Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
ADA satu kalimat yang kerap hadir dalam pelipur duka manusia: “Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan kita.” Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan mungkin terkesan klise di telinga mereka yang sedang berada dalam pusaran penderitaan. Namun justru karena kesederhanaannya, kalimat ini menyimpan hikmah yang dalam—jika kita mau berhenti sejenak dan memikirkannya.
Ujian hidup bukanlah tanda kebencian, melainkan undangan untuk bertumbuh. Setiap kesulitan, kehilangan, atau luka batin yang datang, tidaklah hadir untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan. Seperti halnya otot yang perlu ‘robek’ terlebih dahulu agar bisa tumbuh lebih kuat, begitu pula jiwa manusia: ia ditempa oleh kesakitan, diasah oleh cobaan, dan dibentuk oleh waktu.
Namun dalam kenyataan, semangat dan rapuh kerap datang silih berganti. Hari ini kita merasa kuat, besok merasa kosong. Hari ini yakin segalanya akan baik-baik saja, besok dilanda cemas yang tak beralasan. Maka wisdom atau kebijaksanaan yang dapat menyelamatkan kita bukan terletak pada menjadi selalu kuat, tetapi pada kesediaan untuk terus kembali berdiri setiap kali jatuh. Bukan kekuatan tanpa jeda yang membuat kita bertahan, melainkan kerendahan hati untuk menerima bahwa menjadi manusia memang secara kodrati ada naik dan turun—secara emosi hati, pikiran serta jiwa—dan itu bukan kelemahan, itulah keindahan dari perjalanan iman dan jiwa.
Tentu, ada masa di mana kita merasa tak sanggup. Namun, justru di situlah letak rahasianya. “Kemampuan” bukan hanya tentang seberapa kuat kita hari ini, tetapi tentang potensi besar yang tersembunyi dalam diri kita—yang hanya akan muncul ketika keadaan memaksanya keluar. Tuhan tidak menilai kita dari kapasitas yang sudah terlihat, tetapi dari daya tahan dan daya juang yang belum kita sadari kita miliki.
Lihatlah kembali ke masa lalu. Ada masa ketika kita pun pernah berkata: “Aku tidak akan sanggup melewati ini.” Tapi lihatlah, kita telah melaluinya. Mungkin dengan air mata, dengan letih, dengan tertatih-tatih. Tapi kita tidak hancur. Kita bertahan. Bahkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dalam, lebih mengerti arti hidup, dan lebih bijaksana.
Maka ketika ujian datang, alih-alih bertanya “Mengapa aku?”, mungkin lebih bijak jika kita bertanya: “Apa yang sedang Tuhan percayakan padaku?” Karena sesungguhnya, setiap ujian adalah bentuk kepercayaan. Tuhan tahu kita mampu, bahkan saat kita sendiri meragukannya.
Dan bukankah kepercayaan yang datang dari Tuhan—Zat yang Maha Mengetahui dan Maha Cinta—adalah hal paling mulia yang bisa kita terima dalam hidup ini? [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...