PAGI itu, udara Singaraja terasa bersahabat. Di halaman luar Gedong Kirtya, kursi-kursi sudah tertata, para pengunjung mulai duduk nyaris melingkar. Suasananya akrab, seperti pertemuan para sahabat lama yang berbagi cerita.
“Esai-esainya Ole itu seperti loloh (minuman herbal tradisional Bali). Pahit, getir, tapi menyembuhkan,” ucap Wayan Jengki Sunarta (penyair asal Bali), memecah keheningan dengan kalimat yang mengundang tawa kecil penonton.
Kalimat itu diucapkan Jengki saat sesi bincang buku Lolohin Malu pada hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2025, Minggu, 27 Juli 2025. Diskusi yang digelar sedari pukul 09.00 hingga 11.00 Wita ini terasa santai, tanpa jarak antara pembicara dan penonton.
Buku yang dibincangkan adalah kumpulan esai karya Made Adnyana Ole, seorang jurnalis, esais, sekaligus sastrawan Bali yang sudah lama dikenal lewat tulisan-tulisannya yang tajam namun bersahaja. Sebelum dibukukan, esai-esai ini tayang rutin di rubrik Lolohin Malu setiap Sabtu di harian Bali Express (Jawa Pos Group). Ole merekam dinamika sosial, budaya, dan politik Bali dengan gaya yang khas. Kadang jenaka, menyentak, namun selalu jujur.
“Bali itu sangat kompleks, bahkan saya pun tak bisa mendeskripsikannya,” kata Ole sambil tersenyum, disambut anggukan beberapa penonton.
Kompleksitas itulah yang Ole tuangkan dalam esai-esainya. Baginya, hal-hal kecil kerap berdampak besar tanpa disadari orang Bali. Ia mencontohkan tentang subak dan akses jalan yang awalnya hanya bisa dilalui sepeda motor. Kemudian, setelah diperbaiki, justru melemahkan kondisi warga setempat.
Bincang buku Lolohin Malu di Singaraja Literary Festival 2025 │Foto: tatkala.co/Dede
“Suatu ketika ada kunjungan bupati dan gubernur. Ada warga mengeluh jalannya rusak. Lalu diperbaikilah jalan itu, jadi mulus. Awalnya demi mencari suara, tapi akibatnya? Harga tanah melonjak, orang-orang mulai menjual lahannya. Padahal menanam padi memberi penghasilan lebih baik. Jadi, kesimpulannya? Sebaiknya ya, biarkan saja jalan itu rusak,” ujarnya disambut tawa penonton. Tawa yang pecah bukan karena pernyataannya lucu, tetapi karena sindiran itu terasa akrab, seolah menjadi cerminan realitas hidup sebagian orang Bali.
Di samping Jengki Sunarta, sang moderator, Willy Fahmi Agiska ─ penyair kelahiran Ciamis itu sesekali menimpali. Menurutnya, Lolohin Malu mengajak pembaca menelisik cara berpikir masyarakat Bali. “Ada mentalitas yang tebal, seolah-olah banyak hal yang tidak boleh dilakukan,” ujarnya, menekankan bahwa buku ini tidak hanya bicara fenomena, tetapi juga mindset sebagian Masyarakat Bali.
Pendapat itu diamini Jengki Sunarta. Menurutnya, Ole berupaya mendekonstruksi pola pikir masyarakat. “Bali dari dulu penuh paradoks, penuh ironi. Satu kaki di dunia tradisi, satu kaki di dunia kontemporer. Ini yang membuat Bali susah berjalan. Selain itu, Bali gampang diledakkan dengan isu-isu politik. Masyarakat mudah ditaklukkan dengan slogan-slogan,” ujar penulis buku Jumantara itu, menambahkan analisis yang membuat suasana diskusi semakin serius, namun tetap hangat.
Dari kiri ke kanan: Willy Fahmi Agiska, Wayan Jengki Sunarta, Made Adnyana Ole │Foto: tatkala.co/Dede
Tak lama, Jengki mengendurkan ketegangan dengan cerita masa mudanya bersama Ole. “Saya dulu belajar nulis sama dia sejak SMA. Rumah saya dekat kosnya Ole di Denpasar. Saya sering pinjam mesin tik, cuma dia yang punya waktu itu, kira-kira tahun 90-an,” kenang Jengki, membuat penonton kembali tersenyum lebar, nyaris tertawa. Nostalgia itu menambah warna dalam diskusi, membuat para pendengar merasa dekat dengan sosok yang esai-esainya kini mereka baca.
Menjelang akhir, Ole menegaskan bahwa buku ini bukan serangan untuk pejabat maupun oknum masyarakat tertentu. “Ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun, tapi untuk memperbaiki pola pikir kita,” katanya pelan, seolah mengajak semua yang hadir untuk merefleksi diri.
Dan, memang begitulah Bali, yang dikisahkan Ole lewat esai-esai bernas nan khas dalam buku Lolohin Malu. Sama halnya dengan loloh, begitupun tulisan Ole. Ia pahit, getir, tapi menyembuhkan. Karena itu pula, Lolohin Malu dirasa sesuai disematkan sebagai judul buku ini. [T]
Reporter: Dede Putra Wiguna Penulis: Dede Putra Wiguna Editor: Adnyana Ole
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...