Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
BAYANGKANLAH ini: di tengah derasnya arus dunia yang digerakkan oleh kecerdasan buatan dan teknologi mutakhir, Indonesia berdiri sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia—284,44 juta jiwa per pertengahan 2025. Lebih dari 68 persen di antaranya berada dalam usia produktif, usia yang seharusnya menjadi mesin penggerak pembangunan dan peradaban.
Kita menyebutnya sebagai "bonus demografi".
Namun pertanyaan yang harus kita renungkan bersama adalah: apakah bonus ini akan menjadi berkah emas, atau justru berubah menjadi jebakan generasi (l)emas—yang terjebak dalam ilusi dan lupa arah?
Setiap bangsa punya mimpinya. Indonesia punya Indonesia Emas 2045—tahun ketika kita genap 100 tahun merdeka dan diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi global. Tapi di balik ambisi itu, angka-angka menyimpan tanda tanya yang mendesak.
7,28 juta orang menganggur, dan 17,3% pemuda usia 15–24 tahun tak memiliki pekerjaan. Sebanyak 1 dari 5 anak muda Indonesia bahkan masuk kategori NEET—tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak menjalani pelatihan apa pun.
Apakah ini wajah generasi emas yang kita bayangkan?
Kita hidup di zaman yang serba cepat—AI mengambil alih pekerjaan, algoritma menentukan tren, dan robot tidak pernah minta THR. Tapi sistem pendidikan kita masih sering bergelut dengan kurikulum yang lebih fokus pada hafalan daripada keterampilan hidup. Dunia sudah masuk ke era prompt engineering, tapi anak-anak kita masih diuji dengan metode cocokkan jawaban A, B, C atau D.
Di sisi lain, sistem politik kita terlalu sering sibuk merapikan tampilan luar, tetapi lupa membenahi fondasi: kejujuran, meritokrasi, dan arah kebijakan jangka panjang yang berpihak pada generasi muda.
Lalu di ruang budaya, kita punya segalanya—nilai, seni, bahasa, cerita nenek moyang. Tapi hari ini, semua itu lebih sering jadi latar belakang estetika Instagram daripada bahan renungan dalam membentuk karakter bangsa. Kita kehilangan kedalaman, padahal justru di situlah akar kekuatan kita.
Di satu sisi, kecerdasan buatan membawa harapan. Ia mampu mendeteksi penyakit lebih cepat, menciptakan efisiensi kerja, dan membuka model bisnis baru. Tapi AI juga membawa risiko besar bagi mereka yang tak sempat—atau tak sempat disiapkan—untuk beradaptasi.
Pekerjaan-pekerjaan dengan skill rendah dan menengah akan hilang. Bahkan profesi kreatif pun mulai digantikan oleh algoritma. Jika hari ini generasi muda tidak membekali diri dengan soft skill, literasi digital, dan mental pembelajar seumur hidup—maka mereka bisa jadi penonton di rumah sendiri.
Menjadi generasi emas bukan soal usia muda atau jumlah banyak. Ia tentang:
- Memiliki kompas moral di tengah gempuran disinformasi.
- Mampu bekerja lintas budaya dan kolaborasi global.
- Tangguh dalam menghadapi disrupsi, dan tetap manusiawi saat mesin mulai menguasai ruang kerja.
Rhenald Kasali mengingatkan pentingnya self-driving generation—generasi yang tidak sekadar menunggu peluang, tapi menciptakannya. Pendidikan kita harus melatih keberanian, ketangguhan, dan kemandirian.
Najwa Shihab menyuarakan pentingnya narasi. Ia mengajarkan bahwa generasi muda harus bisa bicara, berpikir, dan menulis dengan etis. Bukan sekadar viral, tetapi bernilai. Bukan hanya cerewet di media sosial, tapi juga berani turun tangan untuk perubahan sosial.
Merry Riana memberikan semangat khasnya: “Jangan cuma bertahan hidup. Tapi hidup yang penuh makna.” Hidup ini bukan tentang menghindari gagal, tapi tentang berani mencoba.
Kita punya peluang, tapi juga risiko. Kita punya jumlah, tapi belum tentu daya. Kita hidup di negeri yang kaya, tapi kita harus memastikan jiwanya tak miskin nilai.
Generasi (L)emas bukan sekadar nama, tetapi panggilan. Jika kamu membaca ini dan merasa gelisah, itu baik. Artinya hatimu masih hidup. Artinya, kamu bisa memulai langkah kecil untuk sesuatu yang besar.
Karena Indonesia Emas 2045 tidak akan hadir karena pidato pejabat atau janji kampanye. Ia akan hadir lewat keringat, ide, dan keberanian anak muda hari ini.
Mari kita menjadi generasi yang tidak hanya lahir di era emas, tapi layak dikenang karena menjadikannya kenyataan.
Bangkit. Bergerak. Buktikan. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...