Sinar mentari menjemput gigil pagi Untuk para pengepul hari-hari Nun jauh di sana, tarian Bromo menguar harmoni
Rinai gerimis mengajariku tentang perjuangan diri Ingin menyejukkan bumi dari gelegak api Seakan hidup hanyalah demi mengabdi Entah berapa lama aku di sini
Deru angin menyelinap ke segenap penjuru Ikuti gemericik air yang terus melaju
Bukit dan bebatuan bersahutan Rindukan kebahagiaan Orang-orang pun berlarian Memburu hakikat ketenangan O Tuhan, nyalakan obor di tengah kegelapan
Bromo, 9/3/2024
Puncak Penanjakan
Pohon-pohon berbaris sepi Undang kabut di ketiak pagi Napas Penanjakan mengalun sunyi Cakrawala masih bercadar mimpi Akukah yang kau nanti Kala matahari mencumbui bumi
Puisiku perlahan mengalir senyap Endapkan rasa lalu merayap Namamu terasa sulit diucap Adakah wajahmu semanis edelweis Nyalakan memori hingga menembus langit berlapis Jurang kerinduan kian menganga Antara dua insan yang saling mendamba Kau dan aku berharap kepastian Alam pun siap mempersaksikan Nikmati suatu keindahan
Bromo, 9/3/2024
Gunung Batok
Gunung Batok terlihat kokoh berdiri Udaranya dingin me-refresh diri Nyanyian angin mengantarku ke ceruk masa silam Ususku beku dihimpit es batu semalam Namun puncakmu memancarkan kharisma Gagah dalam pekat warna
Begitulah panorama khas pegunungan Alam menghadirkan kuasa Tuhan Turun mendendangkan irama yang menakjubkan Orkestra itu sayup-sayup mengaliri kalbu Kapankah kutemui-Mu sepenuh rindu?
Bromo, 9/3/2024
Padang Sabana
Pesonamu sejauh mata memandang Alam terbentang kala hari belum terlalu siang Detik waktu terus berkejaran Antara bukit Teletubbies dan semburat kehidupan Nanar mata ini terbentur hijau rerumputan Gunung Bromo tampak tegak berpayung keemasan Sang surya begitu ceria memanjakan padang sabana Ayunan kaki terus menyusuri hamparan cakrawala Bergandeng tangan memburu rahasia Altar di kejauhan mengajakku ke jalan Tuhan Namun jejak langkah terbaca oleh awan Anggukan gerimis merobek peta perjalanan
Bromo, 9/3/2024
Pasir Berbisik
Pada pasir berbisik Ada irama nyaris tak berisik Sosok malaikat siap-siap membumi Ingatkan masaku tak lama lagi Rasa rindu untuk kembali
Berjuta pasir mengeluhkan embun Entah di mana dosa itu tertimbun Raut muka sang musafir hanya menemui jalan bebatuan Bagaikan kuda-kuda yang berlarian Ingin mengejar kekasih yang tak bertuan Sepotong tongkat Musa tiba-tiba memecah bebatuan Ingatkan waktuku tinggal sekian Kenangan hanyalah perjalanan, lalu membisikkan salam perpisahan
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...