PAGI itu, Ni Komang menggiling kacang dengan tangan—bukan dengan blender seperti warung sebelah yang lebih muda dan lebih keras kepala. Tangannya masih menyimpan ingatan tentang cara ibunya dulu mengulek: searah jarum jam untuk sate ayam, berlawanan untuk kambing, dan selalu dengan bisikan doa supaya daging lunak dan tak membuat orang marah.
“Marah?” tanya seorang turis dari Australia suatu hari.
“Iya,” katanya. “Di sini, makanan bisa mengusir atau menanamkan roh jahat. Kau tak tahu? Sate bisa jadi persembahan atau perangkap.”
Turis itu tertawa. Lalu datang ledakan.
*****
Dua puluh tahun telah lewat. Warungnya sekarang cuma meja kayu lapuk dan tungku arang yang tak lagi diasapi daging. Ia menolak membuka kembali sejak malam ketika tubuh-tubuh hangus dibawa ke jalan, dan seorang bocah berteriak memanggil ibunya yang telah berubah jadi nyala. Yang tersisa dari malam itu bukan abu, tapi sesuatu yang lebih lengket dari duka: bau sate terbakar yang bercampur daging manusia.
Orang-orang mencoba melupakan. Mereka membangun lagi, membuka toko baru, menyulap puing menjadi lounge. Pariwisata harus berjalan. Bali, katanya, harus bangkit. Dunia menuntut pulau ini tetap cantik dan ramah, bahkan jika tanahnya mengandung sisa-sisa serpihan luka.
Ni Komang tidak menolak hidup. Tapi ia menolak melupakan.
Ia tak lagi menjual sate. Ia menggali tanah.
*****
Di belakang warungnya, ia mendirikan semacam lumbung kecil. Atapnya dari ijuk, dindingnya dari kayu jati tua. Di dalamnya ada puluhan stoples kaca. Setiap stoples memuat sisa dari malam itu: pecahan botol, jepit rambut hangus, rantai sepeda motor, koin meleleh, tulang jari yang tak pernah diklaim siapa-siapa.
Di sudut rak paling atas, ada satu stoples terbesar, berisi arang hitam tak teratur bentuknya, seperti daging gosong yang tak sempat matang.
“Apa ini museum?” tanya seorang bocah pendatang.
“Ini pura,” jawabnya tenang. “Pura bagi yang tak sempat dimakamkan.”
Setiap malam bulan mati, ia menyalakan dupa dan menaburkan segenggam abu ke tanah. Ia duduk bersila dan berdoa dalam diam. Ia percaya bahwa tanah Bali telah kehilangan ingatannya. Terlalu banyak kaki menari di atasnya tanpa hormat. Terlalu banyak hotel berdiri tanpa upacara. Terlalu banyak air mata jatuh tanpa sempat ditadah sesaji.
Maka ia menjadi penjaga tak resmi, seorang arkeolog luka, yang mencoba mengingatkan bumi bahwa manusia dulu pernah sujud.
*****
Dalam mimpinya, Dewi Sri datang bukan dalam wujud dewi padi, tapi sebagai perempuan terbakar yang membawa baki sate. Dagingnya daging manusia, tapi dibumbui air mata dan garam laut.
“Terimalah,” kata sang dewi. “Karena ini juga tubuhmu.”
Ni Komang menolak. Tapi bangun dengan rasa kenyang. Di mulutnya, ada jejak sambal kacang yang tak pernah ia buat.
Ia mulai menulis. Di dinding warung kosong, ia coretkan nama-nama korban yang ia ingat. Ada yang ia tahu dari berita, ada yang ia temui hanya beberapa menit sebelum mereka jadi api. Ada turis dari Swedia yang bertanya tentang bumbu rendang. Ada pemuda lokal yang minta diskon. Ada perempuan dari Solo yang baru belajar surfing.
Ia tak tahu siapa nama asli mereka semua, maka ia beri nama sendiri:
Wayan Yang Tak Sempat Menikah,
Made Yang Menyanyi dalam Api,
Ketut Yang Ketinggalan Sandal.
*****
Orang-orang menyebutnya gila. Tapi pada malam-malam tertentu, terutama saat Galungan atau Kuningan, pendeta muda datang diam-diam ke warungnya yang terbengkalai. Mereka meminta sedikit abu sate itu. Untuk campuran dupa, katanya. Karena dari abu itu keluar aroma yang bisa membuat roh-roh berhenti menangis.
Suatu malam, seorang pendeta berkata:
“Tanah di sini sudah keracunan. Tak bisa lagi tumbuh pohon suci. Mungkin karena tanah tak diberi kesempatan untuk menangis.”
Ni Komang tersenyum. Ia tahu. Ia sudah menangisi tanah itu setiap malam.
*****
Suatu siang, seorang lelaki Australia tua datang. Ia mengaku anak dari turis yang mati malam itu. Ia membawa foto: seorang lelaki berambut keriting memegang sate dengan ekspresi aneh, antara geli dan takut. Di latar belakang, warung Ni Komang berdiri, utuh, sebelum semuanya meleleh.
“Ayahku bilang satemu bisa menyelamatkan dunia kalau semua orang makan bersama,” katanya.
Ni Komang mengenali pria di foto itu. Ia tertawa sebelum bom meledak.
“Dia orang terakhir yang kuambilkan sambal.”
Ia menunjuk ke rak kayu, ke stoples abu paling besar.
“Itu satenya,” kata Ni Komang.
Lelaki itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya untuk kedua kali.
Sebelum pulang, ia mengambil segenggam tanah dari dekat tungku. “Untuk ditanam di taman belakang rumah,” katanya.
“Tanah ini tak lagi subur,” ujar Ni Komang.
“Tapi ia ingat,” jawab si lelaki. “Dan aku ingin ada satu tempat di rumahku yang ingat.”
*****
Terkadang, anak-anak muda datang dan memotret warungnya. Beberapa mempostingnya dengan tagar #darktourism. Mereka bilang tempat ini cocok jadi spot horor. Mereka tidak tahu bahwa roh-roh di sini tak ingin menakuti siapa pun, hanya ingin dikenang.
Pernah suatu kali seorang Youtuber terkenal datang membawa kamera. Ia ingin mewawancarai Ni Komang. “Kami ingin buat dokumenter spiritual,” katanya, “tentang energi arwah di Bali.”
Ni Komang menolak.
Ia tak ingin ceritanya menjadi konten.
Ia ingin abu tetap abu.
*****
Malam itu, saat bulan sabit melengkung tipis seperti senyum kecil, Ni Komang bermimpi lagi. Tapi kali ini Dewi Sri tidak sendiri. Ia bersama seorang anak kecil yang membawa sate dengan tangan kecil penuh luka.
“Ini sate buat siapa?” tanya Ni Komang.
“Buat ibu yang lupa pulang,” jawab bocah itu.
Paginya, ia bangun dan melihat ada sate sungguhan di atas tungku. Masih hangat. Siapa yang meletakkannya, ia tak tahu. Tapi aromanya sama seperti dua puluh tahun lalu: kacang yang baru disangrai, serai yang dirajang halus, dan—entah kenapa—bau laut menjelang badai.
Ia memakannya perlahan. Untuk pertama kali, ia makan sate buat dirinya sendiri.
*****
Tak ada yang tahu kapan Ni Komang mulai tak terlihat. Warungnya tetap kosong, tapi selalu bersih. Dupa kadang masih menyala. Dan rak-rak stoples itu tetap tersusun rapi, seperti diurus oleh tangan tak kasat mata.
Beberapa orang percaya ia sudah menyatu dengan tanah. Bahwa tubuhnya berubah jadi akar pohon jambu biji di belakang warung. Setiap kali anak-anak bermain di sana dan duduk terlalu lama, mereka bilang tanahnya hangat. Seperti pelukan ibu.
Kini orang-orang sudah jarang bicara tentang malam itu. Tapi jika kau berjalan cukup pelan melewati jalan kecil di Legian saat tengah malam, kadang-kadang kau bisa mencium bau sate terbakar, samar, bercampur bau garam dan air mata.
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...