Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Kulihat tubuh uwakku, Salit Penur, di tungku perapian. Mataku tak lepas dari tubuhnya dalam jilatan api. Membakar kain yang membungkus tubuhnya, rambut, daging, dan tubuhnya.
Rasaku, kadang menjadi api, yang membakar, menjadi kayu-kayu yang terbakar, menjadi tubuh yang terbakar, menjadi asap, yang kadang hitam, kelabu, dan putih. Kadang tak terlihat terhirup orang-orang, pohon-pohon, dan lenyap dalam ruang dan waktu.
Saat mata kanak-kanakku melihat kematian, aku menjadi jasad yang dijilat api perapian. Rasaku berontak.
"Panas, panas.. ," igauku dalam mimpi tidurku di malam yang panjang.
"Ha ha ha… !" Tawa uwakku, masih tersimpan dalam denyar telingaku, memberi rasa riang.
Elusan tangan lembutnya yang mengucak- ngucak kepalaku, masih menyamankan. Sentuhan rasa sayang yang memekarkan keberanian, semangat, melahirkan bahagia, yang terkatakan.
Kulihat kematian ibu, dalam satu embusan nafas, yang merontokkan seluruh keangkuhanku.
"Ternyata kita hanya bergantung pada satu hembusan nafas," batinku lemas, tak berdaya.
Terbayang keangkuhan-keangkuhanku selama ini. Merasa pintar, berpengetahuan, kritis dengan pertanyaan-bertanyaan tak terjawab, lihai menjawab dan tangkas berargumentasi..
Jiwaku jatuh, tersungkur.
Malam setelah upacara pengabenan ibu, kurasakan kekosongan, aku menangis.
Tapi hatiku menyejek, tertawa sinis pada air mata yang merembes ke luar.
"Kau menangisi siapa? Mengasihani siapa? Ibumu? Untuk apa?" Hatiku malah mentertawakan dan mengejek tangisanku.
"Kau menangisi dirimu sendiri karena sudah tak punya ibu, yang bisa kau peluk, kau cium, kau ajak bercerita, kau egois…," kata batinku , menghentikan tangisku.
Aku tersenyum, mengutuki keegoisanku sendiri.
Kulihat, kudengar dan kurasakan kematian-kematian, guru, saudara, teman, sahabat, orang-orang, binatang- binatang, pohon-pohon.
Pada kematian binatang dan pohon-pohon aku berontak.
"Binatang dan pohon juga punya satu nyawa seperti kita, kenapa harus membunuh," kataku dalam hati saat teman-teman dengan mudah membunuh semut atau nyamuk yang inggap di dekatnya. Tapi hanya dalam hati.
Kupahami, sehembus nafas yang pergi dengan cara dan jalannya sendiri-sendiri. Oleh orang lain, mahluk lain, atau dirinya sendiri.
"Guru kami bisa melihat jalan kematiannya sendiri. Setelah merasakan sakit dalam tubuhnya yang berkepanjangan, beliau memilih pergi, kembali ke alam brahman. Beliau melihat jalan nafasnya yang pergi dari jiwa, menuju ubun-ubun dengan mata membelalak, " cerita salah seorang muridnya.
Aku hanya mendengar, mencoba memahami. Ingatanku kembali pada pertemuan dengan almarhum penglingsir puri Ubud, yang bercerita tentang ajaran ayahnya.
"Kematian itu adalah perginya atma, nafas sejati dari tubuh. Kepergian nafas dari mulut akan dirasakan agak sakit oleh tubuh, kepergian dari hidung lebih tidak sakit dan kepergian nafas dari ubun-ubun paling tidak sakit. Itu adalah kematian yang paling tenang," cerita penglingsir itu.
Aku berterima kasih pada penglingsir Ubud yang telah mengajarkan tentang nafas yang menjadi dasar pengetahuanku untuk memahami cara-cara dan jenis-jenis kematian manusia.
"Kematian karena kecelakaan, atau bunuh diri, mungkin nafasnya keluar lewat darah dari tubuh yang terluka, sehingga oleh leluhur Bali, dibuatkan upacara 'pengulapan', pemanggilan roh, yang tercecer di jauh dari jasadnya," pikirku.
Pernah kulihat kematianku, jazadku dimandikan di mrajan (tempat suci keluarga Hindu Bali) rumahku, sejenak aku merasa aneh.
"Mrajan adalah tempat suci, kematian atau jasad dianggap kotor dan mengetori," logikaku tak bisa terima.
Sungguh aku tak mengerti dan habis mengerti sehingga aku merasa layak untuk menanyakannya pada penguasa mrajan.
Kubuat persembahan sebisanya, buah dan bunga, sembari kutanya maknanya, dan apa yang bisa kulakukan.
Tak ada jawaban, hanya yang kulihat samar-samar dalam cahaya matahari seekor ikan berwarna putih dalam samudra.
Namaku dipersembahkan oleh seorang perempuan tua pertapa di Pantai Parang Tritis.
Lempengan mengkilat bertulis namaku naik turun dalam ombak lautan. Kulihat sebuah batu bertuliskan namaku dan sebuah upacara pengabenan atau pembakaran mayat, yang dipersiapkan pada hari otonanku (wetonku).
Sungguh aku tak tahu dan tak mengerti.
Aku hanya bisa berdoa, berterima kasih dan minta maaf pada penguasa pantai.
Pantai Selatan membawaku ke Pantai Utara Bali, sebuah tempat yang disebut Kuburan Jayaprana, di Teluk Terima Buleleng.
Tempat berbukit, dipenuhi batu-batu besar yang ditumbuhi pohon-pohon besar, seperti sebuah alam yang berbeda.
Ada bayang-bayang pasangan-pasangan para pendeta brahmana.
"Mereka seperti berkemah, menginap, bertapa di atas batu-batu besar, " simpulku.
Di atas, tempat orang-orang bersembahyang aku agak kaget, ternyata yang disebut kuburan Jayaprana adalah sebuah lingga yang ditutupi kain dan isi patung laku perempuan.
"Lingga adalah sarana pemujaan pada Dewa Siwa, para pendeta yang menginap itu sedang memuja Siwa. Kenapa disebut kuburan Jayaprana?" Berbagai tanya dalam kepalaku.
Kulihat kematian seorang suci yang membakar sendiri badan kasarnya, menitipkan energi-energi murninya pada lingga, pada batu-batu, genta tongkat, ketu, rambut, jejak tangan dan kaki serta pada keturunan-keturunannya.
Kulihat kematian, seseorang yang tak mati, tak mati- mati. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...