlubang, kosong, akasa, jiwa, pancer, yang dengan sangat congkak dipermainkan oleh orang-orang pintar, yang dianggap dan menganggap dirinya pintar. Para intelektual, para brahmana, sang pemilik api/pikiran/kecerdasan banyak yang bermain-main, berekreasi, menghibur dirinya dalam permainan rohani/ spiritual dan menjadikan alam, mahluk lain sebagai obyek. Sehingga bisa dengan congkak dan penuh percaya diri meyakinkan umat, tentang nilai sebuah upacara, tirta, anugrah Bhatara dengan hitungan uang "bolong" yang dia dan kelompoknya tentukan. [T]
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...