Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
ADA satu kalimat yang kerap hadir dalam pelipur duka manusia: “Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan kita.” Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan mungkin terkesan klise di telinga mereka yang sedang berada dalam pusaran penderitaan. Namun justru karena kesederhanaannya, kalimat ini menyimpan hikmah yang dalam—jika kita mau berhenti sejenak dan memikirkannya.
Ujian hidup bukanlah tanda kebencian, melainkan undangan untuk bertumbuh. Setiap kesulitan, kehilangan, atau luka batin yang datang, tidaklah hadir untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan. Seperti halnya otot yang perlu ‘robek’ terlebih dahulu agar bisa tumbuh lebih kuat, begitu pula jiwa manusia: ia ditempa oleh kesakitan, diasah oleh cobaan, dan dibentuk oleh waktu.
Namun dalam kenyataan, semangat dan rapuh kerap datang silih berganti. Hari ini kita merasa kuat, besok merasa kosong. Hari ini yakin segalanya akan baik-baik saja, besok dilanda cemas yang tak beralasan. Maka wisdom atau kebijaksanaan yang dapat menyelamatkan kita bukan terletak pada menjadi selalu kuat, tetapi pada kesediaan untuk terus kembali berdiri setiap kali jatuh. Bukan kekuatan tanpa jeda yang membuat kita bertahan, melainkan kerendahan hati untuk menerima bahwa menjadi manusia memang secara kodrati ada naik dan turun—secara emosi hati, pikiran serta jiwa—dan itu bukan kelemahan, itulah keindahan dari perjalanan iman dan jiwa.
Tentu, ada masa di mana kita merasa tak sanggup. Namun, justru di situlah letak rahasianya. “Kemampuan” bukan hanya tentang seberapa kuat kita hari ini, tetapi tentang potensi besar yang tersembunyi dalam diri kita—yang hanya akan muncul ketika keadaan memaksanya keluar. Tuhan tidak menilai kita dari kapasitas yang sudah terlihat, tetapi dari daya tahan dan daya juang yang belum kita sadari kita miliki.
Lihatlah kembali ke masa lalu. Ada masa ketika kita pun pernah berkata: “Aku tidak akan sanggup melewati ini.” Tapi lihatlah, kita telah melaluinya. Mungkin dengan air mata, dengan letih, dengan tertatih-tatih. Tapi kita tidak hancur. Kita bertahan. Bahkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dalam, lebih mengerti arti hidup, dan lebih bijaksana.
Maka ketika ujian datang, alih-alih bertanya “Mengapa aku?”, mungkin lebih bijak jika kita bertanya: “Apa yang sedang Tuhan percayakan padaku?” Karena sesungguhnya, setiap ujian adalah bentuk kepercayaan. Tuhan tahu kita mampu, bahkan saat kita sendiri meragukannya.
Dan bukankah kepercayaan yang datang dari Tuhan—Zat yang Maha Mengetahui dan Maha Cinta—adalah hal paling mulia yang bisa kita terima dalam hidup ini? [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...