I Wayan Dede Putra Wiguna (22) tidak menyelesaikan kuliahnya dengan menulis skripsi. Ia memilih jalan lain, yaitu menulis buku. Bukan novel, bukan kumpulan puisi, melainkan buku berita kisah (feature) berjudul “Bersama Seni di Sukawati”. Isinya 14 tulisan tentang kehidupan dan kesenian di kampung halamannya, Sukawati, Gianyar.
Buku “Bersama Seni di Sukawati” ia ajukan sebagai tugas akhir dalam bentuk proyek inovatif di program studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali). Proyek ini dibimbing dua dosen yang juga jurnalis, I Made Sujaya dan I Made Adnyana, serta dimentori sastrawan dan wartawan senior, Gde Aryantha Soethama.
“Para penguji sudah mengatakan layak, tapi ada beberapa catatan penyempurnaan dan perbaikan. Saya akan segera menyempurnakan buku ini agar layak terbit dan bisa dinikmati semua kalangan,” kata Dede.
Lahir di Guwang, Sukawati, pada 18 November 2002, Dede adalah anak sulung dari dua bersaudara. Sejak awal kuliah, ia aktif di berbagai kegiatan. Ia pernah menjabat Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Jurnalistik UPMI Bali periode 2023–2024 dan Koordinator Bidang Penalaran dan Keilmuan BEM UPMI Bali (2022–2024). Kini, ia menjadi Wakil Ketua Forum Generasi Berencana (GenRe) Kota Denpasar periode 2023–2025.
Sesi foto bersama dengan para penguji ǀ Foto: Agus Sukmadana
Dede juga aktif menjadi kontributor di media daring seperti tatkala.co, balinggih.com, dan musikbali.com. Ia terlibat dalam sejumlah buku kolektif, seperti antologi “Romantika di Kampus Mahadewa” diterbitkan Mahima Institute (2022), dan salah satu penulis book chapter “Dari Kejahatan Berbahasa Hingga Bentrok Tafsir: Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya dalam Aneka Perspektif” diterbitkan Pustaka Larasan (2024).
Pencapaiannya tak berhenti di situ. Ia pernah meraih Juara III Lomba Penulisan Puisi dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2024. Sebelumnya, ia juga terpilih sebagai winner Duta GenRe Kota Denpasar 2022 dan masuk 10 besar Duta GenRe Provinsi Bali di tahun yang sama.
Buku "Bersama Seni di Sukawati" (kanan) karya Dede
Lewat buku kumpulan berita kisah “Bersama Seni di Sukawati”, Dede menulis tentang orang-orang yang hidup dekat dengan seni: pematung, pelawak, perajin, kelompok seni, pedagang pasar, hingga penjaga warung. Semua ia tulis berdasarkan pengamatan langsung, wawancara, dan pengalaman lapangan.
Baginya, buku ini bukan sekadar syarat kelulusan, tetapi salah satu cara untuk merekam kehidupan yang selama ini ia saksikan di tanah kelahiran. Dede ingin mencatat sebelum cerita-cerita itu hilang atau terlupakan. Kendati demikian, ia sadar bukunya belum sempurna, dan belum bisa mewakili seluruh wajah seni Sukawati. Tapi, ia percaya setiap cerita dan upaya mengisahkan tetap punya nilai.
“Menulis buku ini membentuk cara pandang baru terhadap pentingnya mendengarkan, mengamati, dan merangkai kisah dari kehidupan nyata. Setelah ini saya akan menambah beberapa tulisan tentang kolektivitas dan dinamika sosial, agar buku ini lebih kaya serta bisa mewakili topik utama, yaitu Sukawati sebagai bumi seni,” ujarnya.
Dede saat melakukan presentasi (30/6/25) ǀ Foto: Agus Sukmadana
Dede melihat tugas akhir berbasis proyek ini sebagai ruang untuk mengembangkan minat, bakat, serta portofolio yang nyata. Ia berharap pilihan ini bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain.
“Dengan karya inovatif seperti ini, mahasiswa punya nilai tambah saat memasuki dunia kerja. Ini adalah bentuk nyata dari merdeka belajar,” katanya.
Buku “Bersama Seni di Sukawati” direncanakan terbit akhir Juli atau awal Agustus mendatang. Setelah itu, publik bisa menikmati kisah-kisah yang ditulis Dede dengan sepenuh hati.
Setelah bukunya diujikan dan dinyatakan lulus pada 30 Juni 2025 lalu, Dede merasa lega, dan ia berkomitmen untuk terus menulis. Baginya, masih banyak cerita lain yang menunggu untuk dikisahkan, baik dari Sukawati maupun dari tempat-tempat lain. Komitmennya tidak berhenti pada feature, tapi juga esai, cerpen, puisi, dan berbagai bentuk karya kreatif lainnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana Editor: Adnyana Ole
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...