Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Berdasarkan rilis resmi Biro Statistik Jepang pada tahun 2023, total populasi penduduk Jepang terus menurun dalam 13 tahun terakhir. Populasi masyarakat berusia < 15 tahun hanya sebesar 11,4% (14,1 juta jiwa) sedangkan populasi masyarakat berusia ≥ 65 tahun sebanyak 29,1% (36,2 juta jiwa), sisanya adalah populasi berusia 15-64 tahun sebesar 59,5% (73,9 juta jiwa). Jumlah masing-masing kelompok usia tersebut secara umum mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, yang mana penuruan paling besar terjadi pada kelompok populasi usia < 15 tahun yakni sebesar 2,27%, sedangkan penurunan populasi terkecil berada pada kelompok umur ≥ 65 tahun, yakni hanya sebesar 0,03%.
Penurunan populasi pada seluruh kelompok usia yang terjadi selama lebih dari 1 dekade tersebut telah memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi pemerintah Jepang. Angka tersebut menggambarkan bahwa angka kelahiran yang ada di Jepang memiliki proporsi yang lebih kecil dari pada angka kematian pada populasi lansia. Hal ini kemudian yang hendak di gambarkan oleh istilah Grey Population atau populasi abu-abu, yakni kondisi penurunan tingkat kelahiran anak disertai dengan meningkatnya tingkat harapan hidup lansia.
Fenomena ini tentunya membawa sejumlah tantangan serius bagi pemerintah Jepang, di antaranya penurunan jumlah tenaga kerja produktif, peningkatan beban biaya kesehatan dan pensiun, serta potensi perlambatan pertumbuhan eknomi. Akan tetapi, kondisi ini juga memiliki daya tarik tersendiri bagi tenaga kerja asing. Hasil sensus menunjukkan bahwa populasi WNA yang tinggal di Jepang menunjukkan angka positif.
Menurut data dari Kementerian Luar Negeri RI, WNI Indonesia yang terdaftar lapor di Jepang per Desember 2023 adalah sebanyak 40.422 jiwa, yang mana 6.904 di antaranya adalah WNI dengan tujuan menetap untuk bekerja. Jumlah tersebut membuat Jepang menempati peringkat 7 besar dalam daftar destinasi negara tujuan TKI dari keseluruhan mobilitas WNI di seluruh dunia.
Secara resiprokal, kebutuhan mobilitas skilled worker (tenaga kerja terampil) asing di Jepang ini pun turut menjawab permasalahan pengangguran yang ada di Indonesia. Menurut dari data BPS pada Februari 2025, jumlah pengangguran Indonesia adalah sebesar 7,28 juta jiwa, meningkat dari Februari 2024 yang hanya sebesar 7,19 juta jiwa. Secara spesifik, jumlah pengangguran menurut pendidikan pun tak kalah mengkhawatirkan dalam 2 kelompok tenaga kerja pemegang ijazah dari pendidikan tinggi, yakni kelompok Diploma I/II/III sebesar 177.399 jiwa dan DIV/S1/S2/S3 di angka 1.010.652 jiwa. Keduanya meningkat dari jumlah pengangguran di tahun 2024, yang masing-masing hanya sebesar 173.846 dan 871.860 jiwa.
Tentunya banyak faktor yang melatarbelakangi tingginya pengangguran tersebut, mulai dari rendahnya ketersedian lapangan pekerjaan, missmatch kurikulum pendidikan tinggi dengan lapangan kerja, hinga rendahnya tingkat upah yang ditawarkan.
Dilansir dari laman Kementerian Luar Negeri Jepang, pemerintah Jepang saat ini semakin memperluas kesempatan bagi tenaga kerja berketerampilan spesifik Indonesia untuk bisa bekerja di Jepang dengan visa pekerja. Beberapa diantaranya seperti perawat, pembuat kapal dan mesin kapal, pemelihara rel kereta, manajemen budidaya, pengeloh makanan dan minuman, dsb.
Pemerintah Indonesia tentunya perlu secara serius memanfaatkan momen ini dengan cara melakukan diseminasi secara masif informasi kesempatan kerja tersebut, menyediakan balai dan program pelatihan bahasa Jepang yang lebih memadai, serta bantuan lainnya yang kiranya dibutuhkan untuk mengoptimalisasikan pengangguran terbuka di Indonesia.
Tentunya kesempatan ini tidak hanya akan memberikan keuntungan secara finansial terhadap masing-masing individu, namun secara luas memberikan keuntungan bagi negara. Beberapa diantaranya seperti peningkatan devisa negara, penurunan angka pengangguran, potensi transfer pengetahuan dan teknolgi dari Jepang, adaptasi budaya kerja, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. [T]
Penulis: Bilqis Oktaviani Putri
Editor: Jaswanto
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...