WAKTU kecil, aku pernah bertanya, “Kenapa Ibu gampang marah, sementara Ayah lebih sabar?”
Tak ada yang membantu aku menjawab waktu itu. Tapi bertahun-tahun kemudian, perlahan aku mulai sadar, bahwa Manusia tidak lahir sebagai kertas kosong. Kita datang ke dunia membawa banyak hal, yakni sifat bawaan, jejak jiwa, dan warisan nasib yang tak pernah kita minta.
Salah satu temanku dikenal sangat tenang. Bahkan ketika diselingkuhi pasangannya, ia tidak meledak. Ia menarik napas, berbicara pelan, dan memilih pergi dengan kepala tegak.
Sementara aku—kadang hanya karena teman datang terlambat 30 menit—bisa kesal seharian, seolah dunia sedang bersekongkol melawanku.
Dulu kupikir itu cuma soal “watak.” Tapi ternyata tidak sesederhana itu.
Otak kita bekerja di balik layar. Sebagian besar keputusan—termasuk reaksi emosional dan cara kita mencintai atau marah—dibentuk oleh proses bawah sadar. Riset menunjukkan bahwa lebih dari 80% dari apa yang kita pikir “pilihan sadar,” sebenarnya adalah pola otomatis yang tertanam sejak lama. Kita mencintai, marah, atau bahkan boros, bukan karena kita ingin seperti itu.
Kita mencintai seperti kita belajar mencintai—dari ibu yang dingin, atau dari film dan novel yang kita baca saat remaja. Kita marah seperti ayah kita dulu marah: cepat, meldak, dan kaku. Kita boros, mungkin karena di masa kecil, belanja adalah satu-satunya cara merasa senang dan bebas. Semua itu membentuk proyeksi kita bersikap hari ini.
Genetika Juga Bicara
Ilmu modern mengungkap bahwa kita mewarisi banyak hal lewat gen, seperti kecenderungan cemas, impulsif, penyayang, atau bahkan sulit percaya sama orang lain. Misalnya, gen dopamin tertentu membuat kita lebih impulsif, suka risiko, dan cepat bosan. Ini bisa menjelaskan kenapa seseorang berani mengambil keputusan berani—dalam cinta, pekerjaan, atau uang. Gen oksitosin memengaruhi seberapa dalam diri kita sehingga merasa terhubung dan bisa mempercayai orang lain.
Bahkan cara kita memandang uang—hemat, boros, takut kehilangan—bisa dipengaruhi oleh kerja hormon yang diatur oleh sistem genetik.
Maka wajar kalau kamu pernah bertanya: “Kenapa aku begini?” Jawabannya, bisa jadi karena kamu tidak sepenuhnya ingin seperti itu. Itu adalah kombinasi dari warisan DNA dalam tubuh, pola pikir keluarga, dan lingkungan hidupmu.
Apakah Kita Tidak Bisa Berubah?
Pertanyaan yang sangat penting kemudian adalah, apakah hidup hanya tentang menjalani naskah lama dari trauma dan gen? Ternyata, tidak, karena meskipun kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan, pengalaman apa yang kita terima, atau gen mana yang kita warisi, kita bisa memilih untuk menyadarinya.
Dan kesadaran—itulah awal dari kebebasan.
Dulu, saat aku belajar duduk diam dan menyadari pikiranku sendiri, aku mulai paham bahwa pkiran datang dan pergi. Emosi muncul tanpa permisi. Tapi aku tidak harus ikut terbawa.
Kemarahanku bukan aku. Kecemasanku bukan aku. Rasa takutku, ternyata hanyalah gema dari masa lalu—bukan masa kini.
Hari ini, aku masih pemarah. Tapi aku belajar bertanya dulu, "Apakah ini benar tentang orang itu? Atau ini luka dan trauma lama yang sedang bicara?"
Saat keinginan belanja muncul, aku tak buru-buru patuh. Aku belajar mengenali suara dalam kepala yang berkata, "Beli ini, nanti kamu bahagia." Dan aku bisa menjawab dengan senyum, “Terima kasih, aku masih baik-baik saja tanpa barang itu."
Kita tidak sepenuhnya bebas. Tapi kita juga tidak sepenuhnya terikat. Kita bukan sekadar robot dari gen dan trauma, tapi juga bukan dewa yang bisa mengendalikan segalanya dengan sempurna. Kita manusia. Dan manusia punya satu anugerah yang sangat indah, yaitu kemampuan untuk sadar. Dan dari kesadaran itu, kita bisa mulai memilih ulang. Jadi jika suatu hari kamu merasa gagal, terlalu emosional, atau tidak tahu kenapa kamu begini— jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Mungkin kamu sedang menjalani pola lama yang tertanam sejak kecil. Tapi pola bisa dilihat. Dan yang bisa dilihat, bisa dipahami. Dan yang bisa dipahami, bisa diubah—perlahan, sadar, dan penuh kasih.
Karena pada akhirnya, hidup ini seperti perangkat lunak. Kita bisa hapus program lama, dan kita bisa install yang baru; membuat kita menjadi lebih utuh, lebih damai, lebih mencerminkan diri kita yang sebenarnya. [T]
Penulis: I Made Indah Gunawan Saputra Editor: Adnyana Ole
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...