Kujatuhkan setengah jam di bulevar Demi memungut setengah jam yang lain Menyusur koridor panel surya Ke tempat berpijakmu, latar abu-abu berpaving: Berdiri Disiram dan menadah cahaya matahari
Sejenak bersemuka Dimulai dari tolehmu secepat kakiku menuju tiba
Di sela-sela Ketika jarak hanya sejengkal dan raga tinggal merapat Sesalku adalah tiada yang kuperbuat
Andai gugup gemetar diri tak meriapi Andai getar suara tak rintangi Akan kulewati Celah-celah kecil yang hanya milidetik itu, menyebut namamu
Waktu makin berjalan Satu jam memang tak pernah panjang Setengahnya telah hilang Maka pada sisa waktu Mesti kusimpan remah temu : Sebaik yang kumampu
Siapa yang sadar? Kuselipkan setengah jam pada saku ingatan Sebagai kenang-kenangan perjalanan jauh Juni ke Juli, Juli ke Agustus Jarak tempuh yang sarat lintas tak lurus
Di ujung waktu Kaku, terpaku, terpancang kakiku Tak ikhlas melepas Makin jauh langkahmu
Tolehan sejenak Apa yang kau lihat di barat? Beliku menelanmu bulat-bulat Dan pertanyaanku … tak menemu jawab
K, 2024-2025
Aku, Kau, dan Pohon-Pohon
Pada jalan setapak itu, aku ingin membawamu. Akan kutunjukkan riuhnya selokan penuh kecebong atau mungkin ikan-ikan kecil, jembatan dengan pagar di satu sisi yang dirambati tanaman bunga dengan lebah-lebah mengisapi, serta jalanan naik samping beringin yang akar gantungnya berjalin-jalin.
Maukah? Sambil kita berbincang tentang kelokan-kelokan hidup yang kita lewati di luar pertemuan ini.
Hidup menggelar pilihan dan kita akan tiba di persimpangan yang sudutnya ditumbuhi ketapang. Kita bisa menyeberang, melewatinya, menuruni beberapa anak tangga, dan berakhir tiba di suatu pelataran lantas menuju ke selatan.
Dari sana dapat kau lihat, bangunan sederhana tempatku pernah temukan biji-biji pohon saga yang kini telah lenyap entah ke mana. Selain keputusan, kadang-kadang hidup juga mengambil hal berharga, bukan?
Kita tidak akan mampir karena aku ingin mengajakmu terus berjalan hingga kita tiba di taman kecil dengan pohon beringin lain.
Pada salah satu kursi di sana suatu sore aku pernah menangisimu, tetapi cerita itu bukan tujuanku. Aku hanya ingin tahu pohon apa yang paling kau suka? Hingga tak bisa kau lepas rasa kagum dalam hatimu terhadapnya.
Aku suka … ficus benjamina pada taman museum itu.
Tak pernah bosan ia kukagumi, kadang sambil duduk menyesap kopi, mengudap kue muffin mungil di tengah teriknya hari, atau mengamati burung-burung mematuki apa pun.
Cukupkah?
Kita bisa beranjak kalau kau mau. Akan kutunjukkan pohon kenitu favoritku tepat di pelataran dengan replika candi tak jauh dari situ.
Mengapa aku suka pohon kenitu? Oh, ayolah! Pohonnya berdaun indah, seperti disepuh emas bila kau lihat dari bawah. Kau bisa merasa jadi orang paling kaya hanya dengan tengadah kepala.
Jadi, pohon apa yang paling kau suka?
Beri tahu aku biar aku juga suka dan ingat caramu berkata-kata.
K, Oktober-November 2024
Hujan Hari Keenam—Darinya Puisi Ini Kulahirkan
masih ingatkah hujan hari keenam pekan pertama bulan terakhir, tahun kemarin? hujan tak henti-henti, awet sekali. aku berteduh, bernaung gazebo, belakang gedung sekolah pascasarjana, bersembunyi dari ingar-bingar dan menghadapi keterasingan.
itu bukan rencana awal.
usai dari ruang tata usaha, aku ingin lift mengantarku ke lantai delapan, ke suatu ruang tempat aku bisa melihat pelataran dengan kabut rindu pada retina dari balik kaca jendela. tapi antrean padat seperti mencegat, aku pun mengurungkan niat dan memilih keluar gedung, tanpa sempat pamit pada ikan-ikan hias di akuarium yang pernah kutatap dan kukagumi dalam durasi lama berdiri.
ikan-ikan yang sangat ingin kusapa lagi.
di gazebo, aku banyak memikirkanmu. tiba-tiba juga ingin tahu, seperti apa rupa jas hujan yang kau miliki? apakah bagian punggungnya bergambar penguin? ataukah seluruh permukaannya berhias motif polkadot? demi tuhan. aku penasaran. tanpa spesifik alasan.
hujan tak lekas reda dan justru kian menderas curahnya. ia menarik benang ingatan tentang nuansa sepotong cerita karya ray bradbury yang diterjemahkan maggie tiojakin ke dalam bahasa kita sebagai hujan berkepanjangan, dan tak dapat kupungkiri, persis yang kurasakan: dingin menggerayang, menjejakkan lembap-basah pada pakaian. makin menggigilkan kau di ingatan. melekat erat. menggelisahkan.
cuaca yang semuram itu … aku ingin tahu bagimu. apa hanya sekadar guyur air yang tak putus ataukah panggilan renung yang tengah berembus?
dan bila kau bertanya, apa urgensi hujan hari keenam kukisahkan? karena hari itu aku ingin melihatmu, tapi semesta tak berpihak kepadaku.
maka darinya puisi ini terlahir akan menyapamu jika kau baca adalah takdir.
K, 2025
Catatan: Puisi ini terinspirasi dari kenangan pribadi penulis serta latar suasana dalam cerpen The Long Rain karya Ray Bradbury yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Maggie Tiojakin dengan judul Hujan Berkepanjangan.
Fragmen Pertemuan: Letak Demi Letak, Sebelum Kita Berjarak
/1/ di ambang gawang kita pandang hijau tanah lapang sesaat sebelum canggung datang bergelung pada ruang percakapan.
kutatap sejenak rerumputan; menimbang, tepatkah bila pada hamparnya kuserah-titipkan gawaiku yang sederhana sebab tasku jauh di luar jangkauan dan kau yang dekat, cergas tawarkan bantuan.
tas hitam yang kau bawa, kuletakkan gawaiku pada mulutnya yang menganga.
kita, masih perihal yang sama.
/2/ pada hampar tanah berumput kau bertanya padaku tentang sudut tentang kiri atau kanan, aku bingung memberi jawaban.
kemudian topiku diterbangkan angin, angin yang menggulung mendung, mendung yang menutupi gunung, gunung yang diam-diam aku ingin.
tak apa memang kita bisa apa? kita tak punya senjata bertikai melawan cuaca
kembali berjumpa, langit kini dan dulu tak ada bedanya.
/3/ di bawah pohon trembesi, kau tersandung paving tak rata, ingatanku seketika kembali pada bait puisi lama kita.
latar hayati, rerumputan dan tanah, tempat berpijak tampak basah tersapu sinar matamu yang tabah.
trembesi, bila kau tahu namanya trembesi, apakah kau terkenang sejarahmu sendiri? di bawahnya aku berdiri: meminta kanopi.
sendiri, tak sepertimu yang (pernah di sini) dikelilingi.
/4/ adalah taman dengan serumpun pohon pisang atau mekar bunga pohon kamboja yang tidak aku dekati, lantaran serupa senyum yang kau sebut, tak leluasa.
banyak senyum dan tawa kau bagi pada muram cuaca sementara gelebah bertingkah pada hatiku yang dirundung tanya : bagaimana jika hari itu terakhir kalinya?
bertemu denganmu berdiri di hadapanmu berbicara denganmu berjalan di sampingmu tertawa denganmu tersentuh kebaikanmu
semoga tidak sungguh, semoga tidak
ingatkah? sebelum sikap yang pemungkas kau sempat melarangku melihat atas padahal itu hanyalah burung-burung melintas.
aku tahu kau ingin aku menatapmu oh, tepatnya lingkar pandang itu tapi apa kau juga tahu keinginanku? sekadar kau mengingat letak demi letak atau jejak demi jejak, sebelum kita berjarak
K, 2025
Barat Daya
Sebelum kau disembunyikannya, sederet pohon menyekat kita.
Di tanganmu rahasia, kenangan lama berkarang bunga; melindap sekaligus menyingkap misteri hari, kita pernah bersitatap.
Barat daya, sebelum kau ke sana pertanyaanmu bernada cepat seolah tanya esok-lusa kepadaku, tak akan lagi sempat.
Tahukah kau, aku tergeragap?
Waktu menyentak, pikiranku mengilat, percakapan kita seperti kereta, melaju di rel yang jauh jarak antarbantalannya.
Referensi kota yang tak kuterima sebab tak familiar pada segala jalan dan wilayahnya hingga kota yang kuanggap dekat agar jarak kian merapat; tawa kita adalah kebahagiaan singkat.
Kemudian penghabisan, sebelum pamit terlontar dengan santun kau titip salam —sudah, sudah kusampaikan— dan meski tidak beliau katakan, aku tahu Bapak amat terkesan kepadamu.
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...