“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
TANGGAL 3 Juli 2025, Kamis itu, berjalan seperti biasa. Udara tidak terlalu panas, tidak juga dingin, tidak ada perasaan luar biasa, hanya hari Kamis yang berjalan pelan, diam-diam, dan datar. Semua berjalan sebagaimana mestinya, tanpa kejutan. Tidak ada firasat, hanya rutinitas yang mengalir lambat dan tenang. Hingga sebuah pesan WhatsApp dari suami saya masuk: “Sudah tahu Diogo Jota?” Saya mengernyit, bertanya balik tanpa pikir panjang, “Memangnya kenapa?” dan hanya dibalas dengan satu kata yang mengguncang: “Wafat.”
Saya tiba-tiba membeku. Saya buru-buru membuka media sosial, berharap ini hanya kabar palsu, candaan buruk yang kelewatan. Namun, X dan Instagram justru serempak mengabarkan hal yang sama. Diogo Jota meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dalam perjalanan kembali ke Liverpool untuk mengikuti latihan pramusim.
Rasanya dada sesak, seperti ada lubang yang tiba-tiba tercipta. Diogo Jota, yang selama ini saya ikuti permainannya, yang selalu saya harapkan mencetak gol saat Liverpool bermain, kini telah tiada. Dalam sekejap, Kamis yang datar itu berubah menjadi hari yang kelabu, penuh diam dan kehilangan.
Dalam keterangannya, Liverpool menuliskan Liverpool Football Club are devastated by the tragic passing of Diogo Jota. 'Devastated' yang dalam bahasa Inggris menggambarkan perasaan sangat sedih, hancur, atau terpukul secara emosional. Ini biasanya digunakan ketika seseorang mengalami kehilangan besar, kekecewaan mendalam, atau kesedihan yang luar biasa. Sangat terpukul, sedih yang mendalam, remuk redam, mungkin kata-kata itu yang bisa menggambarkan perasaan seluruh fans Liverpool. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan kehancuran hati dengan apa yang dialami.
Jota menjadi pemain penting bagi Liverpool. Jota mencetak enam gol musim lalu untuk membantu tim Arne Slot memenangkan gelar Premier League. Ia membawa Liverpool meraih gelar juara Liga Inggris ke-20 pada musim 2024-25, serta membantu tim nasional Portugal memenangkan gelar UEFA Nations League untuk kedua kalinya di musim yang sama. Jota mencetak 65 gol dalam 182 penampilan untuk The Reds setelah bergabung dari Wolves. Bersama Liverpool Jota turut memenangkan Piala FA, Community Shield, dan Piala Carabao dua kali bersama Liverpool.
Jota, dalam ingatan saya, adalah semua hal-hal baik tentang kemenangan, mimpi dan harapan. Ketika Liverpool mengalami kebuntuan, yang saya lafalkan ketika Jota tidak ada di lapangan adalah, "Mainkan Jota." Ketika pelatih memasukkan Diogo, harapan untuk menang semakin menggebu.
Entah bagaimana, kadang, kehadiran Jota memberikan saya optimisme tambahan bahwa pada saat itu Liverpool akan membawa pulang 3 angka. Jota membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing dan tampil selevel dengan bintang-bintang seperti Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino di lini depan Liverpool sebelumnya dan bermain baik dengan Luis Diaz, Cody Gakpo dan Darwin Nunez. Jota dalam ingatan saya hanyalah kegembiraan, perayaan, senyuman, tawaan, candaan dan kebahagiaan.
Oh, he wears the number 20,
He will take us to victory
He did
Diogo, selamanya hidup dalam ingatan
Diogo, selamanya hidup dalam harapan
He’s a lad from Portugal,
Better than Figo don’t you know,
Oh, his name is Diogo! [T]
Penulis: Nanda Rizka Syafriani Nasution
Editor: Adnyana Ole
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...