Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
RUANG hijau merupakan bagian tak terpisahkan dari kota. Dari segi kepemilikan ruang hijau milik pribadi dimana aksesnya dibatasi berupa pekarangan rumah dan gedung serta lahan milik pribadi yang ditanami berbagai tanaman seperti kebun pekarangan. Ruang hijau yang dimiliki publik dan dikelola oleh pemerintah kota berupa taman kota dan hutan kota. Selain kedua hal tadi ada pula ruang hijau berupa kebun komunitas yang dikelola oleh warga di suatu kelurahan atau kecamatan.
Idealnya ruang hijau mencakup dua per tiga dari total luas wilayah kota. Ini bertujuan untuk memberikan oksigen, menyerap karbondioksida, dan meredam polusi suara. Selama ini ruang hijau publik hanya difungsikan untuk berolahraga, bermain dan bersantai di atas rumput sambil membawa makanan dan tikar. Hal itu sudah benar, tapi masih harus ada yang ditingkatkan lagi. Taman kota perlu dibagi proporsi pengunaannya agar tidak didominasi oleh lapangan rumput saja. Tanaman yang dapat dimakan, mudah dipelihara, digunakan sebagai obat herbal, minyak atsiri dan menjadi bahan masakan khas suatu daerah ditanam di situ selama cocok dengan keadaan tanah dan iklim kota.
Tentu tidak cocok kalau tanaman dari pegunungan Batur dan Batukaru ditanam di taman kota Denpasar, Gianyar atau Tabanan karena iklim dan tanahnya amat beda. Hendaknya pemerintah mendirikan pusat informasi mengenai jenis jenis tanaman yang ada di taman kota yang berisi nama ilmiah, daerah asal, kondisi tempat yang cocok dan kegunaan tanaman. Ini bertujuan untuk edukasi warga mengenai tanaman tanaman berguna yang dapat ditanam di halaman rumah atau dibudidayakan di pinggir kota karena kondisi iklim dan tanah di taman kota relatif sama dengan di pinggir kota dan pekarangan rumah yang berada di dalam kota
Taman kota yang demikian dapat berkontribusi untuk kesehatan warga karena itu menjadi sumber informasi untuk tanaman obat yang berpotensi tumbuh layak di halaman rumah warga kota. Berjalan jalan di taman yang memancarkan kewangian alami dari tanaman tanaman untuk minyak atsiri dapat memberikan kelegaan. Keindahan dan keharuman taman kota muncul berkat tanaman aromatik yang bunga, buah atau daunnya dapat dijadikan minyak atsiri saat dikeringkan dan disuling serta tampilannya yang indah. Taman kota dapat berkontribusi secara tidak langsung dalam ekonomi usaha kecil menengah dan besar dengan banyaknya warga kota yang mengenal tanaman tanaman pangan obat dan minyak atsiri secara langsung yang mana akan berpotensi mengundang orang untuk budidaya tanaman pangan obat dan minyak atsiri.
Berkat pengetahuan dan sumber informasi ini, orang orang yang menggemari pengolahan tanaman dapat bekerja sama membentuk badan usaha untuk mendirikan fasilitas pengolahan yang mana itu berarti menyiapkan lahan, gedung dan peralatan yang akan menghasilkan produk olahan seperti makanan obat obatan dan minyak atsiri serta limbah organiknya menjadi kompos . Di dalam badan usaha ada memasarkan produk olahan. Jadi dari sini, taman kota yang edukatif dapat berkontribusi untuk menggerakkan ekonomi karena masyarakat kota mengenal jenis tanaman yang dapat digunakan , bagian yang dapat diolah dan hasil olahan tanaman ini.
Taman kota berfungsi sebagai rekreasi, edukasi, pengharum dan penghias dan secara tidak langsung sumber nutrisi dan obat bahkan ekonomi wilayah perkotaan. Anak anak dapat belajar cara menjaga kesuburan tanah yang menjadi dasar dari ekosistem taman kota untuk memproduksi sayur, buah, umbi, daun, batang, dan bunga. Mereka akan memperoleh pengetahuan untuk mengenal bagian tanaman yang akan dijadikan makanan, obat, dan pengharum. Kaum muda ini dengan kreativitas dan inovasinya akan menggali potensi potensi pada tanaman yang ada di taman kota untuk ditingkatkan nilai gunanya.
Satu hal paling penting yang didapat oleh semua kalangan mulai dari anak anak hingga manula dan selalu relevan sepanjang zaman adalah menyadari kesuburan tanah dan kejernihan air sebagai infrastruktur utama untuk tanaman yang menghasilkan pangan, obat, dan pewangi. Taman kota yang demikian itu memberikan fasilitas terbuka untuk publik secara gratis untuk dikunjungi, dan pendidikan. [T]
Penulis: Doni Sugiarto Wijaya
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...