“Megatruh” sajian Teater Legion 28 Tasikmalaya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) ke-7, Sabtu 26 Juli 2025 sungguh memukau. Penonton yang hadir di Gedung Kesirarnawa Taman Budaya Bali, lebih banyak dari kalangan pecinta dan penggiat teater di Bali dan luar daerah, bahkan beberapa dari luar negari memberikan apresiasi yang positif. Mulai dari naskah, karakter, gaya akting, teknik olah tubuh, vokal, dan kemampuan berinteraksi dengan properti dan penonton yang sangat menarik.
Penulis naskah sekaligus sutradara, Bode Riswandi mengatakan, pementasan Megatruh ini menginduk pada tema Festival Seni Bali Jani, yakni Jagat Kerthi tentang keseimbangan manusia dengan lingkungan. Maka, naskah yang diangkat membicarakan keresahan terkait Proyek Strategis Nasional (PSN). Proyek ini bagus untuk perkembangan ekonomi, tetapi juga ada hal-hal yang kemudian luput dalam perbincangan umat manusia.
Kehadiran PSN, tak semestinya harus menghilangkan mereka yang sudah bertahun-tahun tinggal di situ, menghidupi tanahnya, namun harus digusur. Misalnya, tentang reaksi bagaimana kampung adat ini menjadi corongnya PSN itu, dan itu yang sedang terjadi di Indoensaia. Gunung, laut, tambang, danau dan lainnya semuanya dikeruk diambil tanpa memperlihatkan sisi kemanusian.
”Di situ, ada orang adat yang jauh sebelum kerakusan kakuasaan itu hadir. Mereka sudah sejak lama tinggal disitu, mereka yang merawat alam, mencintai alamnya, tetapi satu agenda proyek, alam dibabat habis dan seterusnya,” kata Bode Riswandi.
Orang-orang adat sangat percaya, bahwa alamlah yang memberi mereka kehidupan, sehingga mereka sangat menghargai harmoni hidupnya dengan alam. Seperti potret bagaimana masyarakat Bali yang begitu intimnya antara manusia dengan alam, juga dengan Tuhan. Semua itu hal-hal yang sangat penting. ”Itulah Megatruh yang mengangkat respon gejala sosial yang terjadi di tengah bertumbuhnya PSN dan berdampaknya bagi kehidupan masyarakat yang dihilangkan haknya,” jelas Bode Riswandi.
Semua itu kemudian disajikan dalam pertunjukan teater yang menggambarkan dua orang tua yang tersisa. Satu orang yang dulunya berjuang mempertahankan kampung adatnya agar tidak digusur. Satu orang tua lagi adalah mereka yang menajdi bagian dari kekuasaan yang menjalankan perintah negara membuat proyek agar lancar.
Dua orang tua ini saling tegang karena menyimpan dendam. Tetapi, mereka tidak sadar ternyata anak-anak mereka menjalin cinta. Ini sebagai gambaran, dendam itu akan selesai jika ada cinta diantara mereka. ”Jadi sumbu kedamaian dunia ini adalah cinta sesungguhnya. Kenapa kemarahan terjadi, kebencian terjadi, nafsu, kumat dendam terjadi, semua itu karena cintanya belum menyala di dalam hatinya. Itu pesan dari percakapan kedua orang tua itu,” jelasnya.
Lalu, patung yang yang diperankan sangat klasik dan memang mirip patung sungguhan, ternyata tanpa telinga. ”Itu semacam simbol, patung tanpa telinga, seperti bangsa kita sendiri sedang menacari telinganya sendiri. Bangsa yang seharusnya banyak mendengar, bukan harus banyak bicara. Kalau sudah terlalu banyak bicara, maka sulit untuk mendengar keluhan masyarakat,” paparnya.
Tampil di Bali kali ini, Teater Legion 28 Tasikmalaya, Jawa Barat didukung oleh 42 orang, terdiri dari pemain, stage crew dan lainnya. Teater ini sudah tampil di Bali sebanyak 6 kali, dan pada FSBJ tahun 2023, tampil dalam lomba Lautan Bernyanyi yang terpilih sebagai Juara I. Maka, penampilannya kali ini diundang khusus. ”Kami sangat bangga bisa ikut hadir di dalam persitiwa Bali Jani ini. Gaung Bali jani hingga nasional, bahkan internasional, maka kami bangga menjadi bagian dari festival itu,” ucapnya.
”Kami berterima kasih terhadap pemerintah Provinsi Bali, dan seluruh seniman di Bali atas apresiasi ini. Bali jani bisa menjadi rul model untuk festival hajatan kesenian di berbagai daerah di Indonesia,” tutupnya. [T/*]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana Editor: Adnyana Ole
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...