AKU duduk di lantai Sasana Budaya waktu itu. Menjalankan tugas sebagai fotografer di acara Singaraja Literary Festival. Di tangan kananku menggenggam kamera, siap menangkap momen. Di depanku, di panggung Sasana Budaya, empat orang duduk bersebelahan, Henry Manampiring, Putu Fajar Arcana, dan Shinta Febriany sebagai pembicara; sedangkan Willy Fahmi Agiska sebagai moderatornya. Mereka sebagai tombak pandangan saat berdiskusi perihal “Puisi yang Mengobati Diri” di gelaran Festival Sastra di Singaraja --- Singaraja Literary Festival, Sabtu, 26 Juli 2025.
Tetapi buatku, yang terasa justru puisi membuka luka-luka yang diam-diam kita pendam. Kenapa demikian? Semua berawal ketika ketidaksengajaanku yang terpancing oleh pertanyaan Willy kepada peserta diskusi. “Kalian percaya nggak, puisi itu bisa mengobati diri?” kata Willy. Awalnya aku menyimak sambil mengatur fokus kamera, ehh…tanpa sadar fokus hatiku malah ikut terarah ke pembahasan mereka.
Belum sempat kepalaku tuk merespon pertanyaan itu, Henry sebagai pembicara menjawab pertanyaan itu. “Saya bahkan baru tahu bahwa sajak bisa mengobati diri, percaya tidak percaya,” jawab penulis buku Filosofi Teras yang terkenal itu. “Awal penyembuhan itu adalah pengakuan bahwa kita sakit. Dulu, dari luar saya terlihat baik-baik saja, tapi di dalam, awur-awuran dan banyak sakitnya,” lanjut Henry.
Kadang kita sibuk menolak perasaan, sibuk membungkam luka, hingga lupa bahwa pengakuan adalah awal dari kesembuhan. Seperti buku “Sajaksel”—kumpulan sajak dari Henry Manampiring—yang lahir dari keresahan pribadi dan sosial. Tentang toxic culture, tentang absurditas dunia kerja, sampai tentang orang-orang yang menyewa lanyard hingga enam ratus ribu rupiah untuk dipamerkan saat bukber. Sempat ia bacakan salah satu puisi berjudul “Gantung”. Dan, penggalan kalimat yang kuingat adalah “Kartumu harus bernama, atau martabatmu digantung”.
“Sakit kan? Berpura-pura agar dibanggakan?” tanya Henry separuh tawa dan getir.
Sedangkan Fajar Arcana punya nada berbeda. Lebih terarah, logis bagiku. “poetry is a soul, menulis puisi itu justru sakit. Sakit itu dicari oleh seorang penyair, dari situlah saya merasa menjadi lebih rasional. Proses kreatif membuat puisi adalah cara saya menjaga kewarasan,” terangnya. Ia bahkan sempat melontarkan lelucon, menyebut seseorang bernama Mas Ruscita Dewi yang dulu penyair, sekarang jadi dukun.
Semuanya tertawa, apakah benar itu sebagai penanda bahwa puisi memang bekerja di dasar jiwa, tempat yang hanya bisa disentuh oleh kesakitan dan ketelanjangan diri. Fajar meminta salah satu relawan untuk membacakan puisinya yang berjudul “Perjalanan Kesedihan”, dan puisi itu pun dibacakan oleh seorang perempuan berambut pendek dengan kacamata persegi, cantik dan ciamik outfitnya, aku lupa namanya karena terlalu fokus mendengarkan.
Ingin kudengar Fajar Arcana menyuarakan puisinya sendiri yang dibuat di dalam mobil, tetapi ia sempat mengatakan bahwa tak mau membaca puisi, karena tidak ingin kembali ke momen sakit di kala itu.
Di satu sisi. Shinta bercerita tentang puisi yang ia tulis, seperti puisinya yang berjudul “Gambar Kesenian di Jendela” tentang perasaannya sebagai seorang Buddhisyang dikelilingi oleh budaya Jawa. “Saya menghadapi banyak pertanyaan tentang identitas saya. Puisi ini membantu saya melihat potensi yang bisa saya lakukan dengan diri saya, dengan pengalaman menjadi seorang asing,” ujarnya. Menurutnya, puisi itu seperti ruang yang pelan-pelan mengurai luka lama, mengembalikan sejarah diri, menyembuhkan dengan cara yang lembut dan tidak terburu-buru.
Entah kenapa kalimat-kalimat itu membekas dan membuatku mematung. Profesi sebagai tukang foto kusisihkan terlebih dahulu, terpana dengan diskusi mereka. Tak ingin beranjak pergi, pertanyaan kembali diujarkan oleh Willy yang mungkin sangat relate dengan orang-orang sekarang. “Dalam wacana tentang mental health dan healing yang semakin kuat lima tahun terakhir ini, bagaimana kalian menempatkan puisi di dalamnya?” tanya Willy kepada pembicara.
Fajar menjawab bahwa sejak pandemi, healing menjadi kebutuhan. Diam berubah menjadi beban. Manusia mencari suara, dan puisi adalah salah satu bentuknya. “Buat saya, seni adalah jalan penyembuhan yang paling cocok,” katanya.
Henry berani menceritakan titik kehancurannya dulu, membuka sesuatu yang sangat-sangat personal di ruang terbuka. “Tahun 2017 saya hampir bunuh diri,” katanya. Seketika ruang hening, aku tidak menduga bahwa seorang Henry Manampiring sempat ingin mengakhiri hidupnya.
“Saya punya pekerjaan bagus, gaji besar, punya rumah sendiri. Tapi saya frustrasi karena…tidak ada pemicu. Saya tidak sedih, saya tidak putus asa, saya bingung. Dan sajak yang menyelamatkan saya, memberikan suara pada kebingungan itu,” lirihnya. Intinya seperti itu, aku juga bingung mendengarnya, rasanya seperti memegang cermin yang menghadap langsung ke jiwaku.
Shinta menyusul dengan kalimat “Puisi menjadi jalan saya untuk pulang.” Ia percaya bahwa menulis puisi bukanlah proses instan menuju sembuh. Tapi semacam jalan panjang untuk mengimajinasikan ulang apa yang rusak, apa yang patah dalam diri. Puisi adalah curahan, tidak semerta-merta menyembuhkan, tapi ia membuka jalan itu.
Penutup? Tidak ada penutup, seperti kata Willy Fahmi, di diskusi kala itu.[T]
Singaraja, 26 Juli 2025
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra Editor: Jaswanto
LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang ketika sebuah suara mulai terdengar p...
DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Karena...
PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit memudar dari kelam menuju keabu-abuan, lalu menyala...
DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli dengan menyisihkan upah sebagai wartawan.
Tidak...
Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot masih mati, dan ruangan masih lengang. Kalau bera...
MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor 30 T...
SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda, kali pertama berenang di pantai, kali pe...
Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api itu berputar-putar. Juga roh-roh y...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026
Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka atau membiarkan beroperasinya fasilitas...
Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026
---
PENDIDIKAN selalu menjadi "h...