PEMERINTAH telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam APBN dan APBD sebagai langkah strategis untuk mendorong belanja negara yang lebih produktif, akuntabel, dan tepat sasaran. Kebijakan ini berdampak langsung pada dunia pendidikan, di mana berbagai daerah mulai menerapkan pembatasan terhadap kegiatan seremonial yang bersifat konsumtif, seperti studi tour ke luar kota, perayaan wisuda dari jenjang SD hingga SMA/SMK, serta graduation atau ulang tahun sekolah yang melibatkan penyanyi profesional atau DJ.
Di tengah perubahan arah kebijakan tersebut, SMK Negeri 1 Petang menjawab tantangan dengan cara yang kreatif dan bermakna. Sekolah menyelenggarakan kegiatan pendakian ke Pura Luhur Pucak Mangu sebagai bagian dari acara ramah-tamah warga sekolah bersama siswa baru pasca Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kegiatan ini bukan hanya menjadi alternatif rekreasi sehat dan murah, tetapi juga menjadi sebuah perjalanan spiritual, edukatif, dan ekologis.
Sebelum melakukan pendakian, seluruh peserta mengawali dengan melaksanakan persembahyangan di Pura Penataran Agung Pucak Mangu, Tinggan. Di sana seluruh peserta memohon anugrah dan kekuatan agar bisa melakukan pendakian dengan selamat. Setelah selesai persembahyangan, baru dilanjutkan dengan perjalanan menelusuri hutan dengan semak dan pepohonan yang besar-besar.
Puncak Mangu, menjulang setinggi 2.096 mdpl juga memiliki nama lain Gunung Catur. Kata “Catur” dalam bahasa Sanskerta berarti "empat", merujuk pada posisi gunung ini yang secara spiritual berada di poros tengah empat penjuru mata angin (catur loka pala), serta menjadi titik penting bagi ekosistem alam Bali. Selain itu, ada pula yang menyebutnya gunung Catur karena merupakan gunung tertinggi keempat di Bali. Dalam tradisi Bali, gunung adalah tempat suci, dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan leluhur. Oleh karena itu, menjaga kesuciannya adalah kewajiban spiritual dan moral.
Sembanhyang bersama di Pura Pucak Mangu | Foto: Dok. SMKN 1 Petang
Pendakian ini menjadi napak tilas spiritual para leluhur yang dengan kejernihan jnana membangun tempat suci di puncak hutan dan tebing. Di tengah jalur menanjak, para peserta—guru, pegawai, dan siswa kelas X, XI, dan XII—menapaki bukan hanya tanah dan bebatuan, tetapi juga kesadaran akan kebesaran alam dan pentingnya pelestarian. Di puncak gunung, berdiri dalam sunyi Pura Luhur Pucak Mangu yang suci. Dari puncak, peserta disuguhi panorama memesona: Danau Beratan di kejauhan, udara bersih yang menyegarkan, dan lereng hijau yang meneduhkan jiwa.
Saat berada di Puncak Mangu, pendaki mendapatkan daya tarik tersendiri. Selain pelinggih yang sakral, juga adalah hadirnya kerumuman monyet yang nakal dan lucu. Mereka selalu setia menunggu dan jumlahnya semakin banyak manakala ada pengunjung yang datang dan mencapai puncak. Mereka itu kumpulan monyet-monyet lapar. Mereka selalu memanfaatkan kelengahan pendaki lalu mencuri barang bawaan pendaki dan dibawanya lari ke semak-semak. Di balik itu, mereka sungguh merupakan suaka margasatwa yang memiliki nilai penting secara ekologis.
Perjalanan yang mengasyikkan menuju pucak Mangu | Foto: Dok. SMKN 1 Petang
Selain itu, pendaki juga bisa melihat dari dekat pohon-pohon besar dan langka yang mungkin telah berumur ratusan tahun. Alam gunung juga lebih lengkap ketika terdengar suara-suara burung langka yang nyaris tidak ditemukan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hawa yang sangat sejuk, menjadikan suasana itu mengundang kontemplasi dan rasa syukur atas anugerah Tuhan melalui ciptaan-Nya.
Yang lebih penting, pendakian ini tidak lepas dari praktik tanggung jawab ekologis. Saat perjalanan turun, setiap peserta diwajibkan memungut sampah plastik yang tercecer di sepanjang jalur pendakian dan membawanya ke tempat sampah yang tersedia di bawah, di pinggir hutan. Ini bukan sekadar aksi bersih-bersih, melainkan sebuah bentuk pendidikan karakter yang mengajarkan bahwa menjaga kesucian tempat suci adalah tanggung jawab bersama. Sementara alam bukanlah objek eksploitasi melainkan ruang sakral yang harus dirawat.
Kegiatan ini adalah hasil inisiatif OSIS SMKN 1 Petang, yang secara sadar tidak memilih kegiatan mahal dan seremonial, tetapi merancang acara berbasis alam yang sederhana, sehat, hemat, dan sarat makna. Di tengah wacana pelarangan studi tour yang berbiaya besar, kegiatan seperti ini menjadi contoh bahwa pembelajaran kontekstual dan nilai-nilai luhur bisa diajarkan secara menyenangkan tanpa harus memberatkan biaya orang tua.
Bersih-bersih sampah di puncak | Foto: Dok. SMKN 1 Petang
Dengan melibatkan sekitar 200 peserta dari kalangan guru, pegawai, dan siswa, kegiatan ini selain mempererat solidaritas antargenerasi di sekolah, juga memperkuat spiritualitas siswa. Siswa tidak sekadar berjalan kaki menuju puncak, tetapi juga belajar menyatu dengan alam, menghargai warisan budaya, serta menumbuhkan empati terhadap lingkungan.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu membutuhkan gedung mewah dan anggaran besar. Alam adalah ruang belajar terbuka yang menyembuhkan, dan perjalanan adalah sarana pendidikan karakter. Semoga kegiatan seperti ini menjadi tradisi baru dalam dunia pendidikan, di mana sekolah tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menumbuhkan manusia yang sadar, peduli, dan bersyukur atas karunia kehidupan. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...