ADA raksasa di dalam diri I Wayan Suardana. Tapi jangan buru-buru takut. Raksasa itu bukan makhluk liar, melainkan metafora atas hasrat-hasrat kreatif yang terus tumbuh dari tubuh dan jiwa seorang lelaki kelahiran Petulu, Ubud, 31 Desember 1963 itu.
Raksasa itu tampak dalam karya-karyanya yang terbuat dari kayu, tempurung, tulang, hingga benda-benda tak terpakai yang disulap menjadi simbol-simbol sakral, seperti gada, lingga-yoni, bahkan trisula.
Karya terbarunya bertajuk “Metu-Manu-Urip”, yang dipamerkan dalam ajang Megarupa 2025, menandai konsistensinya sebagai seniman kriya yang tak hanya meramu bentuk, tetapi juga menyalurkan keyakinan hidup. Karya itu bukan sekadar instalasi kayu jati tua yang keras dan berat, melainkan pemikiran filosofis tentang kesuburan, kelahiran, dan kehidupan.
Tentang manusia yang lahir dari cinta, dari perpaduan antara purusa dan predana, antara ayah dan ibu, yang divisualisasikan sebagai lesung dan alu. “Metu adalah lahir, manu adalah manusia, dan urip adalah hidup,” ujar Suardana saat kami temui di ruang pameran Bali Megarupa, Kampus ISI Bali, Denpasar, Selasa siang, 22 Juli 2025.
I Wayan Suardana (kiri) sedang berbincang dengan dua pengunjung pameran yang melihat-lihat “Metu-Manu-Urip”---karya Suardana | Foto: Angga
Kisah Suardana sebagai seniman bermula dari masa kecilnya di desa. Sejak kelas 4 SD, tangannya sudah akrab dengan ukir-ukiran sederhana. “Saya mulai dari membuat pigura. Bapak saya juga tukang ukir. Jadi saya tumbuh di lingkungan itu,” katanya. Selepas SMP, ia melanjutkan ke SMSR Gianyar, dan di sanalah ia mengenal lukisan gaya Ubud, yang sarat nilai religius dan spiritual.
Cintanya pada kriya tak sekadar soal teknik. Ia melanjutkan kuliah ke STSRI Yogyakarta (sekarang ISI Yogyakarta), mengambil jurusan Seni Kriya hingga menyelesaikan program S2 dan S3 di kampus yang sama. “Saya memang tertarik mengangkat cerita-cerita yang berhubungan dengan agama dan mitologi. Karena di situlah saya merasa sedang menciptakan sesuatu yang sakral,” katanya.
Hidup yang Sakral dan Kreatif
Menjadi seniman bagi Suardana bukan berarti harus mengasingkan diri dari kehidupan sosial dan spiritual. Ia justru aktif dalam adat dan agama, menjadi pengurus banjar, serta terlibat dalam ritual dan perayaan. “Saya tidak bisa jauh dari itu. Dari sana justru saya dapat energi untuk berkarya,” tuturnya.
Hal ini tampak dalam setiap detail karyanya. Ia tak asal memilih material. “Saya suka benda-benda lama yang sudah tidak terpakai. Lesung, lulu, tempurung, bulu burung, tulang. Itu semua punya sejarah dan kekuatan,” katanya.
Dalam karya “Metu-Manu-Urip”, ia menanam gada —simbol Dewa Brahma—ke dalam lesung sebagai metafora penciptaan. Ada juga unsur rajah, yang ia anggap sebagai bentuk seni ekspresif yang sangat ‘Bali’, bahkan bisa disebut proto-surealis.
I Wayan Suardanaberpose bersama karyanya, “Metu-Manu-Urip” | Foto: Angga
“Kita ini telat mewacanakan. Di Bali sudah ada bentuk seni ekspresif seperti itu jauh sebelum Eropa memproklamasikan surealisme,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Sejak tahun 1992, Suardana mengajar di ISI Denpasar (sekarang bernama ISI Bali). Ia termasuk generasi awal yang membangun pondasi pengajaran kriya di kampus tersebut. “Saya merasa jadi dosen itu juga memacu saya terus berkarya. Masa kita cuma bisa ngomong tanpa bisa menunjukkan karya?” katanya. Baginya, peran akademisi dan seniman adalah dua sisi dari mata uang yang sama, keduanya saling menyuburkan.
Namun, ia tak menutup mata bahwa minat anak muda terhadap kriya makin menyusut. “Sekarang hanya sedikit yang mau serius menekuni kriya. Tapi justru karena sedikit itu, mereka jadi terseleksi secara alamiah. Yang benar-benar mau, ya betul-betul tekun,” pungkasnya.
Suardana berharap, generasi muda bisa kembali mencintai kriya, khususnya kriya Bali. “Minimal mereka jadi pencinta. Kalau tidak jadi pelaku, ya jadi penonton yang menghargai. Itu penting,” katanya. Sebab kriya tak hanya bicara soal kerajinan, tapi juga jati diri budaya.
Suardana tidak pernah main-main dengan karya. Bahkan ketika menggunakan benda-benda mati—lesung, kayu tua, tulang, tempurung—ia ingin menghidupkannya kembali, bukan sebagai fungsi lama, tapi sebagai pengemban makna baru.
“Saya suka material bekas, karena mereka membawa sejarah. Tapi saya ubah fungsinya, saya kasih jiwa,” ujarnya. Dalam karya “Metu-Manu-Urip”, misalnya, bulu burung dari Papua disematkan untuk menambah kesan spiritual, dan lesung kayu tua dari Jawa menjadi representasi yoni, sebagai tempat benih kehidupan.
"Agni Kahuripan"Karya I Wayan Suardana | Foto: Angga
Ketika ditanya apakah karyanya cenderung simbolik, ia menjawab, “Simbolik, tapi tidak vulgar. Karena yang saya angkat itu bukan hanya bentuk, tapi nilai.”
Festival yang Mengayomi
Pameran Megarupa tahun ini—bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VII yang mengusung tema “Kara Bhuwana Kala” (Cipta Masa Samasta)—adalah momentum penting bagi Suardana. Ia melihat Megarupa sebagai ruang ekspresi yang inklusif bagi seniman-seniman modern dan kontemporer di Bali, bukan hanya sekadar pelengkap di antara dominasi seni tradisi seperti di Pesta Kesenian Bali (PKB).
“Dulu seni rupa kontemporer seperti tak punya panggung. Sekarang di Megarupa, kita tampil di galeri besar, diperlakukan serius. Itu luar biasa,” kata Suardana. Ia menyebut peran penting Ibu Putri Suastini Koster, penggagas Festival Bali Jani, sebagai langkah maju yang layak diapresiasi. “Beliau seorang seniwati juga. Maka paham betul, semua bentuk seni butuh ruang yang setara,” ucapnya.
Di usia 62 tahun, Suardana masih tampak segar. Ia masih aktif mengukir, melukis, dan membuat karya instalasi yang menggugah. Rumahnya di Celuk, Gianyar, bukan hanya tempat tinggal, tapi juga studio, laboratorium ide, dan museum pribadi. Di sana, segala yang sakral dan kreatif menyatu dalam ruang yang hidup.
“Saya hanya ingin karya-karya kriya tetap dihargai. Kalau bisa, makin banyak generasi muda yang ikut. Jangan biarkan seni lokal ini hanya jadi ornamen hotel,” ujarnya dengan nada prihatin.
"Egois"Karya I Wayan Suardanayang lain | Foto: Angga
Baginya, kriya bukan kerajinan, tapi perenungan dalam bentuk. Ia menutup obrolan kami dengan satu kalimat yang mengandung kesadaran spiritual sekaligus tanggung jawab budaya.
“Kalau karya saya bisa membuat orang berpikir tentang asal-usulnya, tentang makna hidup dan hubungan manusia dengan semesta, itu sudah cukup,” katanya. (*)
Catatan:
Tulisan ini dibuat berdasarkan wawancara langsung dengan I Wayan Suardana di ISI Bali, Selasa, 22 Juli 2025. Karya “Metu-Manu-Urip” ditampilkan dalam pameran seni rupa kontemporer Bali Megarupa 2025, bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VII yang mengusung tema “Kara Bhuwana Kala” (Cipta Masa Samasta). Festival ini digagas oleh Ibu Putri Suastini Koster, seniwati sekaligus istri Gubernur Bali.
Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026. Mereka larut dalam Rekasadana Tari Legong yang d...
"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."
KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaba...
SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak lagi berdiri di belaka...
Tuhan Beri Aku Waktu
Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku merindumu tak terbatas waktuselagi napas ini bergelayut...
“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.”
PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika permukaan. Kemegahan ko...
PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab moral dan sosialnya dalam m...
SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan fil...
“Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?"
KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade lalu, karya eksplorasi busana yang ia tampilkan di...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING INTERCULTURAL AWA...
BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma solar, dan tubuh-tubuh kekar dengan peluh bergulir...