JIKA mengamati tren drama Korea akhir-akhir ini, penonton mungkin akan menyadari bahwa industri hiburan sinema dan drama di Korea semakin banyak bekerjasama dengan Jepang. Fenomena ini bukan sekedar pertukaran konten namun juga sampai di proses produksinya yang digodok oleh tim bauran Korea dan Jepang.
Hal tersebut menumbuhkan satu pertanyaan di kepala saya: bagaimana Korea dan Jepang mengintegrasikan dan menegosiasikan elemen-elemen budaya yang sudah dibawa dari awal oleh masing-masing negara seperti ciri khas narasi, visual dan karakter. Apakah ada upaya untuk menyatukan budaya dan melahirkan budaya baru dengan identitas sinema Asia Timur yang bersifat transnasionalisme atau justru tetap memperkuat budaya masing-masing negara. Esai ini berasal dari pertanyaan saya mau dibawa kemana ciri khas budaya sinema dan drama hasil kolaborasi ini, apakah akan berpadu dalam harmoni meskipun harus melalui proses yang syarat kepentingan.
Bila kita membaca secara teoritis, produksi kolaboratif industri hiburan antara Jepang dan Korea Selatan seyogyanya membuka ruang baru untuk peleburan budaya yang harmonis, melahirkan produk tontonan yang merefleksikan kekayaan budaya transnasional dan menonjolkan aspek Asia Timur. Namun dalam realita, usaha integrasi tersebut seringkali bersifat transaksional dan syarat kepentingan strategis.
Produk sinema Korea biasanya memiliki gaya visual yang menojol, penulisan script yang disertai riset panjang dan mandalam, seringkali mengangkat isu dinamika sosial modern, dengan estetika visual yang cerah, penekanan emosi yang mendalam. Belum lagi kita membicarakan modal yang besar untuk produksi drama dan sinema Korea.
Di sisi lain, Jepang mayoritas membuat drama atau sinema dengan lebih teliti, narasinya yang lebih lembut, kemiripan dengan dunia nyata yang menjadi kunci aspek sinema Jepang serta biaya produksi yang lebih rendah dari industri hiburan di Korea Selatan. Di kancah internasional, Jepang baru akhir-akhir ini menampakkan diri di kancah internasional dengan mulai banyak bekerja sama dengan OTT Netflix untuk menayangkan produk-produknya yang dulu susah sekali untuk mendapatkan akses secara legal.
Jika kita membicarakan integrasi, maka kita akan terpikirkan pada bagaimana adaptasi dari satu budaya ke budaya lain. Contoh dalam drama adaptasi baik itu drama Korea atau dorama Jepang, elemen budaya lokal akan tetap dipertahankan, seperti cara makan yang berbeda antara Korea dan Jepang, tatanan sosial, penyebutan keluarga dll.
Bahkan ketika aktor dari negara lain bekerja sama di proyek kolaboratif tersebut, aktor akan tetap mengadaptasi budaya setempat seperti dialek, norma sosial dll. Hal ini tidaklah bisa menelurkan integrasi budaya baru yang melahirkan ciri khas khusus Asia Timur namun justru memperkuat lokalisasi budaya untuk mempertegas budaya nasional.
Dari segi visual, kolaborasi harusnya menunjukkan kesamaan dalam sektor produksi, namun kenyataannya gaya visual drama Korea dan dorama Jepang tetap memiliki ciri khas yang menonjol masing-masing seperti drama Korea dengan palet warna cerah serta mise-en-scene yang modern bahkan ketika syutingnya dilakukan di Jepang. Sedangkan dorama Jepang meskipun dia adaptasi drama Korea seperti dorama Marry My Husband akan memiliki estetika yang menonjol pada aspek naturalis dan minimalis.
Contoh proyek kolaborasi bukan adaptasi, yang melibatkan aktor, sutradara dan kru dari kedua negara, meskipun banyak integrasi interaksi di proses produksi, pada akhirnya tetap terlihat sebagai produk yang sangat Korea dengan sentuhan Jepang atau sebaliknya. Film dari director Jepang, Koreeda Hirokazu yang berkolaborasi dengan Korea seperti Broker, meskipun diperankan oleh aktor-aktor Korea dan diproduksi di Korea namun identitas Jepangnya masih sangat kuat, khas penyutradaraan Koreeda, seperti hanya ditambahi bumbu MSG dari Korea.
Di sisi lain drama Korea yang menggandeng aktor Jepang seperti Sakaguchi Kentaro dalam What Comes after Love masih didominasi dengan sentuhan-sentuhan yang sangat Korea seperti plot narasi, visualisasi, mise-en scene. Hasil observasi saya ini menunjukkan bahwa negosiasi identitas budaya dalam proyek kolaborasi antara Korea dan Jepang lebih sering berakhir dengan koeksistensi yang berbeda daripada peleburan budaya yang utuh dan melahirkan budaya baru Asia Timur yang bersifat transnasionalisme.
Kesimpulannya, proyek kolaboratif antara Korea dan Jepang masih merupakan bentuk kolaborasi untuk mendongkrak strategi pasar dan pertukaran sumber daya daripada bertujuan untuk melahirkan budaya baru. Identitas nasional masih tetap menonjol dalam proyek kolaborasi dua negara tersebut.
Untuk menciptakan budaya transnasional yang merepresentasikan budaya Asia Timur secara utuh dan terintegritas sepertinya masih jauh dan membutuhkan usaha meskipun dua pilar besar industri di Asia Timur yaitu Korea Selatan dan Jepang telah melakukan banyak proyek kerjasama. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...