Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata “ODGJ” atau orang dengan gangguan jiwa? Mungkin sebagian langsung membayangkan seseorang yang mengamuk, bicara sendiri di jalanan, atau dikurung di kamar gelap karena dianggap berbahaya.
Imaji ini sudah terlalu lama menempel dalam budaya kita—membentuk stigma yang sulit dibongkar.
Padahal, banyak penyintas gangguan jiwa—termasuk depresi, bipolar, bahkan skizofrenia—yang berhasil pulih dan hidup produktif. Saya menulis ini bukan hanya sebagai wartawan, tetapi juga sebagai penyintas skizofrenia paranoid yang pertama kali didiagnosis pada tahun 2009.
Saya mulai bekerja sebagai wartawan pada 2008, saat masih kuliah. Meskipun hanya sebentar, itu menjadi awal dari karier jurnalistik yang saya lanjutkan secara aktif sejak 2015 hingga sekarang. Selama bertahun-tahun saya menjalani terapi, minum obat, dan menghadapi stigma yang tak kalah berat dari gejala medis itu sendiri. Tapi saya tidak menyerah. Saya memilih untuk kembali menulis, bekerja, dan membuktikan bahwa pulih itu mungkin.
Yang menyedihkan, stigma terhadap ODGJ tidak hanya datang dari masyarakat umum, tetapi juga dari kalangan terdidik. Termasuk dari sesama wartawan.
Saya sering mendengar kabar bahwa riwayat penyakit saya masih menjadi bahan pembicaraan di kalangan jurnalis, terutama di Denpasar, Bali. Anehnya, pembicaraan itu sering berdampingan dengan apresiasi atas karya-karya saya di bidang jurnalistik, esai, dan puisi.
Buku-buku karya Angga Wijaya(penulis)
Saya tak menuntut semua orang paham sepenuhnya soal kesehatan mental. Tapi ketika orang yang telah pulih, stabil, dan terbukti produktif tetap dipertanyakan kapasitasnya hanya karena label "ODGJ", maka di situlah saya sering bertanya; mengapa begitu sulit mempercayai bahwa orang dengan gangguan jiwa bisa pulih?
Saat berbincang dengan dr. I Putu Dharma Krisna Aji, Sp.KJ, seorang psikiater dan penulis buku, ia mengatakan bahwa konsep kesembuhan dalam dunia psikiatri tidak pernah bersifat absolut.
“Kalau kamu terus tumbuh, berarti kamu terus berubah. Kalau kamu berubah, berarti kamu belum selesai. Kalau belum selesai, mungkin kamu belum sembuh. Tapi bisa juga, justru itulah proses kesembuhan itu sendiri,”ujarnya.
Saya sangat memahami pernyataan itu. Kesembuhan bukan berarti kita 100% terbebas dari masa lalu. Tapi bagaimana kita bisa mengenali diri, mengelola gejala, dan hidup berdampingan dengan kenyataan—itulah yang disebut pulih.
Banyak orang masih menganggap bahwa “sembuh” berarti lepas total dari obat dan terapi. Padahal, seperti halnya penderita diabetes atau hipertensi, minum obat bisa menjadi bagian dari hidup, bukan penanda bahwa seseorang masih “sakit”.
Sejak awal 2018 hingga kini (2025), saya telah menerbitkan 15 buku—terdiri dari 8 kumpulan puisi dan 7 kumpulan esai dan artikel. Beberapa buku itu saya tulis dalam kondisi mental yang stabil, dengan disiplin dan kesadaran penuh terhadap proses kreatif saya.
Karya-karya tersebut telah mendapat apresiasi dari para kerabat dan sahabat, bahkan juga dari beberapa penulis senior di Bali, yang mengakui saya sebagai penyair, esais, dan wartawan Bali yang sangat produktif. Bagi saya, ini adalah bentuk kemenangan kecil atas label yang pernah dipasang pada diri saya.
Saya tidak menulis untuk menjadi hebat. Saya menulis untuk tetap hidup.
Buku kumpulan puisi terbaru, 'Meditasi Telepon Genggam'
Stigma yang dilekatkan pada ODGJ sering bersumber dari ketidaktahuan. Banyak orang berpikir bahwa gangguan jiwa adalah sesuatu yang "selamanya rusak". Karena itu, ketika ada penyintas yang kembali bekerja, bersosialisasi, bahkan menghasilkan karya, mereka justru dicurigai.
Lebih dari itu, penyintas sering kali harus menyembunyikan riwayat penyakitnya agar bisa diterima di lingkungan kerja. Ini ironi besar: ketika seseorang jujur, dia dicurigai. Ketika dia menyembunyikan, dia dianggap normal.
Saya percaya bahwa kita perlu mengubah cara pandang terhadap gangguan jiwa. Mulai dari tidak lagi memandangnya sebagai akhir, melainkan sebagai tantangan yang bisa dihadapi dengan pengobatan, dukungan sosial, dan keyakinan pada diri sendiri.
Dr. Krisna Aji juga mengatakan bahwa harapan besar justru datang dari generasi muda, terutama Gen-Z, yang kini lebih terbuka membicarakan isu kesehatan mental. Tapi, sayangnya, mereka masih sering terhambat oleh sikap orang tua yang tidak mau mendengar.
“Banyak anak datang ke saya, terapi sendiri, tanpa sepengetahuan orang tua. Lalu ketika saya minta orang tuanya ikut, mereka menolak. Padahal akarnya justru di sana,” ujarnya.
Ini memperlihatkan bahwa stigma tidak hanya soal pendidikan formal, tapi juga soal cara generasi terdahulu memahami luka batin. Banyak trauma diturunkan, tanpa disadari, dari orang tua ke anak.
Sebagai wartawan saat mewawancarai aktris Putri Ayudya, 2018 | Foto: Gus Baruna
Saya ingin menegaskan sekali lagi, bahwa, ODGJ bisa pulih. Tapi untuk bisa kembali hidup normal, kami tak hanya butuh obat dan terapi. Kami juga butuh kepercayaan—dari lingkungan kerja, keluarga, masyarakat, dan media.
Masyarakat harus berhenti melihat penyintas ODGJ sebagai bom waktu. Sebaliknya, lihatlah mereka sebagai manusia yang telah melalui proses berat, bangkit, dan bertahan. Itu bukan kelemahan. Itu kekuatan.
Saya bukan satu-satunya yang berhasil. Ada banyak orang di luar sana—penyintas bipolar, penyintas depresi berat, penyintas PTSD—yang kini hidup mandiri, menikah, bekerja, berkarya. Tapi sayangnya, suara mereka sering tidak terdengar karena tenggelam dalam stigma yang menutup telinga banyak orang.
Saya menulis esai ini untuk membuka pintu kecil di benak Anda. Jika suatu saat Anda bertemu seseorang yang pernah mengalami gangguan jiwa dan kini terlihat baik-baik saja, jangan buru-buru menilai. Jangan buru-buru mengingat masa lalunya. Lihatlah apa yang telah ia capai hari ini.
Mungkin Anda tak pernah tahu, berapa keras ia berjuang untuk sampai ke titik itu. [T]
Penulis adalah penyintas skizofrenia paranoid, wartawan, penyair, dan esais asal Jembrana, Bali. Telah menulis 15 buku sejak 2018, dan aktif bekerja sebagai wartawan sejak 2015.
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...