DI Bali, mati bukan sekadar mati. Ia adalah upacara, urusan keluarga, gotong royong, arak-arakan, doa, gamelan, sampai ke soal yang paling duniawi: uang. Mati di Bali harus dirayakan, dilengkapi, dihantarkan ke alam lain dengan berbagai macam ritus. Tapi siapa sangka, di zaman sekarang, mati pun bisa jadi praktis. Cukup pesan jadwal, bayar tarif, dan tunggu antrean di krematorium.
'Orang Bali takut mati', begitu kata para pemikir, yang juga orang Bali. Bukan karena tak siap bertemu Tuhan, tapi karena belum siap dengan urusan dunia: masih ingin menikmati hidup, takut menyusahkan kerabat, atau takut tak ada yang peduli karena semasa hidup tak pernah ikut mebraya (gotong royong adat Bali). Selain itu, orang Bali takut mati karena mati dianggap mahal dan ruwet.
“Kalau bisa, saya mau hidup sampai 2050. Biar bisa ngerasain mobil terbang,” canda Made Landuh (62), pria yang saban pagi menyiram bonsai dan mendengarkan lagu-lagu Obbie Messakh. Ia mengucapkannya sembari tertawa, tapi dari caranya mengelus dada dan minum jamu herbal lima kali sehari, tampak jelas: ia takut mati.
Made Landuh seolah tahu, ngaben itu bukan urusan kecil. Ia masih ingat biaya ngaben kakaknya dulu menghabiskan ratusan juta. "Untung waktu itu masih ramai keluarga yang bantu. Sekarang? Saudara sudah sibuk semua, hidup masing-masing," katanya, menghela napas.
Di sisi lain, Nyoman Gangsar (74), hidup sendiri di rumah tua yang dindingnya mulai retak. Ia dulu pernah jadi kelian banjar, tapi sejak dua puluh tahun lalu, memilih menarik diri dari keramaian, tak pernah aktif di masyarakat lagi. Ia bilang ingin damai, tapi di dalam hati kecilnya, ada kerisauan tentang kematian. "Semasa muda, saya pikir bisa hidup sendiri, mandiri, tak perlu banyak bantu-bantu banjar," katanya sambil menyulut rokok.
"Sekarang saya sadar, kalau saya mati, siapa yang akan bantu urus ngaben saya? Saya tak punya anak, istri sudah meninggal. Setelah berhenti jadi kelian banjar, saya tak pernah mebraya. Lantas siapa yang sudi membantu?" ucapnya.
Berbeda dengan dua lelaki itu, Ketut Sari (35) tak mau ambil pusing. Beberapa bulan lalu, suaminya meninggal karena stroke. Tak banyak pertimbangan, ia langsung membawa jenazah suaminya ke krematorium di pinggiran kota. “Kami nggak sanggup ngaben besar-besaran. Saudara jauh, waktu sempit, anak-anak masih kecil. Krematorium saja. Praktis, tak perlu banyak orang dan tak perlu banyak uang,” katanya tanpa ragu.
Ia mengaku sempat digunjing beberapa kerabat. Tapi banyak juga yang paham, di zaman sekarang, siapa punya waktu berbulan-bulan hanya untuk mempersiapkan upacara? Lagipula, Ketut Sari merasa ritual itu tetap ada. “Ada doa, tirta, upakara, abu. Bukankah itu yang penting?”
Di krematorium itu, Ketut Sari menyaksikan enam mayat lain mengantre. Semua dimandikan dan diupacarai bergiliran. Kemudian, dibakar bersamaan dalam sekat-sekat berbeda.
Dulu, upacara ngaben bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk dipersiapkan. Ada yang mengubur jenazah terlebih dahulu, menunggu waktu sekian tahun, dan menanti dana cukup. Kini, krematorium menjamur dari kota sampai ke desa. Bahkan ada desa adat yang membangun krematorium sendiri untuk warganya, biar tak perlu jauh-jauh. Tapi diam-diam, ada pula yang bertanya: kalau semua jadi instan, apa yang akan terjadi dengan budaya mebraya?
Mebraya bukan sekadar datang–bantu, Ia adalah cara menjaga ikatan sosial. Karena kematian bukan hanya urusan satu keluarga, tapi komunitas. Ketika mebraya ditinggalkan, siapa yang akan menjaga ikatan itu? Perubahan zaman membawa efisiensi, tapi di sisi lain juga mengikis. Masyarakat menjadi semakin ringan, juga kian renggang.
Made Landuh masih hidup, masih minum jamu dan menyiram bonsai. Tapi ia mulai bertanya, "Kalau nanti saya mati, apakah anak saya tahu bagaimana prosesi ngaben yang benar?"
Nyoman Gangsar masih hidup juga. Kini ia mulai datang ke banjar lagi, diam-diam sekadar bantu angkat kursi, menyapu halaman pura, dan ikut ngayah di setiap kesempatan. Ia tahu, mebraya bukan investasi spiritual semata, tapi cara bertahan sebagai mahluk sosial di Bali.
Ketut Sari juga masih hidup, tetap mengurus anak dan membuka warung kecil. Ia tak menyesal membawa jenazah suaminya ke krematorium, baginya itu adalah pilihan yang tepat. “Saya tidak tahu apakah anak-anak saya nanti masih kenal upacara ngaben saat saya mati. Tapi mungkin, zaman sudah berubah, begitupun dengan tradisi,” ujarnya.
Orang Bali kini hidup di zaman serba instan. Bahkan mati pun bisa diatur lebih praktis. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan ditinggalkan: kebersamaan, gotong royong, dan makna yang tak bisa dibakar bersama jenazah. Mati memang tidak bisa ditunda. Tapi cara kita mengantarkan orang mati, barangkali menentukan siapa kita sebenarnya. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...