ADA satu kalimat yang kerap hadir dalam pelipur duka manusia: “Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan kita.” Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan mungkin terkesan klise di telinga mereka yang sedang berada dalam pusaran penderitaan. Namun justru karena kesederhanaannya, kalimat ini menyimpan hikmah yang dalam—jika kita mau berhenti sejenak dan memikirkannya.
Ujian hidup bukanlah tanda kebencian, melainkan undangan untuk bertumbuh. Setiap kesulitan, kehilangan, atau luka batin yang datang, tidaklah hadir untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan. Seperti halnya otot yang perlu ‘robek’ terlebih dahulu agar bisa tumbuh lebih kuat, begitu pula jiwa manusia: ia ditempa oleh kesakitan, diasah oleh cobaan, dan dibentuk oleh waktu.
Namun dalam kenyataan, semangat dan rapuh kerap datang silih berganti. Hari ini kita merasa kuat, besok merasa kosong. Hari ini yakin segalanya akan baik-baik saja, besok dilanda cemas yang tak beralasan. Maka wisdom atau kebijaksanaan yang dapat menyelamatkan kita bukan terletak pada menjadi selalu kuat, tetapi pada kesediaan untuk terus kembali berdiri setiap kali jatuh. Bukan kekuatan tanpa jeda yang membuat kita bertahan, melainkan kerendahan hati untuk menerima bahwa menjadi manusia memang secara kodrati ada naik dan turun—secara emosi hati, pikiran serta jiwa—dan itu bukan kelemahan, itulah keindahan dari perjalanan iman dan jiwa.
Tentu, ada masa di mana kita merasa tak sanggup. Namun, justru di situlah letak rahasianya. “Kemampuan” bukan hanya tentang seberapa kuat kita hari ini, tetapi tentang potensi besar yang tersembunyi dalam diri kita—yang hanya akan muncul ketika keadaan memaksanya keluar. Tuhan tidak menilai kita dari kapasitas yang sudah terlihat, tetapi dari daya tahan dan daya juang yang belum kita sadari kita miliki.
Lihatlah kembali ke masa lalu. Ada masa ketika kita pun pernah berkata: “Aku tidak akan sanggup melewati ini.” Tapi lihatlah, kita telah melaluinya. Mungkin dengan air mata, dengan letih, dengan tertatih-tatih. Tapi kita tidak hancur. Kita bertahan. Bahkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dalam, lebih mengerti arti hidup, dan lebih bijaksana.
Maka ketika ujian datang, alih-alih bertanya “Mengapa aku?”, mungkin lebih bijak jika kita bertanya: “Apa yang sedang Tuhan percayakan padaku?” Karena sesungguhnya, setiap ujian adalah bentuk kepercayaan. Tuhan tahu kita mampu, bahkan saat kita sendiri meragukannya.
Dan bukankah kepercayaan yang datang dari Tuhan—Zat yang Maha Mengetahui dan Maha Cinta—adalah hal paling mulia yang bisa kita terima dalam hidup ini? [T]
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara membutuh...
SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran International Automodified (...
Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu panggung, keindahan kimono...
KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I Gede Lecir dan adiknya, I Made Geta...
SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka Fine Art Gallery, Gianyar, yang terletak di Jl. Pro...
KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan telinga seakan terpikat oleh keselarasan ekspresi (...
Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari. Itu pun jari kiri. Saya tidak tahan dengan k...
LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada.
Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol, lubang di setiap pengunci pintu, dan l...
Pelancong Gersang
Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah.
Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,mema...
"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah."
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Singaraja, ia dapat m...