TAMPAKNYA tren berwisata secara berombongan atau grup besar mulai ditinggalkan secara perlahan. Hal ini terjadi seiring dengan perubahan profil dan motivasi wisatawan. Berwisata kini lebih bersifat personal ketimbang massal. Mucullah soft travel sebagai konsep baru dalam berwisata.
Soft travel merujuk pada gaya perjalanan yang lebih santai, ramah lingkungan, dan berfokus pada pengalaman yang mendalam, bukan hanya sekadar menikmati tempat-tempat wisata terkenal. Pada dasarnya, soft travel mengedepankan kualitas pengalaman, bukan kuantitas tempat yang dikunjungi.
Umumnya, wisatawan dari negara-negara dengan kesadaran yang lebih tinggi terhadap isu keberlanjutan dan budaya lokal cenderung lebih tertarik pada soft travel. Banyak wisatawan dari Jerman mencari pengalaman perjalanan yang berfokus pada keberlanjutan, ekowisata, dan menghormati budaya lokal. Jerman memiliki budaya perjalanan yang sangat memperhatikan dampak lingkungan dan sosial, sehingga banyak yang tertarik dengan konsep soft travel (David Weaver, 2001).
Wisatawan Belanda dikenal sering mengutamakan keberlanjutan dalam perjalanan mereka. Negara ini memiliki tingkat kesadaran lingkungan yang tinggi. Saat ini tidak sedikit wisatawan Belanda memilih untuk menghindari pariwisata massal serta lebih suka berinteraksi dengan masyarakat lokal dan menikmati perjalanan yang lebih tenang.
Negara lain yang wisatawannya lebih menyukai soft travel adalah Swedia, Denmark, Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Faktor pendidikan dan kesadaran lingkungan yang tinggi menjadikan soft travel menjadi alternatif baru dalam berwisata.
Indonesia, meski tak sebanyak wisatawan negara lain, mulai melirik soft travel juga. Indonesia, dengan keanekaragaman alam dan budaya yang luar biasa, menawarkan banyak destinasi soft travel yang sangat cocok untuk wisatawan yang mencari pengalaman lebih autentik, personal, ramah lingkungan, dan berkualitas.
Bali memiliki Ubud dan beberapa danau serta air terjun yang masih alami di Buleleng. Ubud dikenal dengan suasananya yang tenang, sawah terasering yang hijau, dan budaya Bali yang beragam. Sedangkan Buleleng memiliki alam yang indah dan masih asri, karena belum tersentuh banyak wisatawan.
Lombok memiliki Senggigi, Desa Sade, dan Gili Meno. Lombok merupakan destinasi yang lebih tenang dibandingkan Bali dan lebih dikenal dengan keindahan alamnya yang masih alami. Wisatawan dapat menikmati pantai yang indah, budaya Sasak yang otentik, dan keindahan alam seperti Gunung Rinjani dan Gili Meno. Lombok menawarkan pengalaman pariwisata yang lebih ramah lingkungan dan berfokus pada keberlanjutan.
Beberapa destinasi lain yang cocok untuk soft travel di Indonesia adalah Danau Toba, Sumatera Utara; Bromo, Jawa Timur; Wakatobi, Sulawesi Tenggara; Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur; Bunaken, Sulawesi Utara; dan tentunya Raja Ampat, Papua Barat. Semua destinasi itu memiliki produk wisata yang cocok untuk berwisata secara personal, berkualitas, dan berkelanjutan.
Kesadaran Berwisata
Banyak wisatawan kini semakin sadar akan dampak lingkungan dari pariwisata massal, seperti polusi, kerusakan ekosistem, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Soft travel menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dengan fokus pada keberlanjutan. Kesadaran berwisata menjadi salah satu faktor berkembangnya soft travel.
Wisatawan kini banyak yang memilih menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki di destinasi wisata daripada menggunakan kendaraan pribadi. Pilihan menginap wisatawan adalah akomodasi yang ramah lingkungan, seperti hotel dengan sertifikasi “hijau”.
Kesadaran berwisata mendorong wisatawan untuk merasakan sisi lain dari sebuah destinasi, jauh dari keramaian tempat wisata populer. Wisatawan memilih untuk mengunjungi desa-desa kecil, berpartisipasi dalam festival lokal, atau belajar keterampilan tradisional dari penduduk setempat.
Banyak wisatawan merasa bosan dengan pengalaman pariwisata yang terlalu komersial atau objek wisata yang sarat pengunjung. Tumbuh kesadaran berwisata dengan mencari pengalaman yang lebih mendalam dan autentik, seperti berinteraksi dengan masyarakat lokal, menikmati kuliner khas daerah, atau mengikuti kegiatan berbasis tradisi lokal.
Berwisata juga merupakan bentuk kesadaran baru untuk mengurangi stres dan menjaga kesejahteraan. Soft travel menjadi perjalanan dengan pengalaman yang lebih santai dan menenangkan. Perjalanan semacam ini seringkali lebih lambat, sehingga memungkinkan wisatawan untuk menikmati waktu tanpa terburu-buru, seperti dalam perjalanan hiking, meditasi, atau mengunjungi spa yang berbasis alam.
Sisi Positif
Belajar dari pengalaman pariwisata massal, seringkali berdampak negatif pada masyarakat lokal, seperti kesenjangan ekonomi atau perilaku wisatawan yang brutal. Soft travel memberi sisi positif pada manfaat ekonomi yang lebih merata untuk masyarakat lokal, dan berusaha untuk menghormati dan melestarikan budaya. Wisatawan memilih untuk bermalam di penginapan milik keluarga lokal atau membeli produk kerajinan tangan dari perajin lokal.
Pengalaman yang lebih personal merupakan keunggulan sekaligus sisi positif dari soft travel. Wisatawan cenderung mencari pengalaman yang lebih unik dan tidak biasa, seperti mengunjungi desa kecil, menikmati masakan lokal, atau terlibat dalam kegiatan berbasis komunitas.
Soft travel lebih mengutamakan perjalanan yang tidak tergesa-gesa. Hal ini memungkinkan wisatawan untuk menikmati momen, bersantai, dan menikmati perjalanan tanpa tekanan waktu. Apalagi bila motivasi wisatawan memang mencari ketenangan, bukan larut dalam kehebohan destinasi wisata massal.
Gejala overtourism yang melanda beberapa negara, termasuk Indonesia, membuat soft travel menjadi alternatif untuk mengurangi tekanan pada destinasi populer. Wisatawan ditawarkan objek-objek wisata yang belum dikenal atau belum banyak dikunjungi wisatawan. Sementara destinasi populer”istirahat” sejenak untuk melakukan pembenahan.
Meski demikian, patut pula diperhitungkan sisi negatif soft travel. Objek wisata yang ada di desa suatu ketika juga akan menjadi padat pengunjung jika terus didatangi. Perlu strategi pengembangan pariwisata agar masayarakat tidak tergantung pada sektor pariwisata di desa.
Satu hal yang perlu diwaspadai oleh wisatawan adalah munculnya praktik greenwashing dalam pariwisata, yaitu praktik pemasaran wisata yang menyesatkan. Pengelola bisnis pariwisata mengklaim produk wisata mereka ramah lingkungan atau berkelanjutan. Padahal mereka tidak memiliki pengelolaan limbah yang baik.
Oleh karena itu, selain kesadaran berwisata diperlukan pula kecerdasan dalam berwisata. Iklan dan promosi tentang objek wisata yang disebut “tersembunyi”, namun dalam kenyataannya ramai dikunjungi. Maka, waspadalah dalam berwisata. [T]
PILKADA Buleleng sudah usai. Namun ada cerita menarik yang tercecer dari pesta demokrasi di Bali Utara itu. Cerita ini fakta, bukan karangan bebas.
Cerita ini tentang nenek dari k...
HATI-HATI dengan tombol "share” atau “bagikan" di beranda profil medsosmu. Apa yang kamu bagikan mencerminkan pemikiran, argumen, bahkan sikapmu. Berbagi di media sosial tidaklah s...
Judul Film:
Manchester By The Sea
Produser:
Kimberly Steward, Lauren Beck, Matt Damon, Chris Moore, Kevin J. Walsh
Pemain:
Casey Affleck, Michelle Williams, Kyle Chandler, Luca...
TAK seperti biasa ketika menikmati perjalanan dari Klungkung menuju Singaraja lewat Batur Kintamani, Minggu 19 Februari siang, saya menemukan pemandangan menarik. Di jalan raya sek...
JIKA benci pada pahlawan kesiangan, carilah nasi kuning. Nasi kuning, bagi mahasiswa di Singaraja, bukanlah pahlawan kesiangan, seperti orang yang tiba-tiba datang ketika semua per...
Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari
Perempuan itu kembali mencoba duduk dan berusaha menenangkan dirinya. Kembali ia harus menghadap jendela, mengarah pada dirinya, tiga pasang kaca...
HANYUT
Hujan datang kenang hilang
Dia hanyut terbawa
Pahit manis yang terkenang
Dia hanyut terbawa
Tak perlu kau hilangkan
Dia hanyut terbawa
Hujan hadirkan suka cita
Dalam...
JIKA ditanya tentang akun “Punk Kwala Ngibur” (PKN) di facebook, banyak orang pasti menjawab: lucu.
Bagaimana tidak. Akun ini memang tidak biasa. Dengan membawa pesan lewat cerit...
SETIAP orang memiliki kenangan. Entah itu kenangan indah atau kenangan pahit. Termasuk kenangan terhadap pohon kamboja di Kampus Bawah Undiksha Singaraja.
Saya sendiri sedih ketik...
Tidak ada pohon yang mematangkan buahnya sebelum waktunya.
Jika kita tidak membiarkan itu terjadi,
Tidak akan pernah bisa memetik buah yang manis.
Begitu juga kita, tidak akan pern...