‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BALI, pulau yang sering dijuluki sebagai “surga dunia”, kini tampak semakin lelah dimata saya. Lelah karena dipuja dan dieksploitasi secara berlebihan. Lelah karena keindahannya dijadikan komoditas tanpa henti. Di balik pesona pantai, pura, dan budaya yang memesona, Bali menyimpan luka yang semakin dalam. kemacetan, polusi, overkapasitas, infrastruktur dasar, dan terpinggirkannya masyarakat lokal di tanah kelahirannya sendiri.
Menanggapi isu terbaru seperti pembangunan bandara di Bali utara, saya sebenarnya setuju dengan ide pemerataan pembangunan, termasuk rencana pembangunan Bandara sebagai media pemerataanya. Secara konsep, itu langkah bijak untuk mengurangi beban di Bali Selatan dan memberi kesempatan bagi wilayah utara untuk tumbuh. Tapi satu hal yang tak boleh dilupakan, jangan ulangi kesalahan yang sama. Jangan lagi memeras Bali tanpa mempertimbangkan keberlangsungan alamnya, serta kesejahteraan manusianya. Pembangunan tak boleh lagi semata-mata bertumpu pada logika pertumbuhan ekonomi, tapi juga pada keberlanjutan hidup dan keadilan sosial.
Rasanya berat jika mengatakan bahwa saya mewakili kebanyakan, tapi setidaknya saya merasa bahwa Bali semakin sesak. Macet hampir di setiap sudut, sampah menumpuk, dan harga tanah maupun kebutuhan hidup melambung tinggi. Warga lokal yang seharusnya menjadi tuan rumah di tanah sendiri justru makin tersingkir. Mereka bukan lagi aktor utama, melainkan penonton dari skenario pariwisata besar yang lebih banyak menguntungkan investor dan pemilik modal.
Sebagai seseorang yang saat ini tinggal di Malaysia, saya bisa merasakan bedanya. Malaysia, hingga kuartal pertama 2025, mencatat kunjungan wisatawan internasional sebanyak 10,1 juta orang, tertinggi dari negara ASEAN lainnya melansir laporan Bangkok Post. Sementara Indonesia, yang sebagian besar kunjungannya terkonsentrasi di Bali, hanya mencatatkan 2,74 juta wisatawan. Ironisnya, meski jumlah wisatawan di Malaysia jauh lebih tinggi, kesan overcrowded nyaris tak terasa. Itu karena distribusi destinasi yang merata, kebijakan yang lebih terarah, dan penataan kota yang lebih berpihak pada kualitas hidup, bukan sekadar angka turis.
Saya juga sudah lelah melihat pemerintah. Terkadang, rasanya terlalu melelahkan berharap dari mereka. Setiap kali krisis muncul seperti kemacetan, infrastruktur rusak, overkapasitas, konflik lahan, polusi, hingga pemiskinan warga lokal, jawaban yang muncul hanya sebatas wacana. Padahal waktu terus berjalan, dan Bali semakin lelah. Bali tidak akan bertahan hanya dengan promosi, festival, dan pembangunan hotel baru. Ia butuh kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan dan tindakan yang tegas.
Pahami bahwa Bali bukan sumberdaya tak terbatas, baik secara ekologis, sosial, maupun kultural. Kalau Bapak Ibu para pejabat melakukan studi tiru, tirulah Bhutan. Bhutan menetapkan kuota wisatawan demi menjaga keaslian dan keseimbangan lingkungannya, Bali juga perlu mulai mengatur batasan jumlah kunjungan. Ini bukan anti-wisatawan, tapi bentuk cinta pada pulau ini agar tidak runtuh karena beban berlebih. Perbanyak pula pengembangan konsep Community-based Tourism seperti yang sukses dilakukan di Desa Penglipuran. Hakikatnya pariwisata harus kembali ke tangan rakyat. Saat ini, terlalu banyak vila, restoran, dan resor dimiliki oleh segelintir orang. Hal ini penting supaya Tri Hita Karana tidak jadi sekadar motto yang digemborkan sebagai basis pembangunan Bali menjelang musim kampanye.
Sadari juga jika masyarakat adalah ujung tombak penjaga Bali. Banyak wisatawan datang ke Bali hanya untuk bersenang-senang, tanpa memahami nilai budaya dan batas-batas ekologisnya. Agen perjalanan, pengelola akomodasi, dan pihak bandara bisa ambil peran lebih aktif dalam mengedukasi turis sejak awal kedatangan. Kesadaran kolektif perlu dibentuk, agar tidak hanya warga Bali yang memikul beban konservasi.
Saya lelah melihat Bali terus diperas. Saya lelah melihat pemerintah yang hanya pandai membuat slogan tapi lumpuh saat diminta tindakan. Saya lelah melihat warga lokal yang semakin terdesak di tanahnya sendiri. Tapi lebih dari itu, saya takut. Takut suatu hari nanti, Bali yang kita cintai hanya akan tinggal cerita, tempat yang dulu begitu hidup, nanti hanya dikenang sebagai surga yang dibunuh oleh keserakahan dan kelambanan. Sinyal-sinyal itu mulai ada. [T]
Penulis: Made Wahyu Mahendra
Editor: Adnyana Ole
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...