17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
GEDONG KIRTYA sebagai rumah bagi ribuan manuskrip lontar, pada pagi sampai siang itu, berubah menjadi arena percakapan lintas budaya. Acara itu dipandu Sanne Breimer, penulis yang fokus pada percakapan dekolonisasi.
Pagi itu, Sanne membeberkan bagaimana bercerita dan menulis cerita dalam perspektif dekolonial di workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali”, salah satu mata acara Singaraja Literary Festival (SLF) 2025 di Gedong Kirtya, Jum’at, 25 Juli 2025.
Sanne Breimer adalah seorang penulis dan konsultan media, juga pelatih jurnalistik. Ia telah bekerja selama 13 tahun untuk Dutch Public Broadcasting, dan kini tengah mengembangkan Jurnalisme Inklusif dengan fokus pada topik kesetaraan, dekolonialitas, dan kesejahteraan mental.

Suasana workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali” | Foto: Gangga
Dalam lokakarya itu, ia meminta para peserta untuk menulis tentang 'luka kolonial' mereka, di mana sejarah kolonial menyentuh kehidupan mereka dalam konteks Bali. Ya, menulis tentang bagaimana struktur kolonial masih memengaruhi kehidupan kita saat ini.
“Saya meminta mereka menulis tentang 'luka kolonial'. Di mana kolonialisme memengaruhi hidup kita? Di mana kita merasa tidak nyaman dalam hidup kita sendiri terkait topik ini?” kata Sanne.
Misalnya, melihat begitu banyak pengaruh dari luar yang sama sekali tidak berkaitan dengan budaya, makanan, atau adat Bali.
“Tidak selalu buruk, tetapi terkadang terasa tidak nyaman dan menyakitkan,” lanjut Sanne.
Maka, untuk menyembuhkan luka-luka itu, kata Sanne, sangat perlu untuk memulainya dengan merenung. Kemudian, membuat keputusan yang lebih sadar. Bagaimana kita bisa hidup secara etis, dengan menghormati tanah dan orang-orang yang tinggal di sini, dan tanpa merusak alam?

Suasana workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali” | Foto: Gangga
Kepada para peserta yang terdiri dari pelajar, peneliti, jurnalis, hingga pegiat seni, Sanne menekankan pentingnya menulis dengan kesadaran dekolonial: tidak sekadar mengkritik masa silam, tetapi membangun narasi baru yang menumbuhkan kemanusiaan.
“Bali sering kali menjadi latar, bukan tokoh utama,” kata seorang peserta dari kalangan jurnalis muda. “Hari ini saya sadar, menulis bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga tentang memberi ruang pada subjek untuk bicara.”
Lantas Sanne menanggapinya dengan senyum, “Itu inti dekolonial storytelling—mendengar kembali, dan membiarkan cerita itu lebih hidup dari dalam.”
SLF 2025 yang mengusung tema Buda Kecapi—energi penyembuhan semesta—menemukan relevansi mendalam melalui sesi ini. Ketika dunia dihadapkan pada perusakan alam dan erosi nilai-nilai kultural, menulis menjadi tindakan penyembuhan.

Suasana workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali” | Foto: Gangga
Sanne melihat lontar sebagai jembatan antara masa silam dan masa depan. “Naskah-naskah ini bukan hanya dokumen sejarah, mereka adalah napas. Menulis ulang bukan berarti menghapus, tetapi menghidupkan kembali,” katanya.
Di akhir sesi, para peserta diminta membaca sepenggal tulisan mereka. Ada suara gemetar, ada tawa kecil, ada keheningan panjang setelah kalimat terakhir. Gedong Kirtya, dengan segala memorinya, seakan mendengar. Di titik itu, terasa bahwa bercerita bukan sekadar aktivitas sastra; ia adalah cara kota ini menyembuhkan dirinya, perlahan namun pasti.
Sesi ini menegaskan misi SLF bukan hanya merayakan sastra, tetapi menghidupkan dialog. Dari manuskrip lontar hingga laptop generasi baru, dari suara lokal hingga perspektif global, Singaraja Literary Festival membuktikan bahwa cerita bisa menjadi jembatan yang lebih kompleks.[T]
Reporter: Gangga
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...