17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
ADA satu kalimat yang kerap hadir dalam pelipur duka manusia: “Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan kita.” Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan mungkin terkesan klise di telinga mereka yang sedang berada dalam pusaran penderitaan. Namun justru karena kesederhanaannya, kalimat ini menyimpan hikmah yang dalam—jika kita mau berhenti sejenak dan memikirkannya.
Ujian hidup bukanlah tanda kebencian, melainkan undangan untuk bertumbuh. Setiap kesulitan, kehilangan, atau luka batin yang datang, tidaklah hadir untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan. Seperti halnya otot yang perlu ‘robek’ terlebih dahulu agar bisa tumbuh lebih kuat, begitu pula jiwa manusia: ia ditempa oleh kesakitan, diasah oleh cobaan, dan dibentuk oleh waktu.
Namun dalam kenyataan, semangat dan rapuh kerap datang silih berganti. Hari ini kita merasa kuat, besok merasa kosong. Hari ini yakin segalanya akan baik-baik saja, besok dilanda cemas yang tak beralasan. Maka wisdom atau kebijaksanaan yang dapat menyelamatkan kita bukan terletak pada menjadi selalu kuat, tetapi pada kesediaan untuk terus kembali berdiri setiap kali jatuh. Bukan kekuatan tanpa jeda yang membuat kita bertahan, melainkan kerendahan hati untuk menerima bahwa menjadi manusia memang secara kodrati ada naik dan turun—secara emosi hati, pikiran serta jiwa—dan itu bukan kelemahan, itulah keindahan dari perjalanan iman dan jiwa.
Tentu, ada masa di mana kita merasa tak sanggup. Namun, justru di situlah letak rahasianya. “Kemampuan” bukan hanya tentang seberapa kuat kita hari ini, tetapi tentang potensi besar yang tersembunyi dalam diri kita—yang hanya akan muncul ketika keadaan memaksanya keluar. Tuhan tidak menilai kita dari kapasitas yang sudah terlihat, tetapi dari daya tahan dan daya juang yang belum kita sadari kita miliki.
Lihatlah kembali ke masa lalu. Ada masa ketika kita pun pernah berkata: “Aku tidak akan sanggup melewati ini.” Tapi lihatlah, kita telah melaluinya. Mungkin dengan air mata, dengan letih, dengan tertatih-tatih. Tapi kita tidak hancur. Kita bertahan. Bahkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dalam, lebih mengerti arti hidup, dan lebih bijaksana.
Maka ketika ujian datang, alih-alih bertanya “Mengapa aku?”, mungkin lebih bijak jika kita bertanya: “Apa yang sedang Tuhan percayakan padaku?” Karena sesungguhnya, setiap ujian adalah bentuk kepercayaan. Tuhan tahu kita mampu, bahkan saat kita sendiri meragukannya.
Dan bukankah kepercayaan yang datang dari Tuhan—Zat yang Maha Mengetahui dan Maha Cinta—adalah hal paling mulia yang bisa kita terima dalam hidup ini? [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...