Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
KELAS riuh. Jumat, 1 Agustus 2025. Para siswa SDN 1 Paket Agung dengan seragam yang unik berkumpul di ruangan itu. Ada yang memakai blankon, batik, kain, kebaya bahkan ada yang berias dengan kostum penari. Mereka tengah bersiap untuk tampil dalam pementasan drama yang mengisahkan asmara Rai Srimben dan Raden Soekemi.
Panggung kecil dihias dengan kain prada, janur tergantung dan hamparan karpet telah menunggu. Miss. Santa, guru pembinanya mulai repot. Mulai sibuk menyiapakan urutan pementasan. Sesekali terlihat mengelus dada. Menarik napas. Saya membayangkan, jika saya jadi Miss. Santa mungkin saya tidak akan mampu menangani anak-anak itu.
Beragam ekspresi dikeluarkan oleh anak-anak itu sebelum tampil. Dimas yang memerankan tokoh Raden Soekemi masih tampak sabar dan ceria dibalik balutan blankon dan kain batiknya. Nia yang memerankan Rai Srimben juga sibuk sendiri. Alit yang mendapat peran sebagai kakek mangku juga terlihat lebih sibuk.
Badannya tetap tenang, tidak banyak bicara. Tapi tangganya tak henti-henti mengelus kapas yang ditempel pada dagu dan bawah hidung. “Gatallah, Kak!” katanya sedikit ngegas saat ditanya. Ya, mungkin dia kurang nyaman dengan double tip yang menempel pada dagu dan bawah hidungnya itu. Tapi dia berusaha menahan demi penampilannya yang total.
Di pojok kanan kelas, Praba sendirian. Tidak banyak bicara, tidak bacak bergaul. Hanya duduk, diam. Wajahnya datar. Usut punya usut ia sedang tidak bersemangat alias badmood. Dalam pementasan itu, Praba tampil sebagai penari.
Ia diantar ibunya pagi-pagi sekali. Katanya jam 4 pagi sudah ke sekolah untuk berhias. “Capek, Kak,” kata Praba saat saya dekati. Saya mencoba menghibur. Sudah makan? Mau minum? Ngantuk ya? Senyum dong, kata saya. Semua itu hanya dijawab dengan gelengan kepala tanpa suara dan tentu dengan wajah yang cemberut.
Mungkin saja ia tidak berselera. Tidak lama, Miss. Santa masuk kelas dengan membawa gelas kertas untuk property. “Apa itu, Buk? Teh ya?” katanya girang. Ya, mungkin saja Praba haus tapi malu.

Pemeran Raden Soekemi dalam drama anak-anak di SDN 1 Paket Agung Singaraja | Foto: Dian
Kendati masih anak-anak mereka sangat menghayati peran. “Eh, Bung Karno, kau dipanggil sama bapak kau,” celetuk salah satu anak. Bung Karno kecil pun mendekat ke arah Raden Soekemi yang diperankan Dimas.
“Wee, Kaler, Kaler! Kaler itu bestienya Raden Soekemi, Kak,” kata seorang lagi memberitahukan kepada saya.
Saya sejenak berpikir, hebat sekali anak-anak ini. Begitu mendalami peran masing-masing meski saat tampil suara mereka tidak digunakan, alias menggunakan rekaman.
Lamunan saya dibuyarkan ketika si Kaler merasa gatal pada badannya. Ia sibuk menarik kainnya yang melorot. Ditarik lagi, melorot lagi, sampai akhirnya seorang guru turun tangan memperbaiki kainnya Si Kaler. Ia tidak terbiasa menggunakan kain atau kamen yang dililitkan hingga ke dada.
Pementasan drama yang dimainkan oleh siswa-siswi SDN 1 Paket Agung ini menjadi salah satu pengisi acara perayaan 150 tahun sekolah tertua di Buleleng tersebut. Tapi jangan bayangkan pementasan ala teater profesional yang penuh teknik dan tata cahaya canggih. Ini adalah panggung anak-anak. Dan justru di situlah letak pesonanya—penuh kejutan yang tidak ada dalam naskah, spontan tapi tulus, dan kocaknya alami.
Rai Srimben, sosok perempuan tangguh dan ibu dari Sang Proklamator Bung Karno, diceritakan kembali dalam versi mini yang lebih cocok disebut "sejarah rasa es krim." Naskah yang awalnya serius ini oleh para guru dialihwahanakan dengan pendekatan ringan, agar bisa dicerna oleh para pemain cilik dan, tentu saja, para penonton emak-emak, bapak-bapak, dan anak-anak yang menonton sambil ngemil pentol dan sosis.
Cerita dimulai dari adegan Rai Srimben remaja, yang diperankan oleh Nia. Nia begitu total dengan rambut yang disanggul palsu dan kain. Nia tampil luwes, meski sempat grogi karena ditonton banyak orang.

Anak-anak sebelum pentas di SDN 1 Paket Agung Singaraja | Foto: Dian
Rai Srimben muda bertemu dengan Raden Soekemi, pemuda berdarah Jawa yang diperankan oleh Dimas. Ia memerankannya dengan lancar. Adegan melamar Rai Srimben menjadi salah satu adegan yang ia suka. “Gimana ya. Deg-degan, Kak,” kata dia.
Anak SD bisa merasakan deg-degan saat adegan melamar? Padahal hanya dalam pementasan drama. Ya sudahlah…
Tapi, seorang ibu penonton berkomentar, “Kapan lagi nonton sejarah nasional sambil ketawa begini?” Barangkali si ibu tergelitik dengan tingkah anak-anak saat adengan pertemuan antara Rai Srimben dan Raden Soekemi atau tergelitik dengan hal lain. Entahlah.
Pementasan ini bukan hanya ditonton oleh para guru dan murid, tapi juga alumni SDN 1 Paket Agung lintas generasi, dari yang sekarang jadi, ASN, guru, sampai pengusaha.
Hari makin siang. Semangat para pemain cilik tidak padam, mengalahkan panas yang menyengat di siang hari. Setelah pertunjukan usai, mereka berjejer di depan panggung, membungkuk serempak.
Di balik kehebohan dan kelucuan yang terjadi di belakang panggung hingga atas panggung, pementasan ini berhasil menyampaikan satu hal yang penting, bahwa sejarah bisa dihidangkan dengan rasa yang renyah, menyenangkan, dan tetap menginspirasi.
Dan mungkin, dari kumis gatal, kain yang melorot, hingga badmood sebelum tampil, semua anak-anak ini belajar satu hal penting, bahwa mencintai tanah air bisa dimulai dari mengenal para tokohnya—meski lewat tawa dan blush on yang kelewat tebal.
Selamat ulang tahun ke-150, SDN 1 Paket Agung! Panggung kecilmu telah melahirkan tawa besar dan semangat yang menggetarkan. [T]
Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...