Di halaman Kedai Cana, Senin 23 Juni 2025, sebuah layar tancap berdiri gagah menyambut penonton yang mulai berdatangan. Saya ikut menumpang salah satu mobil tim Singaraja Menonton, komunitas yang rutin memutar film-film pendek yang kerap memantik diskusi. Malam itu, giliran lima film pendek lokal diputar dalam sesi layar kolektif: Osmosia (eksperimental) karya Fioretti Vera, Rita Coba Rokok (dokumenter) oleh Natania Marcella, Kembang Eleh (fiksi) garapan Candra Aulia Safitri, Nyat: Perempuan dan Krisis Air di Kintamani (dokumenter) oleh Dewa Kresnanta, serta Purusa: Wedding Sacred (fiksi) dari I Made Suniartika.
Namun di antara kelimanya, satu judul menancap kuat dalam benak saya, Kembang Eleh. Sebuah kisah fiksi yang tak sekadar bercerita, tapi mengguncang kesadaran. Kembang Eleh membuka lembaran kisah dua remaja SMA yang mendadak harus menjalani peran sebagai orang tua. Mereka memiliki seorang bayi, bukan karena cinta yang dewasa, tetapi karena pergaulan yang sembrono dan pilihan yang terburu-buru. Tidak ada kemewahan, tidak ada euforia menjadi orang tua muda. Yang ada justru keterkejutan, kebingungan, dan realita pahit yang terus membelit.
Sutradara Candra Aulia Safitri secara tajam menyodorkan potret hubungan yang dibangun bukan atas kesiapan, melainkan atas rasa ingin tahu, pengaruh lingkungan, dan minimnya edukasi. Alih-alih romantis, hubungan dua tokoh utamanya berubah menjadi pertikaian, saling menyalahkan, dan saling melukai. Mereka tidak tahu cara memberi makan bayi, tidak punya pendapatan tetap, dan yang paling menyedihkan: tak ada orang dewasa yang benar-benar hadir mendampingi mereka.
Film ini bukan sekadar fiksi. Film itu menggambarkan kenyataan sosial yang sedang kita hadapi. Banyak remaja hari ini yang larut dalam hubungan tanpa memikirkan konsekuensinya. Mereka terlalu fokus pada pasangan, tapi abai pada masa depan. Tugas sekolah diabaikan, peraturan dilanggar, bahkan sekolah pun ditinggalkan.
Kembang Eleh adalah pengingat bahwa memilih pasangan hidup bukan perkara sederhana. Butuh kedewasaan, bukan sekadar rasa suka. Karena pasangan yang salah bisa menjadi awal dari hidup yang kacau. Seperti pepatah bijak yang mengatakan, “Berteman dengan pencuri, bisa menjadikanmu pencuri. Berteman dengan pengusaha, bisa menjadikanmu sukses.” Lingkungan membentuk kita, begitu pula pasangan yang kita pilih.
Yang menarik, film ini tidak hanya menyoroti problem eksternal seperti kemiskinan atau tekanan sosial, tapi juga konflik batin yang muncul dari dalam. Ada rasa malu, ada kemarahan yang terpendam, hingga perasaan muak karena hidup seolah tidak memberi pilihan.
Pertengkaran demi pertengkaran antara tokoh utama memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan mereka. Mereka tidak memiliki cukup bekal emosional maupun ekonomi untuk menghadapi kenyataan. Adegan-adegan ini diperkuat dengan penggambaran situasi yang detail—mulai dari rumah sewa yang sempit, uang yang kian menipis, hingga kesulitan mencari pekerjaan. Semua itu menghadirkan empati, sekaligus peringatan.
Salah satu kekuatan film ini terletak pada bahasa visual dan alur cerita yang mudah dipahami. Candra Aulia tidak mencoba membuat cerita yang rumit atau simbolis berlebihan. Justru dalam kesederhanaan narasinya, pesan sosial yang dibawa terasa begitu menusuk.
Namun, tentu tidak ada karya yang sempurna. Kembang Eleh pun demikian. Dua catatan penting yang perlu menjadi perhatian adalah ekspresi pemain dan kualitas subtitle. Beberapa adegan emosional—seperti saat pertengkaran atau saat tokoh menangis—kurang tersampaikan maksimal karena ekspresi wajah yang terlalu datar. Padahal, dalam dunia film, ekspresi adalah jantung dari akting. Tanpa ekspresi yang tepat, emosi tidak akan sampai ke penonton.
Masalah lain terletak pada subtitle. Beberapa bagian sulit dibaca karena warnanya menyatu dengan visual film. Ini cukup mengganggu, apalagi saat dialog menggunakan bahasa daerah yang tidak semua penonton pahami. Sebuah catatan teknis yang sebaiknya segera diperbaiki bila ingin film ini menjangkau audiens yang lebih luas.
Meski demikian, kekuatan utama film ini tetap tak terbantahkan. Film ini berhasil membuat penonton berpikir. Ya, selain berpikir karena subtitle yang kurang jelas, juga membuat kita bertanya ulang—apakah kita benar-benar bijak dalam memilih orang yang kelak akan hidup bersama kita? Apakah cukup menilai seseorang dari kata-kata manisnya atau dari tampilannya saja?
Film ini mengajak kita untuk lebih kritis dan introspektif. Karena seringkali, sifat asli seseorang tidak muncul saat awal perkenalan. Ia baru terlihat saat kita sudah dekat, saat konflik mulai datang, saat beban hidup mulai menekan.
Saya pribadi merasa tersentuh. Tidak hanya karena kisahnya yang kuat, tapi karena relevansinya yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Film ini tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia hanya menunjukkan bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi, dan setiap keputusan yang terburu-buru bisa mengubah masa depan secara drastis.
Sesi Singaraja Menonton malam itu berakhir, tapi cerita Kembang Eleh terus bergema dalam kepala saya. Lima film pendek yang diputar malam itu memang luar biasa, namun Kembang Eleh adalah yang paling membekas. Sebuah film yang berani, tajam, dan menyadarkan.
Di tengah hiburan yang seringkali hanya memanjakan, film ini hadir sebagai pengingat yang menyentil, bahwa cinta butuh lebih dari sekadar perasaan. Ia butuh kesiapan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Karena hidup bukan hanya tentang jatuh cinta, tapi tentang bertahan dan tumbuh bersama—dengan orang yang tepat. [T]
Penulis: Kadek Wisnu Oktaditya Editor: Adnyana Ole
Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...