Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
SETIAP tahun pemerintah pusat maupun daerah sering menyerukan pembangunan infrastruktur. Jalan raya, pelabuhan, bandar udara, rel kereta api, pembangkit listrik, perumahan dan saluran air adalah infrastruktur yang jadi prioritas sampai membenani keuangan. Proses pembangunan infrastruktur tersebut terkadang menimbulkan dampak negatif sosial dan ekologi. Tanah, sungai, danau dan laut yang digunakan untuk produksi pangan dikorbankan untuk hal tersebut. Masyarakat kehilangan mata pencaharian. Lingkungan hidup terdegradasi.
Dari tujuh infrastruktur di atas ada dua infrastruktur yang lebih penting. Dua infrastruktur ini menentukan hidup matinya suatu bangsa. Sepanjang sejarah manusia sebagian besar kerajaan runtuh karena dua infrastruktur ini hancur. Bencana kelaparan dan kekeringan adalah tandanya. Ketika pemerintah membunyikan slogan NKRI harga mati sementara membiarkan bahkan berperan dalam kerusakan dua infrastruktur ini sampai parah, tindakan tersebut tampak konyol. Dua infrastruktur yang dimaksud adalah tanah subur dan air yang jernih.
Tanah subur berarti tanah itu kaya dengan berbagai macam organisme. Dalam sebidang tanah subur terdapat ribuan spesies mahluk hidup yang hanya dapat diamati oleh mikroskop electron dan kaca pembesar. Mahluk hidup yang dapat diamati tanpa alat bantu yaitu cacing tanah dimana ia menggemburkan tanah. Cacing tanah memperoleh nutrisi dari tanah dan setiap mengeluarkan sisa makanan mengembalikan nutrisi ke dalam tanah.
Tanah merupakan wadah yang hidup. Ia bukan benda mati seperti bebatuan dan pasir. Tanah hidup yang digenggam bersifat lengket dan lunak. Ia tidak seperti butiran bubuk yang melayang saat ditiup. Tidak juga keras seperti batu sehingga tidak dapat memberikan tempat bagi akar tanaman untuk tinggal. Tanah yang hidup ini membuatnya menjadi rumah bagi persemaian benih. Tanah hidup menyimpan air karena tutupan tanaman seperti pohon dan rumput menahannya. Ini membuat air tidak mengalir begitu saja yang mana menimbulkan banjir bandang. Kelebihan air yang tidak terserap oleh tanaman akan disalurkan ke bawah tanah sebagai mata air jernih. Air bawah tanah diperbaharui berkat tanah hidup
Air jernih di sini berupa sungai, danau, mata air dan lautan yang dasarnya dapat terlihat jelas hingga kedalaman 10 meter. Saat memperhatikan air jernih akan terlihat aneka warna di dasarnya. Air yang keruh mengaburkan pandangan. Kejernihan air merupakan faktor terpenting dalam kesehatan mahluk hidup di situ. Air jernih ini digunakan untuk budidaya ikan dan rumput laut, irigasi, tempat minum hewan dan kesehatan manusia yaitu mandi cuci kakus. Kekayaan sejati suatu bangsa berasal dari dua infrastruktur ini.
Amati barang barang yang dimakan dan diminum termasuk untuk obat obatan. Sentuh benda yang dikenakan di badan, dipakai saat duduk dan tidur, dan melapisi benda lainnya. Kemudian lihat kursi, meja, lemari , pintu, jendela dan dinding bangunan yang warnahnya mirip karena berasal dari bahan yang sama. Saat berjalan jalan di toko perhiasan, kita dapat menemui kalung, gelang dan cincin yang menggunakan butiran butiran kerang dari dasar laut dalam dimana harga satu butir mencapai puluhan juta rupiah.
Benda-benda yang disebutkan di atas, yang berhubungan dengan kehidupan kita sehari hari berasal, dari tanaman dan hewan yang hidup di darat maupun perairan. Pertanian dalam arti luas adalah mengasilkan produk dari tumbuhan dan hewan di daratan dan lautan. Ini termasuk pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Semua makanan bernutrisi, obat obatan untuk menyembuhkan, cairan pewangi dengan aroma menyenangkan, bahan bangunan, mebel dan kerajinan dari kayu dan perhiasan mutiara didasari oleh dua hal yaitu tanah subur dan air jernih.
Perekonomian nyata suatu negara berasal dari sini. Betapapun canggihnya teknologi dan megahnya bangunan yang didirikan setiap manusia tidak akan pernah dapat lepas dari dua hal ini. Suatu kesalahan besar menanduskan tanah dan mengkeruhkan air demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek dengan penanaman monokultur yang menimbulkan penebangan hutan skala besar dan pengeringan lahan basah. Dua hal yang dilakukan untuk perkebunan monokultur sawit.
Akibat lain monokultur adalah penggunaan berlebihan pupuk dan pembasmi hama kimia yang bahan bakunya diperoleh dari menambang perut bumi lalu mencemari udara dengan gas rumah kaca, membuat air tak layak dihuni ikan, dan biota tanah seperti cacing jumlahnya langka dalam sebidang tanah yang terlalu banyak zat kimia dibandingkan tanah pertanian ramah lingkungan.
Atas nama pembangunan, industri dan tambang membuang sampah padat dan limbah beracun ke sungai, danau dan lautan. Kualitas air menurun. Bahkan mata air yang sudah terkena zat kimia tidak layak untuk membasahi sawah dan pekarangan rumah yang pada gilirannya menurunkan kualitas makanan. Jarang ada orang yang mau menyentuh air itu atau izinkan hewan piarannya minum air tersebut jika tidak terpaksa. Hasil-hasil pertanian dan perikanan dari lahan, sungai, danau, tepi pantai dan laut terpuruk.
Di atas kertas pemegang kebijakan ekonomi, kegiatan yang merusak ini direstui karena mendatangkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto dimana dalam indikator ini pertumbuhan uang dari barang dan jasa adalah tanda kemakmuran suatu negara meski efek sampingnya diabaikan. Mendirikan perkebunan skala besar, tambang yang meratakan bukit dan pabrik raksasa membuat perputaran uang yang luar biasa besar dan cepat.
Kegiatan perputaran uang ini mencakup pemusnahan lahan, pembangunan jalan dan pelabuhan, pengadaan mesin-mesin, bahan bangunan dan kimia dan tenaga kerja, pelubangan bukit, dan penyaluran ke konsumen. Perputaran uang di sini mencapai trilliun rupiah. Dalam prosesnya di tengah jalan, banyak wilayah rakyat kecil dirampas tanpa ada kompensasi layak dan habitat satwa liar musnah karena dianggap tidak berkontribusi pada PDB.
Jika hutan dan lahan basah dibiarkan asri dengan keragaman hewan dan tanamannya yang berfungsi sebagai pemurni udara dan menjaga mata air jernih selama ribuan tahun dan komunitas setempat menggunakaannya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan berbagi habitat dengan satwa liar, itu hanya menghasilkan PDB yang lebih sedikit untuk jangka pendek. PDB akan dihasilkan saat hutan dijadikan kayu dan lahan basah yang mana jadi tempat aneka burung dan ikan dijadikan gedung dan perumahan oleh pengembang. Satwa liar semakin terancam punah dan rakyat menghadapi kesengsaraan ekologis seperti sesak nafas dan berbagai penyakit dari limbah. Bahkan banjir jika hutan yang dirusak adalah kawasan pegunungan dan perbukitan.
Kepunahan flora dan fauna, kesengsaraan ekologi rakyat kecil, degradasi tanah dan pencemaran air merupakan efek samping kegiatan demi Produk Domestik Bruto . Jika empat dampak ekologis itu dimasukkan dalam kalkulasi Produk Domestik Bruto maka pertumbuhannya dapat menjadi minus.
Saat ini kelangkaan air bersih dan tanah subur terus mengintai yang berujung pada konflik di masyarakat. Paradigma alternatif harus dibangun berdasarkan pada dua hal ini yaitu tanah subur dan air jernih sebagai solusi permulaan. Untuk dapat hidup makmur setiap orang butuh makanan bernutrisi, air jernih, pakaian yang sesuai, tempat berteduh layak, ketercukupan energi, kesehatan fisik, jiwa dan lingkungan, rasa aman dan pendidikan relevan untuk mengembangkan daya cipta rasa dan karsa.
Barang-barang yang diperoleh untuk memenuhi delapan kebutuhan pokok tersebut berasal dari hubungan yang erat antara siklus air dan kesuburan tanah. Peran negara menurut konstitusi dimana menjamin setiap warga hidup layak wajib memfasilitasi tiap warganya untuk mengakses delapan kebutuhan pokok tersebut. Tanah subur dan air jernih adalah modal dasar untuk itu. Jika pertumbuhan PDB kecil (setelah keuntungan dikurangi dengan empat beban yang dihasilkan dengan perhitungan jujur) sementara tiap warga negara dapat mencukupi delapan kebutuhan tersebut, kualitas ekologi terjaga, habitat satwa yang terdegrasi dipulihkan, air keruh menjadi jernih dan tanah tandus kembali subur itu bukti bahwa kelayakan hidup bangsa tercapai. [T]
Penulis: Doni Sugiarto Wijaya
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...