MALAM itu, Jumat, 18 Juli 2025, saya menyaksikan utsawa (parade) wayang kulit yang menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025. Tahun ini, dari sembilan kabupaten/kota di Bali, hanya lima kabupaten/kota yang mengirimkan dalang untuk ikut utsawa.
Menariknya, dalang-dalang yang dikirim menjadi duta adalah para dalang muda. Bahkan Kabupaten Badung menampilkan seorang dalang perempuan—pemandangan langka yang memberi warna baru dalam parade wayang tahun ini.
Malam itu, ketika saya hadir di PKB, giliran duta Kabupaten Klungkung yang diwakili oleh Sanggar Ratu Kinasih, Banjar Kelod, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, tampil untuk mempertunjukkan permainan wayang kulit di depan Gedung Kriya, Taman Budaya Bali, Centre, Denpasar.
Saya cukup terkejut melihat banyaknya warga yang duduk lesehan di depan kelir yang sudah terpasang. Mereka duduk di rerumputan pinggir tukad (sungai) di areal Taman Budaya itu. Entah mereka memang sengaja datang untuk menonton wayang, atau sekadar beristirahat setelah lelah berkeliling di pasar malam, atau karena pada jam itu tidak ada pementasan lain yang bisa mereka saksikan.
Saya berharap semoga saja memang benar-benar datang untuk menyaksikan wayang, bukan karena sekadar tidak ada pilihan lain.
Di belakang kelir, tampak pula banyak akademisi dan praktisi seni yang ikut menyaksikan dan memperhatikan jalannya pertunjukan.
Utsawa Wayang Kulit duta Kabupaten klungkung 2025
Bagi saya, tempat penonton duduk di areal taman di tepi tukad (sungai) Taman Budaya itu sebenarnya kurang ideal, dikarenakan lokasi pementasan yang tepat didepannya adalah akses jalan menuju Panggung Ayodya di sebelah timur.
Di jalan itu, di antara kelir wayang dan penonton, arus lalu-lalang manusia tidak terhindarkan. Pandangan penonton seringkali terhalang orang-orang yang berseliweran.
Saat itu teman yang ikut menonton sedikit mengumpat, ”Klee... sing ngelah inisiatif nutup jalan ape engken nah?! Masak nak mebalih wayang sambil mebalih nak sliwar sliwer!” Intinya, temasn saya itu berjata dengan nada kesal, kenapa tak ada inisiatif menutup jalan. "Masak, nonton wayang sambil menonton orang lalu-lalang!"
Satu hal lagi yang tak kalah mencuri perhatian adalah deretan kursi kosong yang diletakkan ngandang (melintang) di depan kelir. Konon kata MC saat saya tanya, kursi dan meja itu disiapkan untuk undangan. Namun dari awal hingga akhir pertunjukan, tak satu pun undangan yang saya lihat duduk di sana. Mungkin mereka memang tidak hadir. Atau barangkali ada yang lebih memilih lesehan bersama penonton. Atau, jangan-jangan kursi-kursi itu disediakan untuk undangan tak kasat mata alias makhluk maya-maya.
Utsawa Wayang Kulit duta Kabupaten Klungkung 2025
Lakon yang dibawakan dalang dari Nusa Penida malam itu berjudul Rempong Bisma. Cerita diawali dari peparuman antara Krisna dan Arjuna, dimana Arjuna merasakan kesedihan mendalam setelah kematian putra Wirata dan lakon diakhiri dengan terbunuhnya Bagawan Bhisma.
Secara struktur, pementasan ini cukup lengkap: dimulai dari petegak, nyejer wayang, pemungkah, alas arum, penyacah parwa, pengalang, hingga mesem dan adegan ngerebong pun dihadirkan. Tak ketinggalan, sastra kekawin turut diselipkan, memperkuat kesan bahwa wayang kulit adalah pertunjukan sastra. Apalagi lakon Bharatayuda memang biasanya kaya akan petikan kekawin, meski pada pertunjukan ini jumlahnya tidak sebanyak pada lakon Bharatayuda yang pernah saya tonton dalam pertunjukan seorang dalang Sukawati.
Namun disayangkan, sepertinya semangat dan gairah sang dalang yang besar tidak sepenuhnya tersambut oleh audiens. Penonton tampak bersikap datar-datar saja, tepuk tangan hanya terdengar ketika pementasan dimulai dan berakhir. Selebihnya mereka sibuk dengan percakapan sendiri, ada yang asyik dengan ponsel sambil sesekali melirik ke layar wayang, bahkan ada pula yang memilih untuk meninggalkan pertunjukan.
Tawa yang muncul justru bukan karena adegan-adegan atau kata lucu dari pementasan wayang, melainkan dari obrolan mereka sendiri. Tentu saya tidak mengatakan pertunjukan yang disajikan sang dalang tidak bagus atau tidak berkualitas, namun memang situasi itu juga yang kerap terjadi ketika pertunjukan wayang dihadirkan di masyarakat masa kini.
Pertanyaan pun muncul dalam benak saya: apakah wayang kulit tradisi di Bali memang membosankan dan sulit dipahami oleh masyarakat masa kini? Ataukah penonton malam itu datang hanya karena di panggung lain tidak ada pementasan yang bisa ditonton? Apakah wayang hanya menjadi pilihan kedua?
Kalau ingin kesenian ini mampu melangkah lebih maju, pertanyaan-pertanyaan ini bagi saya penting dijadikan bahan evaluasi untuk perhelatan Utsawa (parade) wayang di masa mendatang. Tujuannya supaya orang-orang yang datang memang berniat menonton pertunjukan wayang, seperti halnya masyarakat yang dengan hebohnya datang untuk menyaksikan Wimbakara (Lomba) Baleganjur dan Bapang Barong. Bahkan mungkin perlu dipertimbangkan untuk memperbanyak variasi materi yang dipertunjukkan dalam perhelatan PKB agar seni pewayangan/pedalangan memiliki ruang yang lebih banyak, sebagaimana pada seni-seni lain.
Lihat saja seni karawitan. Ada baleganjur, gong kebyar, semar pegulingan, dan berbagai kategori lainnya. Begitu juga seni tari, pementasannya sangat banyak di PKB. Lalu mengapa wayang tidak diperlakukan serupa dengan menata beberapa kategori sajian?
Menampilkan wayang legendaris adalah salah satu ide bagus yang patut dipertimbangkan. Menarik pula jika ada materi pagelaran wayang inovasi.
Sepertinya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan pihak-pihak terkait sudah saatnya memikirkan agar PKB menjadi ajang yang lebih inklusif bagi semua bidang seni. Bukan hanya satu atau dua bidang yang merasakan euforia yang luar biasa besar, tetapi seluruh cabang seni, termasuk seni pewayangan/pedalangan bisa lebih diikutkan dalam pesta dan tidak terkesan sekedar ada. Karena ini Pesta Kesenian Bali, sepatutnya semua kesenian bisa merasakan berpesta dan berdansa bersama dalam acara besar ini. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...