Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
AKU duduk di lantai Sasana Budaya waktu itu. Menjalankan tugas sebagai fotografer di acara Singaraja Literary Festival. Di tangan kananku menggenggam kamera, siap menangkap momen. Di depanku, di panggung Sasana Budaya, empat orang duduk bersebelahan, Henry Manampiring, Putu Fajar Arcana, dan Shinta Febriany sebagai pembicara; sedangkan Willy Fahmi Agiska sebagai moderatornya. Mereka sebagai tombak pandangan saat berdiskusi perihal “Puisi yang Mengobati Diri” di gelaran Festival Sastra di Singaraja --- Singaraja Literary Festival, Sabtu, 26 Juli 2025.
Tetapi buatku, yang terasa justru puisi membuka luka-luka yang diam-diam kita pendam. Kenapa demikian? Semua berawal ketika ketidaksengajaanku yang terpancing oleh pertanyaan Willy kepada peserta diskusi. “Kalian percaya nggak, puisi itu bisa mengobati diri?” kata Willy. Awalnya aku menyimak sambil mengatur fokus kamera, ehh…tanpa sadar fokus hatiku malah ikut terarah ke pembahasan mereka.
Belum sempat kepalaku tuk merespon pertanyaan itu, Henry sebagai pembicara menjawab pertanyaan itu. “Saya bahkan baru tahu bahwa sajak bisa mengobati diri, percaya tidak percaya,” jawab penulis buku Filosofi Teras yang terkenal itu. “Awal penyembuhan itu adalah pengakuan bahwa kita sakit. Dulu, dari luar saya terlihat baik-baik saja, tapi di dalam, awur-awuran dan banyak sakitnya,” lanjut Henry.
Kadang kita sibuk menolak perasaan, sibuk membungkam luka, hingga lupa bahwa pengakuan adalah awal dari kesembuhan. Seperti buku “Sajaksel”—kumpulan sajak dari Henry Manampiring—yang lahir dari keresahan pribadi dan sosial. Tentang toxic culture, tentang absurditas dunia kerja, sampai tentang orang-orang yang menyewa lanyard hingga enam ratus ribu rupiah untuk dipamerkan saat bukber. Sempat ia bacakan salah satu puisi berjudul “Gantung”. Dan, penggalan kalimat yang kuingat adalah “Kartumu harus bernama, atau martabatmu digantung”.
“Sakit kan? Berpura-pura agar dibanggakan?” tanya Henry separuh tawa dan getir.
Sedangkan Fajar Arcana punya nada berbeda. Lebih terarah, logis bagiku. “poetry is a soul, menulis puisi itu justru sakit. Sakit itu dicari oleh seorang penyair, dari situlah saya merasa menjadi lebih rasional. Proses kreatif membuat puisi adalah cara saya menjaga kewarasan,” terangnya. Ia bahkan sempat melontarkan lelucon, menyebut seseorang bernama Mas Ruscita Dewi yang dulu penyair, sekarang jadi dukun.
Semuanya tertawa, apakah benar itu sebagai penanda bahwa puisi memang bekerja di dasar jiwa, tempat yang hanya bisa disentuh oleh kesakitan dan ketelanjangan diri. Fajar meminta salah satu relawan untuk membacakan puisinya yang berjudul “Perjalanan Kesedihan”, dan puisi itu pun dibacakan oleh seorang perempuan berambut pendek dengan kacamata persegi, cantik dan ciamik outfitnya, aku lupa namanya karena terlalu fokus mendengarkan.
Ingin kudengar Fajar Arcana menyuarakan puisinya sendiri yang dibuat di dalam mobil, tetapi ia sempat mengatakan bahwa tak mau membaca puisi, karena tidak ingin kembali ke momen sakit di kala itu.
Di satu sisi. Shinta bercerita tentang puisi yang ia tulis, seperti puisinya yang berjudul “Gambar Kesenian di Jendela” tentang perasaannya sebagai seorang Buddhisyang dikelilingi oleh budaya Jawa. “Saya menghadapi banyak pertanyaan tentang identitas saya. Puisi ini membantu saya melihat potensi yang bisa saya lakukan dengan diri saya, dengan pengalaman menjadi seorang asing,” ujarnya. Menurutnya, puisi itu seperti ruang yang pelan-pelan mengurai luka lama, mengembalikan sejarah diri, menyembuhkan dengan cara yang lembut dan tidak terburu-buru.
Entah kenapa kalimat-kalimat itu membekas dan membuatku mematung. Profesi sebagai tukang foto kusisihkan terlebih dahulu, terpana dengan diskusi mereka. Tak ingin beranjak pergi, pertanyaan kembali diujarkan oleh Willy yang mungkin sangat relate dengan orang-orang sekarang. “Dalam wacana tentang mental health dan healing yang semakin kuat lima tahun terakhir ini, bagaimana kalian menempatkan puisi di dalamnya?” tanya Willy kepada pembicara.
Fajar menjawab bahwa sejak pandemi, healing menjadi kebutuhan. Diam berubah menjadi beban. Manusia mencari suara, dan puisi adalah salah satu bentuknya. “Buat saya, seni adalah jalan penyembuhan yang paling cocok,” katanya.
Henry berani menceritakan titik kehancurannya dulu, membuka sesuatu yang sangat-sangat personal di ruang terbuka. “Tahun 2017 saya hampir bunuh diri,” katanya. Seketika ruang hening, aku tidak menduga bahwa seorang Henry Manampiring sempat ingin mengakhiri hidupnya.
“Saya punya pekerjaan bagus, gaji besar, punya rumah sendiri. Tapi saya frustrasi karena…tidak ada pemicu. Saya tidak sedih, saya tidak putus asa, saya bingung. Dan sajak yang menyelamatkan saya, memberikan suara pada kebingungan itu,” lirihnya. Intinya seperti itu, aku juga bingung mendengarnya, rasanya seperti memegang cermin yang menghadap langsung ke jiwaku.
Shinta menyusul dengan kalimat “Puisi menjadi jalan saya untuk pulang.” Ia percaya bahwa menulis puisi bukanlah proses instan menuju sembuh. Tapi semacam jalan panjang untuk mengimajinasikan ulang apa yang rusak, apa yang patah dalam diri. Puisi adalah curahan, tidak semerta-merta menyembuhkan, tapi ia membuka jalan itu.
Penutup? Tidak ada penutup, seperti kata Willy Fahmi, di diskusi kala itu.[T]
Singaraja, 26 Juli 2025
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Jaswanto
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...