Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Jantra Tradisi Bali ke-5 yang berisi permainan tradisional Bali serangkaian dengan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 diwarnai dengan semangan anak-anak muda. Ratusan anak-anak muda terlibat dalam kegiatan permainan dan olahraga tradisional yang berlangsung di sebelah timur Lapangan Timur UPTD. Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Jumat 4 Juli 2025. Jantra ini diawali dengan Murtirupa (Demonstrasi) Mejaran-jaranan yang dilakukan oleh Komunitas Permainan Tradisional Banyuning, Kabupaten Buleleng. Setelah itu, semangat para duta kabupaten dan kota di Bali mengikuti Lomba Tajog, Deduplak dan Terompah.
Kabid Tradisi dan Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Ida Bagus Alit Suryana mengatakan, Jantra hari ini, selain melombakan olahraga tradisional, juga diisi dengan murtirupa demontrasi kepada Kelompok Jaran Jaranan dari Buleleng. Permaian tadisional yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. “Pelaksanannya terkait dengan Perda 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayan, sehingga di dalam Jantra Tradisi Bali itu ada olahraga tradisional, pemainan rakyat, pengetahuan tradisional dan pengobatan tradisional,” jelasnya.
Tujuan kegiatan ini, untuk memupuk rasa persaudaraan, menyama braya, saling membantu secara gotong royong dan bertanggung jawab, khususnya bagi generasi muda yang ikut dalam tim lomba ini. Sementara untuk demonstrasi, besok juga menghadirkan permainab tradisional “Megandu” dari Kabupaten Tabanan yang juga telah ditatapkan sebagai WBTB Indonesia. “Kegiatan ini sesungguhnya untuk mendapatkan ruh bergembira, mencari teman, melesrarikan permainan lewat kegembiraan dan nyama braya, baru kemudian prestasi,” sebut Ida Bagus Alit Suryana.

Mejaran-jaranan
Pelaksanaan Jantra Tradisional tahun 2025 ini, sangat antusias kabupaten dan kota untuk mengirim pesertanya. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kali ini pesertanya semakin banyak dan lebih meriah. Hal itu, larena mereka telah merasakan manfaat olahraga tradisional ini dalam memupuk rasa kebersamaan, gotong royong di kalangan generasi muda. “Di dalam Jantra ini ada banyak kegiatan. Sebelumnya telah melaksankan lomba membuat layang-layang, dekorasi pintu depan, kali ini olahraga tradisional dan berikutnya serasahen pada tanggal 8 dan 9 Juli,” pungkasnya.
Kepala Bidang Tradisi dan Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Ni Nyoman Indrawati mengatakan, untuk lomba Jantra Tradisional Bali tahun ini, Pemerintah Kabupaten Badung mengikuti semua materi. Untuk hari ini mengikuti 3 katagori lomba, seperti Tajog putra, deduplak putra dan terompah putri. Sementara, untuk besok mengikuti lomba hadang putri. “Kami sudah melakukan persiapa sejak awal, karena kegiatan ini sangat penting bagi perkembangan anak,” ucapnya.
Jantra ini diawali dari Komunitas Permainan Tradisional Banyuning melakukan demonstrasi Mejaran-jaranan yang melibatkan anak-anak muda, sebagai pendukung penuh semangat memperagakan setiap peran yang ada dalam warisan leluhur itu. Permainan ini diawali dengan menentukan 2 kelompok, masing masing kelompok terdiri 8 orang antara lain 1 orang sebagai penunggang, dan 2 orang sebagai kuda. Sementara 2 orang sebagai pelana dan 3 orang pelindung di bagian belakang. Selanjutnya, permainan Mejaran Jaranan ini dipimpin oleh satu orang sebagai wasit.
“Permainan ini membutuhkan ketangkasan dan kecerdikan bagi si penunggang karena mereka akan melakukan Gulat (mejengke) di atas kuda, dan pemenangnya ditentukan berdasarkan posisinya pada saat bergulat, kalau posisi dibawah berarti kalah, dan kalau posisi di atas berarti menang,” kata Komonitas Paermainan Tradisional Banyuning, Nyoman Mulyawan.
Mejaran jaranan merupakan permainan tradisional khas Desa Banyuning yang dilaksanakan setelah pelaksanaan piodalan Ageng di Pura Gede Pemayun pada hari Bude Kliwon Ugu. Selama 5 hari berbagai jenis permainan akan di lakukan di madya mandala dan di nista mandala. “Permainan Mejaran Jaranan ini bisa dilakukan dari berbagai kalangan, mulai dari anak anak, remaja, hingga orang dewasa,” ucapnya.

Deduplak
Mulyawan mengatakan, permainan Mejaran Jaranan ini berawal dari persiapan pelaksanaan piodalan ageng di Pura Gede Pemayun banjar banyuning tengah desa adat banyuning, persiapan piodalan ageng biasanya memakan waktu cukup panjang antara sebulan sampai dua bulan. Mulai dari ngayah mereresik, perbaikan sarana dan prasarana upakara yang dilaksanakan secara gotong royong yang lebih sering disebut ngayah.
Kegiatan ngayah di Pura Gede Pemayun terkadang tidak menentu kadang pagi, siang, sore dan bahkan bisa sampai mekemit (tidur di pura). Pada sore dan malam hari inilah parmainan tradisi ini dilakukan oleh anak anak, teruna-teruni, dan yang sudah dewasa ikut juga melakukannya. Di Pura Gede Pemayun tempat barmain atau mepelalian dilakukan di madya mandala (jabe tengah ) untuk orang dewasa dan di nista mandala ( jabe sisi ) untuk anak anak.
Permainan yang dilakukan mulai dari meselodor-selodoran, sepur-mundur, mecolekan sirah, tempeng gandong, batu tumpuk lima, meunti untian, serta mejaran jaranan. Permaiann itu kebanyakan dilakukan oleh para remaja dan dewasa. “Permainan mejaran jaran itu permainan yang menitik beratkan pada keseimbang, ketangkasan dan kecerdikan penunggang melihat situasi lawan,” ungkap Memet, sapaan akrabnya.
Namun, permainan ini juga memiliki resiko yang sangat tinggi, kemungkinan jatuh merupakan resiko yang paling tinggi oleh karena itu diusahakan permainan ini dilakukan pada tempat yang tidak membahayakan seperti di lapangan padang rumput atau lapangan bartanah liat.

Lomba tajog
Pada tahun 90 -an permainan ini jarang dilakukan setelah halaman madya mandala dan nista mandala Pura Gede Pemayun dipasangi paving blok dengan alasan agar warga yang datang melakukan persembahyang tidak kotor karena lumpur pada musim penghujan. “Permainan yang masih dilakukan saat itu adalah permainan sepur mundur dan mepantigan (bergulat) endut atau lumpur,” kenangnya.
Mengingat, permainan mejaran jaranan ini memiliki berbagai manfaat, Memet kemudian mulai menghidupkan kembali. Mejaran jaranan kemudian mendapatkan undangan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bangli untuk ikut memeriahkan HUT Kabupaten Bangli tahun 2017 dalam bentuk seni pertunjukan dengan memakai iringan Bleganjur. Setelah itu di tampilkan lagi pada acara HUT Kota Singaraja. “Pada tahun 2018 permainan tradisinal Mejaran-jaranan di daftarkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB),” sebutnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...