Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
WAKTU adalah usia kehidupan, sebagai medan eksistensi manusia, dan merupakan tempat ia berlindung dan menetap, tempat ia dapat memberi manfaat kepada orang lain dan tempat ia diambil manfaatnya oleh orang lain (Luluul Wardah, 2018).
Banyak nasihat, nikmat, yang harus kita syukuri dalam satu kurun episode hidup yang sudah kita lewati. Waktu banyak mengajarkan pada kita untuk sabar, bijak, saling menghargai, dan berterimakasih pada lingkungan, habitat kita, wabil khusus pada orang-orang yang membuat kita hadir dan masih berdiri tegak sampai hari ini.
Renungan tentang bagaimana kita menggunakan waktu yang terbatas dan pentingnya hidup dengan tujuan, karena waktu berlalu begitu cepat dan banyak orang tidak menyadarinya hingga terlambat.
Jangan sepelekan waktu, eksplorasilah segala ruang ketika kita diberikan waktu dan kesempatan. Ketika waktu terbuang hanya penyesalan, kehilangan, dan kesadaran akan waktu yang telah terbuang. Bagaimana kita menggunakan waktu dan mendorong untuk hidup lebih sadar dan bermakna.
Para alim, seniman, filsuf, juga diri saya yang pandir ini, banyak berpandangan perihal perjalanan waktu, seperti dalam lagu “Time” dan "Old and Wise", dari The Alan Parsons Project, dan juga “Time” dari Pink Floyd, yang membahas tentang penerimaan terhadap usia, dan waktu yang berlalu, serta pentingnya persahabatan dan kenangan yang telah terukir dalam hidup.
Liriknya menyoroti bagaimana kita cenderung lebih menghargai waktu dan hubungan ketika menghadapi perpisahan atau saat menua. Lirik lainnya menggambarkan perjalanan waktu yang tak terhindarkan dan bagaimana kita belajar untuk menerima perubahan yang terjadi seiring bertambahnya usia.
Melakukan refleksi dan bernostalgia dalam mengarungi hidup yang penuh misteri soalwaktusaatnya kita kembali, penting kita mengenang kembali masa lalu dan merenungkan hubungan yang pernah dijalani, di berbagai dimensi ruang sosial yang komplek.
Seperti pentingnya persahabatan sejati dan kenangan indah yang dibagikan dengan orang lain, bahkan ketika hubungan tersebut berakhir. Artinya betapa banyaknya orang-orang yang terlibat dalam memenuhi waktu kita.
***
Demikian besar peranan waktu dalam hidup ini, menurut keyakinan saya sebagai Muslim maha pentingnya waktu yang diberikn oleh-Nya, Allah Subhanahuwata’ala berkali-kali bersumpah dengan menggunakan kata yang menunjukkan waktu-waktu tertentu seperti kata wa al-layl (demi waktu malam), wa al-nahār (demi waktu siang), wa al-subẖ (demi waktu subuh), wa al-fajr (demi waktu fajar), wa al-dhuha (demi waktu dhuha), wa al- ‘ashr (demi waktu ashar). Enam kali Allah bersumpah demi waktu, menandakan betapa penting bersyukurnya kita yang masih diberi waktu untuk hidup beraktivitas, berkarya dengan tujuan semata beribadah kepadaNya.
Untuk menegaskan pentingnya waktu dan keagungan nilainya, seperti yang terdapat dalam al-Qur’an Surat Al-Lail [92]: 1-2, demi malam apabila menutupi (cahaya siang), demi siang apabila terang benderang, Al-Fajr [89]: 1-2, demi fajar, demi malam yang sepuluh, Adh-Dhuha [93]:1-2, demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Al-‘Ashr [103]: 1-3, demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran
Allah SWT, memulai surat al-‘Ashr dengan bersumpah wa al-‘ashr (demi masa), untuk membantah anggapan sebagian orang yang mempersalahkan waktu dalam kegagalan mereka. Tidak ada sesuatu yang dinamai masa sial atau masa mujur, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang. Dan inilah yang berperan di dalam baik atau buruknya akhir suatu pekerjaan, karena masa selalu bersifat netral. Kata ‘ashr memberi kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja memeras keringat dan pikiran (M. Quraish Shihab,2000).
Waktu, pada hakikatnya dia sedang mengurangi makna hidupnya. Bahkan, kesengsaraan manusia bukan karena berkurangnya harta, tetapi karena membiarkan waktu berlalu tanpa makna. Seperti melakukan kegiatan yang tidak produktif (terlalu banyak menonton TV atau bermain game, membuka media sosial tanpa tujuan yang jelas), menunda-nunda pekerjaan, terlalu banyak mengeluh,banyak bergosip,atau terlalu banyak terlibat dalam hal-hal yang tidak penting.
Jangan waktu kita terbuang percuma, seperti menunggu sesuatu atau seseorang, dan tidak mengejar impian. Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan orang yang tidak memberikan dampak positif, dapat membuat terjebak dalam zona nyaman dan tidak berkembang. Menyia-nyiakan waktu dapat berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan, seperti; Kualitas hidup menurun, pekerjaan terbengkalai, hubungan sosial memburuk Kesehatan akan terganggu.
Waktu sebagai sesuatu yang terus berjalan dan tidak dapat dihentikan, seperti sungai yang mengalir ke laut. Menyoroti kesadaran bahwa waktu adalah sumber daya yang terbatas dan tidak bisa dikembalikan. Waktu yang sudah berlalu tidak mungkin kembali lagi. Setiap tahun yang telah berlalu, bulan yang lalu, pekan yang lalu, bahkan menit yang lalu, tidak mungkin bisa dikembalikan.
Inilah yang disampaikan oleh al Hasan al-Basriy; “Tidak ada satu haripun yang menampakkan fajarnya kecuali ia akan menyeru “Wahai anak Adam, aku adalah harimu yang baru, yang akan menjadi saksi atas amalmu, maka carilah bekal dariku, karena jika aku telah berlalu aku tidak akan kembali lagi hingga Hari Kiamat”( Luluul Wardah, 2018).
Dan saya pun sedang berjalan menambah usia, menempuh waktu, demi waktu. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...