DENGAN jarak yang panjang sejak terbitnya buku puisi "Kalimah" tahun 2013, Muda Wijaya pada tahun ini kembali hadir menegaskan eksistensinya sebagai penulis puisi. Dengan melahirkan anak Ruhani dari kepenyairannya untuk panggung kesusastraan dengan nama Kardanis Mudawi Jaya.
Puisi-puisi "Belajar Mengaji Pada Ibu " merupakan kumpulan puisi terbaru Kardanis Mudawi Jaya bakal segera diluncurkan serta didiskusikan pada Rabu, 16 Juli 2025, di SD Muhammadiyah 2 Denpasar, Jalan Halmahera Denpasar, pukul 19.00 WITA.
Peluncuran dan diskusi ini digagas Lembaga Seni Budaya Muhammadiyah wadah Muda Wijaya kini bergabung bekerjasama dengan Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bali.
Menghadirkan Wayan Jengki Sunarta seorang sastrawan lengkap karya-karyanya seperti puisi, cerpen dan novelis sudah dibukukan sebagai
pembedah buku. Nama Jengki bukan orang baru di dunia kesustraan Bali. Ia kerap menjadi juri dan diundang dalam festival -festival baik regional nasional dan international. Di samping Jengki, ada perupa Tatang BSP yang akan memandu dan memantik diskusi. Tatang adalah, penulis senirupa yang karyanya sudah dipamerkan hingga manca negara.
"Belajar Mengaji Pada Ibu" adalah sebuah karya yang sangat personal dan reflektif, menandai kembalinya Kardanis Mudawi Jaya ke dunia penulisan puisi setelah melewati fase menikmati "kehidupan puisi" di sekitarnya. Puisi-puisi dalam buku ini, yang dihimpun dari arsip lama dan curahan hati di media sosial, menawarkan perspektif unik tentang interaksi manusia, pergulatan batin, dan hubungan mendalam dengan lingkungan sekitar.
Di dalam IFTITAH Kardanis Mudawi Jaya merupakan sebuah catatan pengantar Puisi-puisi ”Belajar Mengaji Pada Ibu" mengungkapkan. Bahwa Ibu, menjadi figur
perasaan yang kuat ke mana saya kembali memahami diri. Ibu adalah perasaan kuat serupa tanah air tempat saya menggali-gali kehidupan." Ungkapan ini menjadi inti dari keseluruhan buku, yang menggambarkan bagaimana sosok ibu, baik secara harfiah maupun metaforis, menjadi sumber inspirasi untuk memahami penderitaan, cinta, dan kekayaan kisah kehidupan di tanah air.
Dua buku puisi karya Muda Wijaya | Foto: Ist
Buku ini juga menjelajahi tema-tema universal seperti hubungan antara individu dengan diri sendiri dan orang lain, pengalaman mendidik anak-anak teater, hingga refleksi tentang kondisi bangsa dari sudut pandang pribadi. Setiap puisi adalah sebuah "suara" yang mencurahkan emosi perasaan, pemikiran yang mendalam.
"Belajar Mengaji Pada Ibu" mengundang para pembaca untuk menyelami interaksi manusia sesama manusia dalam berbagai bentuknya, dan bagaimana pengalaman-pengalaman ini pada akhirnya membentuk lingkungan serta menyentuh hubungan dengan Sang Pencipta. Buku ini tidak hanya sebuah kumpulan puisi,
tetapi juga sebuah jembatan emosional yang mengantarkan pembaca pada perenungan mendalam tentang eksistensi, kasih sayang, dan makna sejati dari "rumah."
Sementara itu, Ketua LSB Muhammadiyah Bali, Nanang Dhuha mengatakan peluncuran dan bedah buku ini merupakan ikhtiar LSB Bali dalam menguatkan dakwah kultural melalui penampilan kesenian.
"LSB Bali berkomitmen untuk mengarusutamakan dakwah kultural melalui seni yang salah satunya lewat bedah buku ini di samping sebagai apresiasi kepada seniman LSB yang telah melahirkan karya," ujar Nanang Dhuha. [T]
CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu dipadati penonton. Di tengah suasana he...
Di tengah gempuran media sosial, kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu cukup? Atau ketika semu...
SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari atas panggung. Berpadu dengan suara su...
Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin
Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui batas disiplin ilmu modern. Ke...
ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya tertinggal zaman, dan pe...
GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan nuansa mitologi. Pemimpin di desa a...
BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari pembahasannya, apalagi...
DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka hidup di era yang menuntu...
SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning. Sebagian pinggirnya kusut dimakan usia...