PAGI itu saya duduk di warung kopi langganan. Di hadapan saya, secangkir kopi hitam mengepul, baru diseduh. Tapi bukannya langsung saya nikmati, saya malah lebih dulu membuka gawai. Notifikasi WhatsApp, surel pekerjaan, kabar terbaru dari media daring, linimasa media sosial—semuanya bersahutan minta perhatian. Begitu sadar, kopi saya sudah tandas. Saya bahkan tak benar-benar mengingat rasanya.
Pada hari lain, saya berniat lebih santai, duduk tenang, menyeruput kopi hangat sambil membaca buku atau sekadar menikmati suasana. Tapi niat itu kembali kandas. Gawai lagi-lagi menjadi pusat perhatian. Ketika akhirnya saya menoleh ke cangkir, kopi sudah dingin, rasa pun berubah. Yang tersisa hanya sejenis rasa kehilangan, bukan kehilangan kopi itu sendiri, melainkan kehilangan momen—momen sederhana untuk hadir secara utuh dalam satu kegiatan.
Kita hidup di zaman ketika perhatian menjadi komoditas paling mahal. Segala aplikasi dirancang untuk mencuri perhatian, mempertahankannya selama mungkin, dan akhirnya memonetisasi kehadiran kita secara digital. Gawai bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan perpanjangan dari tubuh dan pikiran. Kita membawanya ke meja makan, ke tempat tidur, bahkan ke kamar mandi dan tempat ibadah.
Makan sambil membuka gawai adalah kebiasaan umum. Anak-anak hingga orang tua melakukannya. Tapi apakah kita masih bisa benar-benar merasakan makanan yang kita santap? Apakah kita mengenali aroma, tekstur, dan cita rasa yang tersaji di hadapan kita? Atau semuanya hanya lewat begitu saja, karena perhatian kita tercabik antara dunia nyata dan digital?
Tubuh kita makan, tapi pikiran berselancar entah ke mana. Perhatian terbagi. Otak memproses video pendek dan notifikasi berita, sementara lambung mengurai nasi dan lauk. Dua aktivitas yang mestinya terpisah kini dijalankan bersamaan. Akibatnya? Kita merasa kenyang tapi hampa, merasa lelah tapi tidak tahu apa yang melelahkan.
Kondisi ini bisa dijelaskan dengan teori simulacra dari Jean Baudrillard, filsuf asal Prancis. Ia menyebut bahwa kita kini hidup dalam era simulacra—yakni tiruan dari kenyataan yang begitu meyakinkan, hingga menggantikan kenyataan itu sendiri. Dunia digital, terutama yang kita akses lewat gawai, adalah dunia penuh simulacra. Di sana, realitas bukan lagi apa yang kita alami secara langsung, tapi apa yang tampak di layar.
Foto makanan di Instagram bisa lebih menggugah selera daripada hidangan aslinya. Liburan terasa “kurang sah” jika tidak dibagikan di media sosial. Bahkan perasaan pun kini harus diberi stempel digital—dalam bentuk emoji, likes, atau komentar. Dalam situasi ini, kata Baudrillard, kita bukan lagi mengalami kenyataan, melainkan hyperreality—sebuah realitas palsu yang justru lebih dipercaya daripada yang nyata.
Gawai menjadi gerbang ke dunia hyperreality itu. Ketika kita lebih memilih memotret makanan daripada menikmatinya, lebih asyik membuat video liburan daripada merasakan angin laut atau aroma hutan, kita sedang terjerat dalam tiruan-tiruan itu. Kita mulai lupa cara mengalami hidup secara langsung. Yang penting adalah tampilan, bukan kehadiran.
Gawai memang memberi banyak manfaat. Ia mempercepat komunikasi, memperluas jejaring, dan menghadirkan informasi dalam hitungan detik. Tapi ketika semua itu menumpuk tanpa jeda, yang terjadi adalah kelelahan mental yang samar. Kita merasa selalu harus update, takut tertinggal, terus-menerus terdorong untuk membuka layar, bahkan dalam momen-momen yang seharusnya kita nikmati secara penuh.
Yang tergadai sebenarnya bukan sekadar waktu, tapi kualitas kehadiran. Kita mungkin duduk bersama keluarga, tapi masing-masing sibuk dengan gawainya. Kita menghadiri acara pernikahan, tapi lebih fokus mencari sudut foto terbaik ketimbang menyimak janji sakral dua insan. Kita bertatap muka, tapi lebih banyak menunduk ke layar.
Lambat laun, relasi sosial pun menjadi datar. Keintiman tergantikan oleh reaksi emoji. Perhatian berganti menjadi balasan singkat. Percakapan tatap muka menjadi canggung, karena kita lebih terbiasa dengan jempol dan layar sentuh daripada tatapan dan jeda.
Kita mungkin mengira ini hal biasa, bagian dari modernitas. Tapi jika dibiarkan terus-menerus, kita bisa kehilangan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran atas keberadaan kita sendiri. Tanpa sadar, kita menjalani hari dalam mode otomatis, berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi lain, tanpa benar-benar hadir. Pikiran ke mana-mana, tubuh ke mana-mana, hati entah di mana.
Padahal, menikmati secangkir kopi secara sadar bisa menjadi bentuk meditasi kecil. Makan tanpa distraksi adalah cara menghormati tubuh dan rasa. Duduk diam tanpa layar adalah bentuk keheningan yang menyehatkan. Hal-hal sederhana ini, jika dijalani dengan kesadaran penuh, bisa menjadi penawar dari kecanduan digital yang melanda hampir semua orang hari ini.
Saya tidak sedang mengajak untuk meninggalkan teknologi. Tidak juga sedang bersikap puritan. Saya menulis ini karena saya pun terjebak dalam kebiasaan yang sama. Saya pun sering merasa bahwa waktu saya terkikis sedikit demi sedikit, bukan oleh pekerjaan atau perjalanan, melainkan oleh layar kecil di genggaman tangan saya sendiri.
Namun dari pengalaman-pengalaman kecil itu, saya belajar bahwa kita tetap bisa mengambil kembali sebagian kendali. Misalnya dengan memutuskan untuk menikmati makan siang tanpa membuka gawai. Atau memberi jeda lima menit setiap jam untuk melepaskan diri dari layar. Atau sekadar mengingatkan diri sendiri bahwa tidak semua momen harus didokumentasikan dan dibagikan.
Barangkali, inilah bentuk perlawanan paling sederhana, yakni hadir sepenuhnya dalam satu aktivitas. Menikmati kopi tanpa distraksi. Mengobrol tanpa gawai di meja. Tidur tanpa layar menyala di samping bantal. Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi agar kita tidak kehilangan sepenuhnya diri kita sendiri.
Karena pada akhirnya, waktu yang tergadai itu bukan hanya soal hitungan jam, melainkan soal hilangnya kesempatan untuk hidup dengan sadar. Dan hidup yang dijalani tanpa kesadaran pelan-pelan berubah menjadi sekadar rutinitas; tubuh bergerak, tetapi jiwa tertinggal di belakang.
Kelak, saat menoleh ke belakang, yang kita inginkan mungkin bukan kenangan digital, tapi momen-momen sederhana yang pernah kita alami dengan utuh. Bukan status yang viral, tapi percakapan hangat dengan orang terdekat. Bukan ribuan penonton, tapi satu pelukan yang tulus. Dan semua itu hanya mungkin jika kita berani, walau sesekali, meletakkan gawai—dan mengambil kembali waktu yang telah tergadai. [T]
SEPULUH finalis tampil bergantian dengan penuh percaya diri. Selempang terpasang di dada, sikap tegap, dan tatapan fokus mengarah ke hadapan dewan juri serta hadirin. Mereka merup...
"Yang paling dalam tidak pernah berisik, ia tahu kapan harus berbunyi, dan kapan memberi jeda"
*
SAYA pertama kali memegang kaset ini di Tunjungan Plaza, Surabaya, sekitar p...
SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana yang meski sudah...
KUTA adalah sebuah ruang pertemuan, sebuah Taman Sari keberagaman sebagaimana imajinasi Bung Karno, hamparan di mana berbagai bunga bangsa dan dunia tumbuh dengan warna, aroma, da...
Slamat Trisila dari Penerbit Pustaka Larasan memberikan peta jalan, atau langkah-langkah utama dalam mengubah tumpukan data riset menjadi buku yang layak edar.
Langkah-langkah...
Kira-kira sebulan lagi hari Pangrupukan akan tiba. Tidak mengherankan kita bisa mengamati mayoritas balai banjar pada malam hari menjadi lebih sibuk dari biasanya karena aktivitas...
BULAN Ramadhan, dengan segala keagungan dan kemuliaannya, seharusnya menjadi momentum krusial bagi setiap Muslim untuk melakukan tazkiyatun nafs—pensucian jiwa. Lebih dari sekadar...
PESERTA Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di Gedung Ksirarnbawa, Taman Budaya Bali, Selasa 17 Pebruari 2026, dimeriahk...
PAGI itu, nada demi nada mengalun dari atas panggung. Mikrofon digenggam mantap, tatapan peserta tertuju ke depan, sementara alunan musik pengiring memenuhi aula SMK Kesehatan Bal...
TAHUN Baru Imlek? Setidaknya hingga menamatkan Pendidikan SMP di kampung, desa Pupuan, Tabanan, saya tidak familiar (bahkan mungkin tidak tahu?) dengan istilah ini. Padahal saya t...