Di dalam tradisi kebijaksanaan India Kuno, khususnya dalam ajaran Katha Upanishad, dikenal dua pilihan utama dalam kehidupan manusia: Sreya dan Preya. Sreya berarti jalan yang mulia, memuliakan, dan mendatangkan kebaikan jangka panjang. Sementara Preya berarti jalan yang menyenangkan, memanjakan indra, menawarkan kenikmatan sesaat, namun sering kali menjerumuskan dalam penderitaan jangka panjang.
Kedua pilihan ini tak hanya relevan di zaman kuno, namun juga semakin mendesak untuk kita pahami dan hayati di tengah krisis ekologi global. Dalam konteks kehidupan modern yang dikuasai oleh konsumsi berlebihan, urbanisasi tanpa kontrol, dan ekses betonisasi, pilihan antara Sreya dan Preya kini menentukan arah masa depan umat manusia dan planet tempat kita berpijak.
Dari Konsep Filosofis ke Praktik Ekologis
Dalam diskusi spiritual bersama Guruji, muncul pertanyaan sederhana namun dalam:
“Mana yang lebih penting: kenyamanan sesaat atau keberlanjutan kehidupan?”
Pertanyaan ini menggiring pada pemahaman bahwa Sreya tidak selalu menyenangkan di awal, namun hasilnya membawa keberkahan bagi banyak makhluk. Sebaliknya, Preya bisa tampak indah, namun berujung pada kerusakan. Sebagai contoh: membangun mal atau apartemen di lahan hijau mungkin menyenangkan secara ekonomi dan gaya hidup, namun merusak ekosistem dan memperburuk kualitas udara, air, dan keseimbangan alam.
Sebaliknya, menanam pohon adalah tindakan Sreya. Mungkin tidak menghasilkan keuntungan instan, namun ia adalah investasi kehidupan. Ketika kita menanam pohon:
Burung-burung kembali hinggap dan bersarang.
Udara disaring oleh dedaunan yang berfotosintesis.
Air tanah dipertahankan dan tidak langsung mengalir ke selokan.
Serangga, kupu-kupu, dan makhluk kecil lainnya mendapatkan habitat.
Ekosistem mikro pun terbentuk kembali.
Dan tanpa sadar, kita ikut menikmati manfaat dari udara yang bersih, suhu yang lebih sejuk, dan ketenangan jiwa.
Dengan kata lain, yang kita tanam untuk bumi, kembali kepada kita sebagai berkah.
Krisis Global: Preya Telah Mendominasi
Kita hidup di era di mana jalan Preya begitu menggoda. Infrastruktur masif dibangun atas nama kemajuan, namun seringkali dengan mengorbankan alam. Gaya hidup konsumtif dipromosikan tanpa menyadari dampaknya pada bumi. Limbah plastik, polusi udara, kepunahan spesies, pemanasan global—semuanya adalah konsekuensi dari pilihan Preya yang diambil oleh peradaban modern.
Data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan bahwa suhu bumi terus meningkat dan pola cuaca menjadi semakin ekstrem. Di Indonesia, deforestasi telah menyebabkan hilangnya habitat satwa endemik seperti orangutan, harimau Sumatera, dan burung cendrawasih.
Sains dan spiritualitas, meski sering dianggap berseberangan, kini menemukan titik temu. Ilmu lingkungan membuktikan bahwa kita harus mengubah pola konsumsi dan pembangunan, sementara tradisi spiritual seperti Vedanta telah lama mengajarkan penghormatan terhadap alam sebagai Ibu — Bhumi Devi.
Merawat Ibu Bumi: Sebuah Spiritualitas Tindakan
Merawat bumi bukan sekadar kewajiban ekologis, melainkan pengamalan spiritual tertinggi. Dalam tradisi Weda, terdapat ajaran:
Mata bhūmiḥ putro ’ham pṛthivyāḥ — “Bumi adalah ibuku, dan aku adalah anaknya.”
Kita bukan penguasa atas alam, melainkan bagian dari jaring kehidupan. Kita lahir dari bumi, diberi makan oleh bumi, dan pada akhirnya akan kembali ke bumi.
Ketika kita menanam pohon, merawat sungai, mengurangi plastik, memilih konsumsi lokal dan berkelanjutan—kita tidak sedang berbuat baik kepada orang lain saja, tapi sedang memuliakan diri sendiri sebagai bagian dari alam.
Gerakan seperti "Serve Mother Earth" yang digagas Guruji Anand Krishna, kini mengajak umat manusia kembali pada prinsip Sreya: melayani bukan menguasai, merawat bukan mengeksploitasi.
Dari Ritual ke Spiritualitas: Menghijaukan Kembali Jiwa dan Alam
Di Indonesia, semangat ini sebenarnya telah hidup dalam kearifan lokal. Tradisi Subak di Bali, sistem Huma di Kalimantan, atau Lubuk Larangan di Sumatera adalah ekspresi konkret dari hidup selaras dengan alam. Namun modernisasi yang tidak terarah seringkali menggusur sistem ini.
Kita tidak menolak kemajuan, namun kita membutuhkan kemajuan yang selaras, bukan kemajuan yang meniadakan.
Saat ini, banyak anak muda mulai kembali ke alam — berkebun, permakultur, urban farming, zero waste living. Ini adalah pertanda baik: kesadaran sedang bertumbuh.
Namun agar perubahan itu mendalam dan sistemik, dibutuhkan pergeseran paradigma: dari Preya ke Sreya. Dari sekadar ritual simbolik ke spiritualitas yang konkret dan membumi.
Menutup: Memilih Masa Depan
Sreya dan Preya akan selalu hadir dalam setiap langkah hidup kita. Dalam apa yang kita makan, beli, bangun, dan wariskan. Saatnya kita bertanya sebelum bertindak:
Apakah ini memuliakan kehidupan atau hanya menyenangkan diriku sesaat?
Apakah ini baik bagi bumi dan seluruh penghuninya?
Apakah ini membawa manfaat jangka panjang?
Jika jawabannya ya, maka itu adalah Sreya — dan bumi akan tersenyum.
Karena ketika kita memilih jalan yang memuliakan, kita bukan hanya menyelamatkan planet ini, tapi juga menyelamatkan jiwa kita sendiri. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...