GEDONG KIRTYA sebagai rumah bagi ribuan manuskrip lontar, pada pagi sampai siang itu, berubah menjadi arena percakapan lintas budaya. Acara itu dipandu Sanne Breimer, penulis yang fokus pada percakapan dekolonisasi.
Pagi itu, Sanne membeberkan bagaimana bercerita dan menulis cerita dalam perspektif dekolonial di workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali”, salah satu mata acara Singaraja Literary Festival (SLF) 2025 di Gedong Kirtya, Jum’at, 25 Juli 2025.
Sanne Breimer adalah seorang penulis dan konsultan media, juga pelatih jurnalistik. Ia telah bekerja selama 13 tahun untuk Dutch Public Broadcasting, dan kini tengah mengembangkan Jurnalisme Inklusif dengan fokus pada topik kesetaraan, dekolonialitas, dan kesejahteraan mental.
Suasana workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali” | Foto: Gangga
Dalam lokakarya itu, ia meminta para peserta untuk menulis tentang 'luka kolonial' mereka, di mana sejarah kolonial menyentuh kehidupan mereka dalam konteks Bali. Ya, menulis tentang bagaimana struktur kolonial masih memengaruhi kehidupan kita saat ini.
“Saya meminta mereka menulis tentang 'luka kolonial'. Di mana kolonialisme memengaruhi hidup kita? Di mana kita merasa tidak nyaman dalam hidup kita sendiri terkait topik ini?” kata Sanne.
Misalnya, melihat begitu banyak pengaruh dari luar yang sama sekali tidak berkaitan dengan budaya, makanan, atau adat Bali.
“Tidak selalu buruk, tetapi terkadang terasa tidak nyaman dan menyakitkan,” lanjut Sanne.
Maka, untuk menyembuhkan luka-luka itu, kata Sanne, sangat perlu untuk memulainya dengan merenung. Kemudian, membuat keputusan yang lebih sadar. Bagaimana kita bisa hidup secara etis, dengan menghormati tanah dan orang-orang yang tinggal di sini, dan tanpa merusak alam?
Suasana workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali” | Foto: Gangga
Kepada para peserta yang terdiri dari pelajar, peneliti, jurnalis, hingga pegiat seni, Sanne menekankan pentingnya menulis dengan kesadaran dekolonial: tidak sekadar mengkritik masa silam, tetapi membangun narasi baru yang menumbuhkan kemanusiaan.
“Bali sering kali menjadi latar, bukan tokoh utama,” kata seorang peserta dari kalangan jurnalis muda. “Hari ini saya sadar, menulis bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga tentang memberi ruang pada subjek untuk bicara.”
Lantas Sanne menanggapinya dengan senyum, “Itu inti dekolonial storytelling—mendengar kembali, dan membiarkan cerita itu lebih hidup dari dalam.”
SLF 2025 yang mengusung tema Buda Kecapi—energi penyembuhan semesta—menemukan relevansi mendalam melalui sesi ini. Ketika dunia dihadapkan pada perusakan alam dan erosi nilai-nilai kultural, menulis menjadi tindakan penyembuhan.
Suasana workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali” | Foto: Gangga
Sanne melihat lontar sebagai jembatan antara masa silam dan masa depan. “Naskah-naskah ini bukan hanya dokumen sejarah, mereka adalah napas. Menulis ulang bukan berarti menghapus, tetapi menghidupkan kembali,” katanya.
Di akhir sesi, para peserta diminta membaca sepenggal tulisan mereka. Ada suara gemetar, ada tawa kecil, ada keheningan panjang setelah kalimat terakhir. Gedong Kirtya, dengan segala memorinya, seakan mendengar. Di titik itu, terasa bahwa bercerita bukan sekadar aktivitas sastra; ia adalah cara kota ini menyembuhkan dirinya, perlahan namun pasti.
Sesi ini menegaskan misi SLF bukan hanya merayakan sastra, tetapi menghidupkan dialog. Dari manuskrip lontar hingga laptop generasi baru, dari suara lokal hingga perspektif global, Singaraja Literary Festival membuktikan bahwa cerita bisa menjadi jembatan yang lebih kompleks.[T]
Reporter: Gangga Penulis: Sonhaji Abdullah Editor: Jaswanto
Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026. Mereka larut dalam Rekasadana Tari Legong yang d...
"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."
KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaba...
SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak lagi berdiri di belaka...
Tuhan Beri Aku Waktu
Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku merindumu tak terbatas waktuselagi napas ini bergelayut...
“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.”
PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika permukaan. Kemegahan ko...
PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab moral dan sosialnya dalam m...
SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan fil...
“Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?"
KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade lalu, karya eksplorasi busana yang ia tampilkan di...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING INTERCULTURAL AWA...
BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma solar, dan tubuh-tubuh kekar dengan peluh bergulir...