Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
"Radhea, ke sini sebentar, Nak. Bantu dulu ibu metanding banten untuk besok," seru ibuku dari dapur, suaranya bercampur dengan aroma tum ayam.
Namaku Radhea, Ni Wayan Radhea Putri. Indah bukan? Sekarang usiaku sudah enam belas tahun. Besok merupakan Hari Raya Kuningan, rentetan dari Hari Raya Galungan, hari yang selalu kutunggu. Tak hanya karena suasananya yang meriah, atau aroma lawar dan sate yang begitu menggoda, tapi karena Juwita akan pulang.
Sudah lima tahun kami tidak bertemu. Dulu kami berdua seperti bayangan untuk satu sama lain. Duduk sebangku, pulang sekolah bersama, bahkan kami mengikuti latihan tari di sanggar yang sama. Ia harus pindah ke Jakarta mengikuti ayahnya, yang kini katanya menjadi direktur di perusahaan besar. Kabarnya Juwita pulang ditemani banyak pengawal, bak putri raja.
Aku masih menyimpan sebuah gantungan kunci yang ia berikan padaku. "Supaya kita tidak lupa," katanya waktu itu. Tapi mungkin aku terlalu naif, menganggap kenangan dapat menyambung jarak sejauh itu.
Beberapa tahun ini aku berusaha memperbaiki diri. Rambut yang dulunya lepek kini mulai terawat. Kacamata kutanggalkan kecuali di kelas. Aku bahkan mulai memakai skincare dasar yang kusembunyikan dari ibu agar tidak dikira bermewah-mewah.
Malam sebelum Kuningan, aku menulis di sebuah buku kecil. Menulis hal-hal yang akan kuceritakan pada Juwita. Tentang masa orientasi SMA saat aku bermain teater Kasih Tak Sampai dan menjadi pemeran utama. Tentang Samsul Bahri versi sekolahku, yang kini menjadi pacarku. Tentang sahabat baru yang diam-diam menyiapkan kejutan ulang tahun untukku. Mungkin aku akan bertanya apakah ia masih suka menonton film Korea, atau bahkan bagaimana keadaan sekolah di Jakarta.
Aku jadi tidak sabar mendengar ucapan dari mulutnya, "Aku sungguh rindu kamu, Dhe." Pasti itu akan sangat membuat rasa rinduku juga terobati. Tapi yang paling membuatku bersemangat adalah rencana kecil sore besok. Menonton Tari Gambuh bersama Juwita, seperti dulu sewaktu masih bersama. Di antara gemerincing gamelan dan aroma dupa, di petang yang menyimpan langit jingga begitu indah.
Ayam berkokok begitu riuh, menandakan waktu sudah pagi. Aku memulai pagiku dengan senyuman yang menghiasi wajahku. Aku membantu ibu sembahyang di area rumah. Di pura aku perhatikan setiap wajah yang datang. Beribu detik sudah ku lewati, namun Juwita tak kunjung datang. “Apa mungkin dia tidak sembahyang ke pura?” batinku.
Dalam gelisah aku bergegas pulang dan berganti pakaian. Lalu dengan nekat aku datang ke rumahnya. Rumah itu kini tampak begitu besar dan megah. Ada mobil mewah di garasi, taman penuh anggrek dan kupu-kupu yang beterbangan, seperti sebuah lukisan hidup.
Aku mendekat ke gerbang.
"Juwita ini aku, Radhea!" teriakku sembari melihat ke sana kemari mencari keberadaan Juwita. Seorang satpam mendekat, kemudian melarangku untuk masuk. Di balik tirai kaca, aku melihat sesosok gadis berdiri mengintip. Wajah Juwita, jelas. Ia sempat menoleh, dan pandangan kami sempat bertemu. Tapi ia membalikkan badan, dan kemudian menghilang di sana.
"Mungkin dia lelah... mungkin nanti sore kami akan menonton Tari Gambuh bersama," gumamku menolak percaya.
Sore tiba. Langit terlihat berwarna jingga, sangat cantik. Cahaya matahari tampak meredup. Suasana pura tempat pementasan Tari Gambuh sungguh meriah, aroma dupa menyeruak di tengah keramaian. Orang-orang berdatangan dengan pakaian adat madya, begitupun juga aku. Lama aku menunggu sendirian sembari menonton Tari Gambuh.
Penarinya mengenakan kostum yang sangat megah. Gerakannya khas, lambat, namun penuh makna. Diiringi lantunan gamelan. Pandanganku masih terpaku saat sorak penonton terdengar sedikit riuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Hingga dari kejauhan, segerombol pecalang tampak mengawal sebuah keluarga. Ketika wajah itu tampak jelas di antara kerumunan, aku sadar. Itu Juwita.
"Juwita! kemarilah dan menonton bersamaku," ucapku berteriak dan menghampirinya. Namun, langkahku dihentikan oleh para pecalang. "Juwita, ini aku, Radhea!" ulangku berteriak lebih keras, tapi ia tak menoleh sama sekali. Aku terus memanggilnya, namun ia tak menghiraukanku. Sedih untukku, rasanya begitu asing. Ternyata aku tidak cukup berarti untuk dikenang.
Aku berdiri membeku. Dunia di sekitarku masih terus bergerak, namun aku diam.
Akhirnya aku memilih menonton Tari Gambuh sendirian. Menikmati keramaian sendirian. Menikmati cerita yang ku siapkan sendirian. Terasa kosong. Hatiku begitu hampa. Tari Gambuh tetap berlangsung. Alunan gamelannya masih terdengar sama, tapi tak dapat menyentuhku seperti saat pertama.
Penari itu melangkah perlahan. Ia tidak tahu, seorang gadis di antara penonton sedang patah hati. Bukan karena cinta, tapi karena kenangan yang tak diakui. Aku duduk di antara puluhan manusia, menatap ke panggung, tetapi tidak benar-benar memperhatikan. Ragaku di sana, namun jiwaku entah dimana. Mungkin sedang menyusuri kenangan yang gagal menjadi kenyataan.
Malam datang menyapa, dinginnya angin menusuk kulitku. Pementasan telah usai. Orang-orang datang dengan senyum, pulang juga dengan senyum. Sedangkan aku? Aku datang dengan cerita, pulang juga dengan cerita yang tak sempat dimulai.
Sembari berjalan, aku teringat gerakan Tari Gambuh. Penarinya mengangkat tangan tinggi, lalu menunduk perlahan. Mungkin begitu juga aku harus belajar. Mengangkat kenangan, kemudian menguburnya dalam dengan perlahan. [T]
Penulis: Luh Aninditha Wiralaba
Editor: Made Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...