Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
DENGAN jarak yang panjang sejak terbitnya buku puisi "Kalimah" tahun 2013, Muda Wijaya pada tahun ini kembali hadir menegaskan eksistensinya sebagai penulis puisi. Dengan melahirkan anak Ruhani dari kepenyairannya untuk panggung kesusastraan dengan nama Kardanis Mudawi Jaya.
Puisi-puisi "Belajar Mengaji Pada Ibu " merupakan kumpulan puisi terbaru Kardanis Mudawi Jaya bakal segera diluncurkan serta didiskusikan pada Rabu, 16 Juli 2025, di SD Muhammadiyah 2 Denpasar, Jalan Halmahera Denpasar, pukul 19.00 WITA.

Peluncuran dan diskusi ini digagas Lembaga Seni Budaya Muhammadiyah wadah Muda Wijaya kini bergabung bekerjasama dengan Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bali.
Menghadirkan Wayan Jengki Sunarta seorang sastrawan lengkap karya-karyanya seperti puisi, cerpen dan novelis sudah dibukukan sebagai
pembedah buku. Nama Jengki bukan orang baru di dunia kesustraan Bali. Ia kerap menjadi juri dan diundang dalam festival -festival baik regional nasional dan international. Di samping Jengki, ada perupa Tatang BSP yang akan memandu dan memantik diskusi. Tatang adalah, penulis senirupa yang karyanya sudah dipamerkan hingga manca negara.
"Belajar Mengaji Pada Ibu" adalah sebuah karya yang sangat personal dan reflektif, menandai kembalinya Kardanis Mudawi Jaya ke dunia penulisan puisi setelah melewati fase menikmati "kehidupan puisi" di sekitarnya. Puisi-puisi dalam buku ini, yang dihimpun dari arsip lama dan curahan hati di media sosial, menawarkan perspektif unik tentang interaksi manusia, pergulatan batin, dan hubungan mendalam dengan lingkungan sekitar.
Di dalam IFTITAH Kardanis Mudawi Jaya merupakan sebuah catatan pengantar Puisi-puisi ”Belajar Mengaji Pada Ibu" mengungkapkan. Bahwa Ibu, menjadi figur
perasaan yang kuat ke mana saya kembali memahami diri. Ibu adalah perasaan kuat serupa tanah air tempat saya menggali-gali kehidupan." Ungkapan ini menjadi inti dari keseluruhan buku, yang menggambarkan bagaimana sosok ibu, baik secara harfiah maupun metaforis, menjadi sumber inspirasi untuk memahami penderitaan, cinta, dan kekayaan kisah kehidupan di tanah air.

Dua buku puisi karya Muda Wijaya | Foto: Ist
Buku ini juga menjelajahi tema-tema universal seperti hubungan antara individu dengan diri sendiri dan orang lain, pengalaman mendidik anak-anak teater, hingga refleksi tentang kondisi bangsa dari sudut pandang pribadi. Setiap puisi adalah sebuah "suara" yang mencurahkan emosi perasaan, pemikiran yang mendalam.
"Belajar Mengaji Pada Ibu" mengundang para pembaca untuk menyelami interaksi manusia sesama manusia dalam berbagai bentuknya, dan bagaimana pengalaman-pengalaman ini pada akhirnya membentuk lingkungan serta menyentuh hubungan dengan Sang Pencipta. Buku ini tidak hanya sebuah kumpulan puisi,
tetapi juga sebuah jembatan emosional yang mengantarkan pembaca pada perenungan mendalam tentang eksistensi, kasih sayang, dan makna sejati dari "rumah."
Sementara itu, Ketua LSB Muhammadiyah Bali, Nanang Dhuha mengatakan peluncuran dan bedah buku ini merupakan ikhtiar LSB Bali dalam menguatkan dakwah kultural melalui penampilan kesenian.
"LSB Bali berkomitmen untuk mengarusutamakan dakwah kultural melalui seni yang salah satunya lewat bedah buku ini di samping sebagai apresiasi kepada seniman LSB yang telah melahirkan karya," ujar Nanang Dhuha. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah/Rilis
Editor: Jaswanto
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...