Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
ADA banyak cara membayangkan sebuah kota. Membayangkannya sebagai deretan mall dan lampu-lampu terang tapi bukan terang gaduh seperti lampu odong-odong, atau membayangkannya sebagai sebuah ruang di mana gagasan dan kegelisahan punya tempat untuk dirayakan.
Itulah kalimat pembuka dari diskusi "Menghidupkan Kota Melalui Festival" di Kedai De Kakiang, Singaraja, Rabu malam, 10 Juli 2025. Diskusi yang merupakan rangkaian dari program Road to Singaraja Literary Festival (SLF) 2025 menghadirkan tiga pembicara, yakni Made Adnyana Ole sebagai pendiri SLF dan pendiri tatkala.co, Kadek Sonia Piscayanti sebagai pendiri dan direktur SLF, dan Kardian Narayana sebagai pendiri Komunitas Singaraja Menonton dan manajer produksi SLF.
Sebelum bicara festival, Dinda Yudia, moderator, melempar kail pertanyaan, "Bagaimana kita semestinya mengimajinasikan sebuah kota, khususnya Singaraja?
Adnyana Ole mengawali dengan pandangan imajinasi tentang kota terbentuk dari riwayatnya. Untuk Singaraja, jejaknya sebagai bekas ibu kota Sunda Kecil di era kolonial meninggalkan imajinasi kuat tentang kota tua yang ramai dan menjadi pusat peradaban. Tapi ada imajinasi yang mendambakan Singaraja menjadi "New York" mini, penuh dengan mall, bioskop, dan gemerlap lampu. Di sisi lain, ada imajinasi yang merindukan Singaraja sebagai kota tua yang ramah, yang merawat bangunan kolonial dan sejarahnya.
“Kota dibangun dengan imajinasi kita, pemerintah punya imajinasi sendiri, pengusaha punya imajinasi lain, dan kita-kita ini punya imajinasi yang berbeda. Mana yang lebih kuat, itu yang akan bertahan,” ujarnya.

Diskusi "Menghidupkan Kota Melalui Festival" di Kedai De Kakiang, Singaraja, Rabu malam, 10 Juli 2025 | Foto: tatkala.co/Son
Sonia Piscayanti menawarkan perspektif yang lebih personal dan intim. Baginya, kota adalah definisi yang diciptakan oleh setiap individu di dalamnya. Sebagai seorang pegiat bahasa dan sastra, ia mengimajinasikan Singaraja sebagai kota yang berpikir (a thinking city), di mana diskusi dan puisi bertebaran di jalan-jalan.
“Saya tidak mau Singaraja itu tertidur dan menjadi kota yang malas berpikir," tegas Sonia. Baginya, SLF adalah upaya untuk membangunkan kota dari kemalasan berpikir dan memperbarui definisinya agar tidak tinggal menjadi sebuah nama.
”SLF lahir dari ketakutan itu. Kami ingin membangunkan Singaraja dari tidurnya,” tambah pendiri Mahima Institute Indonesia ini.
Sementara itu, Kardian Narayana, Founder Singaraja Menonton, mengimajinasikan Singaraja sebagai kota yang nyaman untuk berkarya. Kenyamanan ini bukan berarti sepi, tapi sebuah ruang kondusif untuk berpikir, berdiskusi, dan berproduksi.
”Bagaimana kota ini tetap sunyi, tapi secara ekonominya bertumbuh, orang-orangnya bertumbuh,” paparnya, merujuk pada potensi Singaraja menjadi lokasi produksi film yang menarik sineas luar, seperti halnya Thailand.
”Yang salah dari pikiran kita dalam membuat festival itu adalah menciptakan kerumunan,” kritik Ole. Menurutnya, festival adalah momen yang sengaja diciptakan sebagai etalase untuk memamerkan kekayaan dan potensi dari tema festival tersebut. Ia harus didasari oleh sebuah konsep dan kurasi yang ketat, ketimbang hanya mengikuti selera pasar.

Made Adnyana Ole | Foto: tatkala.co/Son
"Festival itu momen untuk menawarkan hal sehari-hari yang biasa kita lakukan atau bahkan yang tidak biasa kita lakukan, lalu kita kumpulkan menjadi satu di momen itu,” katanya. Menurutnya, momen tersebut menjadi wadah untuk merangkum dan merayakan segala upaya kreatif, upaya mempertahankan hidup, hingga usaha melestarikan tradisi dan kebiasaan.
Sonia Piscayanti menegaskan, sebuah festival merupakan panggung untuk menyuarakan gagasan ke khalayak yang lebih luas. Singaraja Literary Festival (SLF), secara khusus, menjadikan naskah-naskah lontar dari Gedong Kirtia sebagai jiwanya. Keunikan inilah yang menjadi pembeda sekaligus tawaran Singaraja kepada dunia.
"Kita ada kalau kita berbeda. Keunikan SLF adalah bagaimana ia mengambil lontar sebagai soul dari sastranya," ungkap Sonia.

Kadek Sonia Piscayanti | Foto: tatkala.co/Son

Dinda Ayudia | Foto: tatkala.co/Son

Kardian Narayana | Foto: tatkala.co/Son
Menurutnya, visi ini merupakan upaya untuk meneguhkan posisi Singaraja sebagai tuan rumah bagi kekayaan intelektualnya sendiri. Selama ini yang terjadi para peneliti justru harus ke Eropa untuk mendalami khazanah lontar Bali.
"Miris rasanya ketika kita harus belajar lontar ke Eropa. Mimpi kami adalah suatu saat orang dari seluruh dunia akan datang ke Singaraja untuk belajar lontar," imbuhnya.
Baginya, SLF bukanlah proyek sesaat. Dengan kecintaan yang mendalam pada sastra, tema-tema SLF telah dirancang untuk sepuluh tahun ke depan. "Ini adalah proyek jangka panjang yang lahir dari kecintaan pada sastra," katanya.
Kardian menambahkan dari sisi produksi, festival yang berkualitas akan memberikan dampak nyata. "Di festival seperti ini, kita bisa intimate. Bisa bertemu produser, bisa belajar hal baru seperti SLF tahun lalu. Itu ilmu yang bisa didapat, kalau kamu serius mengikuti SLF dari hari pertama sampai terakhir, saya yakin kamu jadi pintar,” guraunya, yang disambut tawa hadirin.
Ole memastikan dengan penegasan bahwa SLF adalah upaya nyata untuk mengisi julukan Singaraja sebagai Kota Pendidikan dan Kota Kreatif. ”Manfaatnya harus diambil. Kami menyediakan ruang, pembicara, dan gagasan,” ungkapnya.
SLF hadir berlangsung tiga hari (25-27 Juli 2025) ini tidak berhenti menjadi seremoni sesaat. Setelah festival, nyawanya terus dijaga lewat kegiatan Rabu Puisi, diskusi buku sepanjang tahun. ”Ini adalah upaya untuk terus menyebarkan virus literasi dan menjaga agar festival tidak padam setelah tiga hari perayaan,” tambahnya.

Foto bersama usai diskusi | Foto: tatkala.co/Son
Dampak nyata dipaparkan oleh Sonia. Ia dengan bangga menyebut bagaimana penulis Henry Manampiring terinspirasi menulis puisi pertamanya setelah datang ke SLF. Bagaimana festival ini melahirkan buku-buku baru dan menggerakkan jejaring penulis hingga tingkat Asia Pasifik. ”Semua yang datang di SLF tahun ini, kita memiliki alasan yang sangat kuat mengapa mereka hadir,” katanya.
Dari sisi produksi, Kardian menjelaskan bagaimana SLF mengajarkan timnya untuk lebih menghargai ruang dan sejarah. Mendesain panggung di Sasana Budaya yang merupakan cagar budaya menuntut timnya berpikir kreatif tanpa merusak estetika warisan masa lalu.
”Mendesain di Sasana Budaya itu berat. Kalau kamu jatuhin satu ukiran aja, ya kalau kita diproses secara hukum, kena kita nih,” ucapnya. [T]
Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Jaswanto
Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...