“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
Uang adalah alat (benda, sesuatu) yang diciptakan manusia sebagai penukar atas nilai dari benda, sesuatu itu.
Manusia mengenal uang dimulai dari adanya hubungan manusia dengan manusia lainnya.
Manusia yang berjiwa-raga, dianugrahi tubuh dengan panca indrianya, pikiran yang disebut raja indria, dan rasa yang ditimbulkan dari perpaduan jiwa dan raga (raga yang dijiwai).
Karakter raga terbatas, karakter pikiran tak terbatas. Kebebasan pikiran membuat manusia kreatif, menciptakan berbagai hal untuk membantu membebaskan tubuhnya yang terbatas.
Manusia memerlukan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan hiburan.
Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya seorang manusia memerlukan bantuan manusia lainnya. Pertukaran kebutuhan antar manusia disebut barter, yang hanya bisa dilakukan berdasarkan kesepakatan. Barter barang dan jasa ini kemudian berkembang menjadi uang logam, kertas dan digital.
Dalam hubungan antar manusia, leluhur Bali juga berhubungan dengan suku dan bangsa lain, salah satunya Bangsa Cina, yang memperkenalkan uang kepeng yang disebut, uang/jinah "bolong" atau lubang.
Uang "bolong" biasanya terbuat dari campuran logam (olahan dari material alam yang padat) yang ditengah-tengahnya diberi lubang, sedangkan di sisi pinggirnya bertuliskan aksara yang mensimbolkan tanah, air, api dan udara. Bagian tengahnya yang berlubang, kemungkinan mensimbolkan akasa, pancer atau jiwa.
Selain uang "bolong' bertuliskan aksara cina yang mensimbolkan tanah, api, air dan udara, di Bali juga banyak ditemukan uang " bolong" bergambar bulan, bintang, kuda, tokoh-tokoh pewayangan seperti Semar/Tualen, Arjuna (cowok) dan Condong (cewek), jenis-jenis uang "bolong" ini diduga berasal dari masa Kediri akhir yang difungsikan sebagai jimat.
Pemanfaatan pis "bolong" sebagai jimat, yang diberi aji-ajian (pengetahuan spiritual) dengan tujuan untuk mendapatkan kebutuhan yang diinginkan, menjadi penanda mulai dipakainya uang/logam, barang sebagai penukar untuk hal yang bersifat rohani/spiritual.
Kebutuhan manusia dari jaman dahulu sampai sekarang sebenarnya sama saja, makan, minum, pakaian, rumah dan rekreasi/hiburan.
Yang berkembang dahsyat dan sulit diikuti oleh tubuh manusia biasa adalah kebutuhan akan hiburan/rekreasi, bagi manusia-manusia dengan berbagai latar belakang, sifat, dan pikirannya.
Seorang ilmuan yang lakunya dijiwai pikiran yang tak terbatas, menjadikan berbagai obyek dunia sebagai bahan penelitian untuk memdapatkan kepuasan sebagai hiburan/rekreasi.
Ketika seorang manusia mendapatkan pengetahuan tentang cara menciptakan api, dari sinilah mulai muncul berbagai kreativitas penciptaan yang tidak saja dipandang sebagai kebutuhan alamiah manusia dalam fungsinya sebagai hiburan/rekreasi, sebagai jauh, sangat jauh dan sampai jauh, pada kebutuhan yang lebih besar, lebih besar, dan lebih besar lagi untuk menjadikan alam, manusia, binatang, pohon dan semua yang berkait dengannya sebagai proyek rekreasi/hiburan.
Aku, I, adalah subyek, yang membutuhkan dan yang lain adalah obyek, yang kubutuhkan, untuk memenuhi semua keinginan-keinginanku. Disinilah awal mula Kecongkakan manusia dimulai.
Hentah sejak kapan uang "bolong" dipakai sebagai alat tukar di Bali, yang jelas sampai sekarang uang "bolong' lama, yang berusia lebih dari 100 tahun (sebagai benda purbakala) masih ada, tersimpan dan beredar di Bali.
Bahan uang "bolong'" itu tetap sama, hanya nilainya yang kadang berubah sesuai dengan kebutuhan, antara permintaan dan penawaran sebagai efek dari hukum dagang dalam hubungan antar manusia.
Tapi, yang paling mengherankan adalah perubahan makna "bolong" berlubang, kosong, akasa, jiwa, pancer, yang dengan sangat congkak dipermainkan oleh orang-orang pintar, yang dianggap dan menganggap dirinya pintar. Para intelektual, para brahmana, sang pemilik api/pikiran/kecerdasan banyak yang bermain-main, berekreasi, menghibur dirinya dalam permainan rohani/ spiritual dan menjadikan alam, mahluk lain sebagai obyek. Sehingga bisa dengan congkak dan penuh percaya diri meyakinkan umat, tentang nilai sebuah upacara, tirta, anugrah Bhatara dengan hitungan uang "bolong" yang dia dan kelompoknya tentukan. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...