MUSIKALISASI puisi itu bukan sekadar menambahkan musik ke dalam puisi, melainkan menghadirkan harmoni antara dua seni yang sama-sama mulia itu. “Kalau musik dan puisi tidak bersinergi, lebih baik mereka jalan sendiri-sendiri,” ujar Tan Lioe Ie usai Pawimba (Lomba) Musikalisasi Puisi di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) ke-7 tahun 2025 di Taman Budaya Bali, Denpasar, Rabu, 23 Juli.
Tan Lioe Ie adalah salah satu dewan juri dalam lomba itu bersama I Gusti Ayu Ngurah Henny Janawati dan Ketut Sumerjana.
Meski jumlah peserta menurun dibandingkan tahun sebelumnya, lomba ini tetap menjadi favorit kalangan muda pecinta seni. Tahun ini, dari 18 peserta yang terdaftar, hanya 14 yang tampil dalam lomba yang digelar selama dua hari di Taman Budaya Provinsi Bali.
“Tahun lalu jumlah peserta mencapai 22. Tapi tahun ini banyak yang mundur sebelum tampil,” ujar dewan juri Tan Lioe Ie, didampingi I Gusti Ayu Ngurah Henny Janawati dan Ketut Sumerjana.
Penampilan kelompok musikalisasi puisi di Festival Seni Bali Jani 2025
Penurunan bukan hanya dari jumlah, namun juga dari kualitas. Menurut penilaian dewan juri, hanya segelintir peserta yang mampu mempertahankan mutu pertunjukan. Banyak peserta dinilai gagal memahami puisi secara utuh, sehingga musik justru mendominasi dan mengaburkan makna karya sastra yang dibawakan.
“Puisi kontemplatif jadi tidak kontemplatif. Musik malah menutupi puisi, bukan memperkuat,” ujar Tan Lioe Ie. Ia mencontohkan puisi berjudul Ubud yang menyimpan potensi musikal, tetapi gagal dimanfaatkan dengan maksimal oleh peserta.
Penambahan alat musik pun, lanjutnya, bukan jaminan keberhasilan. Justru peserta yang banyak menggunakan instrumen tapi tidak mampu membangun sinergi, tak mendapat nilai tambah berarti. “Puisi dan musik punya banyak kesamaan—harmoni, kultur, metrum—yang perlu disatukan dengan sensitif dan cerdas,” ungkapnya.
Penampilan kelompok musikalisasi puisi di Festival Seni Bali Jani 2025
Sementara itu, Ketut Sumerjana menyoroti pentingnya orisinalitas. Ia mengkritik peserta yang mengambil musik dari karya lain. “Kalau cuma memakai musik yang sudah ada, itu bukan karya. Di sini kita menuntut ciptaan, bukan sekadar kolase,” katanya tegas.
Menurutnya, penyajian musikalisasi puisi berbeda total dari konser musik pop atau rock. “Yang utama adalah pemahaman terhadap puisi. Tanpa itu, musiknya hanya menjadi tempelan,” ujar Sumerjana.
Meski tahun ini mengalami penurunan dalam berbagai sisi, para juri berharap lomba musikalisasi puisi tetap menjadi ruang kreatif yang menumbuhkan apresiasi terhadap puisi dan musik sebagai satu kesatuan ekspresi seni.
Festival Seni Bali Jani 2025 masih menyimpan banyak kejutan. Namun satu hal pasti: musikalisasi puisi, meski tak sempurna, tetap memikat hati. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...